Potret Kepemimpinan dan Kepribadian Thoriqul Haq, Portofolio Kader PMII Paripurna

oleh -dibaca 3447 orang

Rasa-rasanya, baru lima hari lalu Cak Thoriq memimpin Kabupaten Lumajang. Tidak terasa, ternyata lima tahun sudah berlalu dan Cak Thoriq kini kembali menjadi masyarakat sipil.

Meminjam konstruksi berfikir tokoh intelektual terkemuka, Rocky Gerung. Lima tahun bisa berarti lima hari bagi mereka yang menunggu kepastian, lima tahun juga bisa berarti lima abad bagi mereka yang menunggu ketidakpastian. Dan jarak ukur itu yang hendak kami ulas dalam tulisan dibawah ini.

A. Profil Kepemimpinan

Dari sekian banyak playmaker politik muda di PMII, Dr. H. Thoriqul Haq, S.Ag., M.ML selalu memiliki tempat VVIP bagi kader-kader PMII.

Figurnya yang teladan dan multitalenta nyaris tidak pernah gagal dalam meminang atensi kader untuk menyedekahkan jempolnya di platform media sosial bernama “Thoriqul Haq”.

Penulis sendiri merasa bangga pernah memimpin kapal besar PC PMII Lumajang saat Cak Thoriq menjabat sebagai Bupati Lumajang.

Representasi kepemimpinan yang lahir dari gemblengan PMII memang tidak pernah mengecewakan, terutama dalam aktualisasi nilai-nilai ke-PMII-an dalam wujud “publik policy” yang berorientasi pada kemakmuran dan keadilan sosial.

Bagi penulis, Cak Thoriq adalah kader yang ditempa oleh dua episode sejarah. Pertama adalah sejarah saat dia berada di ladang tandus demokrasi yaitu era otoritarianisme orde baru yang memaksa para aktivis kala itu untuk belajar lebih, berjuang lebih, berjejaring lebih dan bersiasat lebih untuk tujuan kolektif yaitu reformasi.

Kedua, Cak Thoriq memimpin saat era revolusi industri berkembang pesat yang segala kebutuhan manusia dominan telah difasilitasi oleh internet dan digitalisasi.

Dua sejarah ini menjadi faktor terbentuknya Thoriqul Haq saat ini, yang tidak hanya tampil penuh inovasi tetapi juga penuh sensasi, mampu berkomunikasi dengan lintas kelas sosial bahkan dia telah menjadi portofolio pemimpin muda di Jawa Timur yang banyak disukai masyarakat.

Hal ini diperkuat dengan hasil riset yang dilakukan oleh Cakra Nusantara berkolaborasi dengan Beritabaru.co ditengah masa pandemi covid-19 pada bulan November-Desember 2021 lalu, menempatkan Sahabat Thoriqul Haq sebagai Kepala Daerah paling berpengaruh di Jawa Timur dengan presentase 19,3 persen, unggul dibandingan dengan Bupati Trenggalek, H. Mochamad Nur Arifin di peringkat kedua dengan presentase 9,2 persen.

Perubahan paling prinsipil dari kepemimpinan Cak Thoriq adalah transformasi kepemimpinan yang eksklusif menjadi inklusif. Mulai dari desain rumah Dinas atau pendopo Arya Wiraraja yang awalnya tertutup menjadi terbuka, Alun-alun yang tertutup menjadi terbuka, memberi arti bahwa setiap fasilitas yang disediakan untuk pemerintah juga bisa dinikmati oleh masyarakat luas.

Kemudian, membuat kanal aduan masyarakat di platform facebook bernama “Lapor Lumajang” yang fungsinya untuk menyerap aspirasi seluas-luasnya yang darinya secara cepat OPD-OPD bersangkutan langsung menindaklanjutinya.

Dua hal diatas membawa perubahan besar terhadap wallpaper pemerintahan di Kabupaten Lumajang hingga saat ini.

B. Pemimpin Penuh Sensasi

“Jangan pernah tunduk oleh realitas-realitas semu yang diciptakan, kita harus menciptakan realitas-realitas baru yang lebih baik. Karena kemenangan tidak jatuh dari langit, tapi dijemput dengan paksa.” Muhaimin Iskandar.

Barangkali, manifestasi dari ungkapan tersebut adalah Cak Thoriq. Ungkapan yang menjadikan aktivis sebagai indikator tercapainya sebuah agenda perubahan besar yang dicita-citakan.

