Musim Haji, Momen Tepat Kenang Kiprah Mbah Wahab

oleh -dibaca 2057 orang
Kiai Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab (Foto: nu.or.id)

Memasuki musim haji, hendaknya bagi masyarakat muslim mengenang kembali kiprah KH. Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) sang pelopor Komite Hijaz dalam memperjuangkan kebebasan bermazhab di Tanah Hijaz (Arab Saudi).

Sebagaimana yang tertulis di poin pertama tuntutan Komite Hijaz kepada Raja Ibnu Saud (Raja Saudi Arabia) kala itu.

Di poin yang lain, Mbah Wabab juga meminta kepada Raja Ibnu Saud agar tidak menghancurkan situs-situs bersejarah, termasuk makam Rasulullah.

Komite Hijaz adalah nama sebuah kepanitiaan kecil yang bertugas menemui Raja Ibnu Saud di Hijaz untuk menyampaikan beberapa permohonan atau tuntutan.

Kepanitiaan ini dibentuk pada tahun 1925 dan diketuai oleh KH Abdul Wahab Chasbullah.

Mengutip dari nu.or.id, KH Hasib Wahab putra KH Abdul Wahab dalam tausiyahnya mengatakan bahwa dengan keberanian serta keahlian Mbah Wahab dalam berdiplomasi, beberapa poin yang menjadi tuntutan Komite Hijaz akhirnya diterima oleh Raja Ibnu Saud.

BACA JUGA:   Kisah Jabir bin Abdullah dan Bejana Ajaib

“Salah satu isi poin tuntutannya agar Raja Saud memberikan izin ketika orang beribadah di Makkah maupun di Madinah dengan cara mazhab yang bebas atau merdeka, Alhamdulillah raja memperbolehkan,” ungkapnya dalam acara Haul Ke-52 Mbah Wahab, Rabu malam (31/5/23) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Lebih lanjut ia menjelaskan, perjuangan Mbah Wahab kala itu menurutnya adalah bermuara pada kepentingan warga Muslim secara internasional.

Arab Saudi yang menjadi tempat pelaksanaan ibadah haji harus tetap memberikan kepastian pelayanan yang baik, terutama dalam kebebasan menganut mazhab.

Sudah maklum diketahui, semenjak Ibnu Saud, Raja Najed yang beraliran Wahabi, menaklukkan Hijaz (Makkah dan Madinah) tahun 1924-1925, aliran Wahabi sangat dominan di tanah Haram.

BACA JUGA:   Berkah Sholawat, Untapun Bisa Bicara

Kelompok Islam lain dilarang mengajarkan mazhabnya, bahkan tidak sedikit para ulama yang dibunuh.

“Di sini peran Mbah Wahab Chasbullah yang sangat penting, yang menentukan kepentingan kelompok Islam yang bermadzhab Ahlussunnah wal Jamaah, karena para ulama yang bermadzhab Ahlussunnah wal Jamaah berantakan, begitu juga banyak habaib yang lari ke tanah Jawa,” jelasnya.

Ketua Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas ini menyampaikan, masyarakat Muslim sekarang sudah dapat melaksanakan ibadah haji dengan sempurna.

Bahkan tak sedikit masyarakat Indonesia yang berkesempatan berziarah dan masuk ke area makam Baginda Nabi Muhammad SAW langsung.

“Ini tentu ada jasa besar dari KH Abdul Wahab Chasbullah,” jelas Kiai Hasib, sapaan akrabnya.

BACA JUGA:   Tradisi Ruwat Air Semeru, Bagaimana Pandangan NU?

Kiai Hasib menegaskan bahwa Mbah Wahab adalah sosok ulama pejuang.

Sederet perjuangannya masih terekam oleh sejarah sejak NU belum berdiri, begitu juga setelah NU didirikannya dengan para ulama yang lain.

Terakhir, Kiai Hasib selaku keturunan Mbah Wahab, meminta doa kepada masyarakat agar bisa selalu menebar kemanfaatan dan memperjuangkan ajaran-ajaran Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah sebagaimana Mbah Wahab.

“Mudah-mudahan kita ini bisa berbuat lebih banyak lagi bersama tokoh-tokoh NU memperjuangkan Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, Amin,” pungkasnya.