Gus Iqdam Ungkap Pengalaman Buruk di Bandara, Begini Sikap yang Baik dalam Islam

oleh -dibaca 1487 orang

Akhir-akhir ini viral pernyataan tokoh agama terkemuka Agus Muhammad Iqdam Kholid atau Gus Iqdam, pendiri majelis Sabilut Taubah Karanggayam Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar yang menceritakan pengalaman tidak mengenakkan saat diperiksa oknum petugas Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Bandara Soekarno-Hatta saat akan melakukan dakwah di Taiwan.

Gus Iqdam menceritakan bagaimana petugas imigrasi di sana sangat ketat memeriksa Gus Iqdam beserta rombongan, yang Gus Iqdam sayangkan, dalam pemeriksaan tersebut ada juga yang kesannya berlaku kurang mengenakkan baik dengan berkata menggunakan nada tinggi atau pertanyaan memojokkan kepada Gus Iqdam beserta rombongan.

Terlepas dari itu semua, sebenarnya para petugas imigrasi tugasnya terbilang cukup berat, butuh ketelitian dalam memeriksa lalu lalang penumpang pesawat yang akan ke luar negeri atau datang dari luar negeri, sebagai antisipasi keamanan negara.

BACA JUGA:   Larangan Keras Memutus Silaturahim dalam Islam, Inilah Kriterianya!

Namun, jika memang kabar adanya salah satu oknum petugas imigrasi tersebut melakukan tugasnya disertai dengan membentak atau sejenisnya yang membuat tidak nyaman, tentu sangat tidak dibenarkan apapun alasannya, apalagi kepada seseorang yang ditokohkan seperti Gus Iqdam.

Agama Islam mengajarkan kepada kita agar selalu berkata yang baik, lembut dan sopan kepada siapapun kita bicara.

Setingkat Nabi Musa dan Nabi Harun, saat mereka berdua akan berdakwah ke Fir’aun, yang seorang raja dengan jelas kedzolimannya, Nabi Musa dan Nabi Harun diperintahkan untuk berkata dengan lembut.

Hal itu termaktub dalam Surat Thaha ayat 44, berbunyi:

{ فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلࣰا لَّیِّنࣰا لَّعَلَّهُۥ یَتَذَكَّرُ أَوۡ یَخۡشَىٰ }

Artinya: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”

BACA JUGA:   Mengulik Megengan, Tradisi Umat Muslim Jelang Ramadhan

Menafsiri ayat tersebut, Syaikh Imad ad-Din Abu al-Fida Ismail Ibn Amar Ibn Katsir Ibn Zara’ al-Bushra al-Dimasiqy atau yang masyhur dengan Syaikh Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab tafsirnya,

﴿فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى﴾ هَذِهِ الْآيَةُ فِيهَا عِبْرَةٌ عَظِيمَةٌ، وَهُوَ أَنَّ فِرْعَوْنَ فِي غَايَةِ الْعُتُوِّ وَالِاسْتِكْبَارِ، وَمُوسَى صَفْوَةُ اللَّهِ مِنْ خَلْقِهِ إِذْ ذَاكَ، وَمَعَ هَذَا أُمِرَ أَلَّا يُخَاطِبَ فِرْعَوْنَ إِلَّا بِالْمُلَاطَفَةِ وَاللِّينِ.

“(Maka bicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, agar mungkin dia teringat atau takut.) Ayat ini mengandung hikmah yang sangat besar, yaitu bahwa Firaun itu luar biasa angkuh dan sombongnya, sedangkan Musa adalah makhluk pilihan Allah saat utu. Meskipun demikian, ia (Musa) diperintahkan untuk tidak menyapa Firaun kecuali dengan kebaikan dan kelembutan.”

BACA JUGA:   Masuk 10 Malam Terakhir Ramadhan, Kapan Terjadinya Lailatul Qadar?

Maka sebenarnya tugas apapun yang diemban apalagi terkait dengan keamanan maka memang perlu tegas tapi jangan sampai keras, seperti ketegasan Nabi Musa bersama Nabi Harun yang tetap menjaga sopan santun dan lemah lembut meskipun berhadapan dengan Raja Dzolim.