Pengalaman sebagai aktivis reformasi menjadi semangat utama dalam melakukan lompatan-lompatan program pembangunan. Keterampilan politik yang memadai menjadikannya sebagai pemimpin yang kali pertama melakukan banyak pembaharuan model kerja pemerintahan di Kabupaten Lumajang, lebih aspiratif, tanggap dan berintegritas.

Cak Thoriq paham bahwa menjadi pimpinan politik tidak cukup hanya sekedar yang penting substantif, melainkan juga mampu mengemas pelayanan publik dengan penuh sensasional. Substansi yang dikombinasikan dengan sensasi akan menjadi kebijakan yang menyenangkan dan memorable.

Searah dengan pendapat Fahri Hamzah, pejabat publik tidak cukup hanya sekedar merakyat, tapi harus terlihat merakyat. Tidak cukup hanya sekedar bekerja, tapi harus terlihat bekerja. Tidak cukup hanya sekedar memiliki keberpihakan, tapi harus tampak berpihak.

Itu sebabnya seluruh kegiatan-kegaitan pemerintahan maupun non pemerintahan selalu dipublikasikan di berbagai platform media sosial. Dari start inilah, nama Lumajang banyak dikenal oleh masyarakat luas di seluruh Indonesia.

Sensasi berikutnya pernah mengemuka kala PC PMII Lumajang menggelar aksi demonstrasi pada 11 April 2022 lalu. Dengan isu kenaikan harga minyak, wacana 3 periode masa jabatan Presiden, kelangkaan pupuk dan sengkarut tambang pasir di Kabupaten Lumajang.

BACA JUGA:   Membaca Realitas PCNU Lumajang Jelang Satu Abad NU

Di momen itu, penulis sempat berkoordinasi dengan Cak Thoriq melalui pesan WhatsApp. Normatif saja, menyampaikan informasi bahwa PMII hendak menggelar aksi demonstrasi dengan isu-isu di atas. Dan PMII juga turut mengundang Bupati, Ketua DPRD dan Kapolres sebagai representasi dari pemerintahan.

Sedangakan dari sisi demonstran, penulis sampaikan juga turut mengundang organisasi kepemudaan, komunitas ojek online, representasi kalangan emak-emak dan komunitas petani. Waktu itu kebetulan bertepatan dengan bulan Ramadhan sehingga penulis berfikir bahwa aksi kali ini bakal menjadi sorotan publik karena momentumnya tepat.

Saat demonstrasi berlangsung cukup hangat, tiba-tiba Cak Thoriq datang dari arah matahari terbenam dengan kameramen yang sudah mendapatkan angle dokumentasi yang bagus.

Setelah dipersilahkan masuk dihalaman Pemkab, dialog berlangsung cukup tertib. Suasana penyampaian aspirasi nyaris bukan seperti aksi-aksi demonstrasi pada umumnya yang orator menyampaikan orasinya dengan meledak-ledak dengan preferensi menyudutkan pemerintah.

Justru yang terjadi seperti forum serap aspirasi yang dialognya cukup jenaka dan penuh sensasional. Terdapat momen yang mungkin menjadi puncak sensasi yang bisa menjadi kesimpulan penilaian masyarakat terhadap kepemimpinan Cak Thoriq. Yaitu saat orator aski menyampaikan aspirasi terkait jalan poros desa yang rusak akibat dilintasi oleh truk armada pasir yang sebenarnya dalam regulasi tidak diperbolehkan.

Banyak masyarakat yang lantas geram karena ketika armada pasir tersebut melintasi jalan pedesaan mengemudi dengan kecepatan tinggi hingga beberapa kali terjadi laka. Apa yang terjadi? Cak Thoriq justru menantang para demostran berani menggerakkan masyarakat setempat untuk berjuang bersama, berkomitmen bersama membangun portal penghadang bagi truk armada pasir yang muatannnya melebihi kapasitas tonase.

Hasilnya terjadi kesepakatan untuk menindaklanjuti aksi tersebut dalam waktu dekat. Dan massa aksi pulang dengan hati was-was, kalau-kalau masyarakat tidak satu frekuensi, atau khawatir akan ada intimidasi dan persekusi dari para mafia tambang.

Namun ketika tidak ada aktualisasi dari mahasiswa, implikasinya adalah respon publik negatif terhadap PMII dan itu akan mempengaruhi integritas gerakan-gerakan PMII selanjutnya.

Yang terjadi selanjutnya adalah, Cak Thoriq berhasil membangun opini baru. Bahwa asumsi publik yang berkembang selama ini ketika ada kegiatan demonstrasi umumnya akan beranggapan ada yang tidak beres dari pemerintahan.

Dengan rekayasa sosial dan manajemen aksi yang terancang matang, biasanya masyarakat mendukung penuh aksi-aksi yang dipelopori oleh mahasiswa. Karena dianggap gerakan yang paling idealis. Tetapi tidak pada saat itu. Justru yang terjadi sebaliknya. Masyarakat balik mem-bully massa aksi, dicibir dan dimaki, intinya menuai stigma di masyarakat.

Netizen beranggapan bahwa diluar sana banyak orang yang memimpikan Bupati seperti Cak Thoriq, tetapi tidak bisa. Diluar sana banyak yang kagum dengan kepemimpinan Cak Thoriq kok malah kalian demo, ulas mereka.

Cak Thoriq berhasil memikat hati khalayak. Sehingga dia memiliki proteksi organik yang ketika ada kelompok atau individu menyerangnya, kelompok organik ini akan membelanya mati-matian. Yang padahal penulis yakin, kebanyakan dari mereka belum pernah bertemu langsung dengan Cak Thoriq. Mirip buzzer, tapi ini organik bukan mekanik.

Meskipun demikian, substansi dari aksi tetap ada, implementasi dari tuntutan aksi tetap terealisasi dengan baik. Berjarak tiga hari kemudian setelah aksi tersebut, PMII bersama masyrakat melakukan aski blokade jalan yang melibatkan tiga desa yang bersangkutan yaitu Desa Wotgalih, Desa Tunjungrejo dan Desa Yosowilangun Kidul.

Kemudian Cak Thoriq hadir memimpin diskusi antara masyarakat dengan para sopir truk serta menjadi problem solver dari keluhan-keluhan masyarakat selama ini tentang jalan yang rusak akibat dilewati truk armada pasir.

Selang satu minggu setelah itu, portal penghalang sudah dipasang, jalan di aspal kembali melalui program “Ngapling” atau ngaspal keliling dan truk armada pasir sudah tidak melintasi jalan poros desa melainkan poros Kabupaten sebagaimana seharusnya.

C. Kepribadian Yang Hangat

Ada peristiwa lucu sekaligus mengesankan yang pernah penulis alami bersama Cak Thoriq, memberi impresi yang sangat mendalam.

Di suatu momen, pada tahun 2021 silam, ada calon anggota baru PMII yang hendak meminta surat rekomendasi kepada Pengurus Cabang untuk mengikuti MAPABA. Karena komisariat belum definitif akhirnya surat rekomendasi tersebut harus dikeluarkan oleh PC PMII.

BACA JUGA:   Tergodakah NU…?

Singkat kisah, calon anggota tersebut mendapatkan kontak WhatsApp penulis dari salah satu senior yang ternyata kontak yang diberikan adalah nomornya Cak Thoriq. Tentu tanpa curiga dan analisis yang mendalam dia langsung kontak penulis yang sebenarnya adalah Cak Thoriq, karena memang nama kontaknya sudah diedit terlebih dahulu menjadi nama penulis, pesan yang disampaikan normal-normal saja layaknya pesan junior ke seniornya.”

Assalmualaikum Cak, saya fulan dari Komisariat persiapan ingin minta surat rekomendasi dari PC untuk mengikuti MAPABA,” ungkap kader tersebut membuka chat WA.

“Waalaikumsalam. Iyaa. Semangat yaa,” jawab Cak Thoriq menjawab dengan santainya.

Sambil bercerita, kader tersebut bergumam. Gimana Ketum ini, saya minta surat rekom kok malah diberi semangat.

“Saya mau minta surat rekom cak dari cabang,” dengan agak keheranan kader tersebut mengirim pesan ulang.

“Ya minta ke cabanglah, ngapain minta ke Bupati,” balas Cak Thoriq.

Sambil tertawa dia bercerita. Wah berarti saya dikerjain sama senior. Minta nomernya ketum malah dikasih nomernya Bupati.

Terlepas dari sisi absurditasnya, ada kesimpulan yang bisa diambil dari kepribadian Cak Thoriq, yaitu dia menghargai siapa saja yang menghubunginya, dengan menyempatkan waktu untuk membalas dan memberi support bahkan kepada mereka yang tidak dikenalinya.

D. Keberpihakan Idelogis

Salah satu variabel penting yang menjadi poin kebanggaan keluarga besar PMII terhadap Cak Thoriq sebagai representasi kader PMII dan kader Nahdlatul Ulama adalah keberpihakan ideologisnya.

Model kepemimpinan yang inovatif dan dispilin ternyata memiliki dampak yang sangat besar terhadap eksistensi organisasi PMII dan NU sebagai organisasi yang konsen dibidang kaderisasi dan sosial-keumatan.

Transformasi pembangunan sumberdaya manusia meningkat secara signifikan. Mulai dari pembangunan sumber daya fisik maupun non fisik. Graha PMII dan Rumah Sakit NU (Permata) menjadi monumen sejarah yang tidak bisa dibantah dari keberpihakan ideologis Cak Thoriq kepada PMII dan NU.

Perlahan tapi pasti dua organisasi ini mulai melakukan akselerasi sistem dan penataan manajemen organisasi yang lebih rapi dan disiplin. Percepatan ini berlangsung spontan seiring dengan banyaknya peluang dan partisipasi PMII dan NU dalam berbagai macam agenda pemerintahan dan sosial kemasyarakatan.

Ketika diamati secara serius, ternyata motivasinya hanya satu, yaitu untuk mengimbangi model kepemimpinan Cak Thoriq yang Cag-Ceg dan ingin memberikan support sistem terbaik kepada kader terbaiknya kala dipercaya oleh masyarakat Lumajang untuk memimpin.

Cak Thoriq adalah figur yang mampu mendobrak pakem-pakem konvensional yang selama ini menjadi penyakit berkepanjangan PMII. Dibanyak event yang digelar NU dan PMII, Cak Thoriq tidak segan memonitoring langsung persiapan kegiatan.

Pernah di suatu kegiatan, tepatnya Clossing Ceremony Musyawarah Pimpinan Daerah (MUSPIMDA) PKC PMII Jawa Timur, Cak Thoriq memimpin langsung persiapan penutupan atau gladi kotor yang kala itu ditutup langsung oleh Ibu Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur.

Mulai dari persiapan susunan acara, dekorasi, peran petugas-petugas kegiatan dan hal-hal kecil lainnya. Intinya semua diatur dan dalam pantauan Cak Thoriq. Akibatnya, pagi menjelang penutupan tersebut penuh dengan maidu hasanah.

Semua devisi dimarahi, bahkan audiens dan tamu undangan juga dimarahi karena merokok dan slenge’an di lokasi acara.

Hasilnya, penutupan kegiatan PMII tak ubahnya seperti kegiatan-kegiatan yang di gelar oleh Muhammadiyah yang semuanya serba disiplin dan yang paling prinsipil adalah larangan merokok yang itu sebenarnya sama sekali tidak mencerminkan kegiatan ke-PMII-an.

Hal selanjutnya yang mencerminkan profil diri Cak Thoriq sebagai kader PMII yang memiliki ideologi yang kokoh ketika Lumajang harus menghadapi bencana alam berupa erupsi gunung semeru.

Dimana hampir semua lembaga filantropi berbondong datang ke Lumajang untuk membantu percepatan recovery pasca erupsi gunung semeru. Mulai dari BAZNAS, LAZISNU, Lazismu, ACT, Gusdurian dan lembaga-lembaga filantropi lainnya.

Semua lembaga datang ke Lumajang dengan misi kemanusiaannya. Tentu sebagai pemerintah daerah, Cak Thoriq menyambut dengan tangan terbuka, memfasilitasi dan memberi ruang kepada siapapun dan instansi manampun untuk bergotong royong dalam mitigasi, evakuasi dan pemulihan pasca erupsi.

Namun tampaknya ada sebagian kelompok yang datang tidak hanya membawa misi kemanusiaan, melainkan ada misi ideologisasi yang diselundupkan. Hingga pada puncaknya, meletuplah kejadian yang mencerminkan tindakan intoleransi.

BACA JUGA:   Merapikan Komitmen Merespon Kerentanan Bencana

Namun gerakan ini sebenarnya sudah diantisipasi jauh-jauh hari, aroma radikalisme dan ekstrimisme sempat tercium kala kelompok yang disinyalir memiliki misi ideologisasi tersebut datang dan secara terbuka menyampaikan pandangan ideologi kelompoknya.

Hingga pada kesimpulannya, Cak Thoriq dengan akrobat politiknya mempersempit ruang gerak kelompok tersebut hingga mencuat fakta yang kita ketahui bersama pada bulan Januari 2022 silam.

E. Pesan Kepada PMII

1. Berproseslah dengan Serius

‎بِقَدْرِ مَا تَتَعَنَّى، تَنَالُ مَا تَتَمَنَّى

Kadar keseriusan kader PMII dalam menghadapi kesulitan (berproses di PMII) akan menjadi penentu untuk meraih kesuksesan (menggapai cita-cita).

Jadi jerih payah kalian sahabat, dedikasi kalian sahabat, keringat kalian sahabat. Disaat sahabat melakukan interaksi kaderisasi. Yakinlah, bahwa jerih payah itu akan sahabat tunaikan dimasa yang akan datang.

2. Produksi Kader Profesional

PMII hari ini membutuhkan stok kader yang mampu menguasai bidang-bidang keilmuan tertentu, kader yang fokus dan profesional. Jangan sampai PMII absen dalam disiplin keilmuan profesional tertentu, sehingga ketika dimasa depan PMII membutuhkan kader dengan keahlian membuat nuklir, ahli dalam astronomi, ahli dibidang bedah, ahli dalam rekayasa arsitektur, PMII punya stok kader. Nah, kalau ada kader yang begitu, jangan ganggu mereka dengan urusan politik perebutan ketua cabang.

3. Reformulasi Kaderisasi

PMII harus mereformulasi kurikulum kaderisasi agar lebih fleksibel. Jangan disamakan model pengkaderan mahasiswa jurusan pendidikan dengan jurusan kedokteran. Kalau disamakan, PMII akankesulitan merekrut kader dari jurusan eksakta.

4. Internasionalisasi PMII

PMII sudah saatnya melakukan peleberan kapasitas hingga level internasional. Membangun kerjasama dengan dunia internasional, melakukan kaderisasi di kampus-kampus luar negeri. Tidak masalah meskipun MAPABA hanya satu hari, yang penting mereka punya tanaman ideologi ke-PMII-an.

Sehingga ketika kembali ke Indonesia kita punya kader dengan lulusan-lulusan luar negeri yang profesional dan mereka tau harus mengandi dan pulang kemana. Dan yang terpenting mereka punya keberpihakan kepada masyarakat rentan.

5. Profiling Kader PMII

Interaksi yang dilakukan sahabat hari ini akanmenjadi profiling sahabat dimasa yang akan datang. Jadi apa yang dilakukan sahabat hari ini akan menjadi merk sahabat sampai kapanpun.

Jika sahabat berproses dengan baik, maka stempel sejarah yang akan diingat oleh sahabat yang lain adalah kebaikan. Jika sahabat berproses tidak baik, maka itu akan menjadi catatan. Dan itu akan diingat oleh sahabat yang lain. Saat sahabat masih aktif berproses, maka sahabat harus memiliki legacy. Legacy itu adalah warisan terhadap apa yang sudah dilakukan dan memorable. Dan itu menjadi ingatan setiap orang.

6. Jabatan Bukan Jaminan

Tidak ada jaminan, jabatan sahabat di PMII hari ini menjadikan sahabat orang sukses dimasa mendatang. Diluar sana, banyak kader PMII yang tidak pernah menjabat sebagai ketua komisariat, ketua cabang, bahkan ketua PB, tetapi ketika berada ditengah masyarakat banyak memberikan dampak positif. Karena tolak ukur keberhasilan adalah kesungguhan sahabat saat berproses bukan semata karena jabatan.

7. Dua Tugas Alumni

Tugas IKA PMII hanya ada dua, dan itu menjadi satu kesatuan. Pertama, memberikan nasehat. Yang kedua, memberikan sumbangan. Jadi kalau ada IKA PMII yang tidak melaksanakan dua fungsi ini, nah itu harus dipertanyakan sebagai alumni PMII.

Jadi kalau ada alumni yang tidak memberikan nasehat berarti kayaknya ini alumni yang tidak sehat. Kalau ada alumni PMII yang tidak memberikan sumbangan, ini menjadi urusannya sesama alumni untuk saling menyantuni. Jadi kalau ada kader PMII menghadap alumni dimarahi memang itu tugas almuni. Tetapi ketika setelah memarahi tidak nyumbang maka akandicatat oleh kader-kader PMII.

8. Kader PMII yang Paripurna

Beberapa sesepuh menyampaikan bahwa kader PMII yang paripurna itu adalah yang istrinya sama-sama PMII. Atau sebaliknya yang suaminya adalah sama-sama PMII. Kalau ada kader PMII yang tidak sesama PMII baik istrinya atau suaminya berarti ada dua kemungkinan. Pertama karena dia kalah kompetisi dengan sesama sahabat, yang kedua karena dia dijodohkan oleh orang tuanya. Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamitthoriq, Ketua Cabangnya Taufiq, Bupatinya Cak Thoriq.

Selamat Hari Lahir (Harlah) PMII Ke-64, Tumbuh Subur dan Salam Pergerakan

Oleh: Ahmad Taufiq Hidayatullah, Ketua PC PMII Lumajang 2021-2022