Benarkah Tradisi Mayoran Bagian dari Tirakat Santri? Berikut Penjelasannya

oleh -dibaca 3917 orang
Santri PP Darun Najah saat Makan Bersama (mayoran) (Foto: Rokhmad, nu-lumajang.or.id)

Mayoran atau makan bersama dengan satu wadah (nampan) merupakan salah satu tradisi yang melekat dengan santri, khususnya pesantren di tanah Jawa, termasuk diantaranya di Lumajang, Jawa Timur.

Mengapa tidak, tradisi makan bersama mudah dijumpai di berbagai pondok pesantren. Misalnya di Pondok Pesantren (Ponpes) Darun Najah, di Desa Petahunan, Kecamatan Sumbersuko, Lumajang.

Irfan, salah satu santri yang kini menjadi pengurus di Ponpes Darun Najah bercerita, jika kebiasaan makan bersama (mayoran) ia temui sejak awal ia masuk sebagai santri baru.

Bahkan, kebiasaan itu tak hanya dilakukan saat bulan ramadhan (buka puasa), namun telah menjadi kebiasaan saat masuk jam makan.

Lebih lanjut ia menceritakan jika kebiasaan itu sesuai dengan pesan para guru dan kyai, saat mengajar ataupun saat bersantai dan sesekali menemui santrinya.

BACA JUGA:   Kapan Waktu yang Utama untuk Sahur?

“Kyai selalu berpesan bahwa di pondok pesantren adalah tempat untuk belajar tirakat (prihatin), tradisi mayoran ini salah satu wujud nilai tirakat,” kata Irfan menirukan pesan KH Labibul Wildan, Jumat (26/5/23).

Uniknya, tradisi mayoran ini menggunakan alas daun pisang dengan menu makanan ala kadarnya, seperti nasi dengan lauk pauk ikan asin, telor goreng, gorengan, dan sayur labu siam.

Bagi para santri, makan yang enak bukan soal masakan atau menu dengan tampilan memukaunya, tetapi justru saat makan satu nampan dengan banyak tangan.

Lalu benarkah tradisi mayoran ini bagian dari tirakat santri?

KH Labibul Wildan, salah satu pengasuh yang juga katib di Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lumajang mengatakan bahwa kebersamaan dan kekompakan merupakan wujud nyata dari tradisi mayoran.

BACA JUGA:   Dasar Anjuran dan Lafal Takbiran Idul Fitri, Berikut Teks Arab dan Artinya

Lebih dari itu, Gus Wildan juga menjelaskan makan bersama akan mendatangkan keberkahan sebagaimana Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ : فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ. قَالُوا نَعَمْ. قَالَ : فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ. قَالَ أَبُو دَاوُدَ إِذَا كُنْتَ فِى وَلِيمَةٍ فَوُضِعَ الْعَشَاءُ فَلاَ تَأْكُلْ حَتَّى يَأْذَنَ لَكَ صَاحِبُ الدَّارِ

“Bahwasannya para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “(Mengapa) kita makan tetapi tidak kenyang?” Rasulullah balik bertanya, “Apakah kalian makan sendiri-sendiri?” Mereka menjawab, “Ya (kami makan sendiri-sendiri)”. Rasulullah pun menjawab, “Makanlah kalian bersama-sama dan bacalah basmalah, maka Allah akan memberikan berkah kepada kalian semua.” (HR. Abu Dawud).

BACA JUGA:   Kiai Qusyairi: Hindari Fitnah Harta dan Anak

Berdasar hadits itul, Gus Wildan menegaskan jika tradisi mayoran akan membentuk watak dan sikap solidaritas yang tinggi bagi para santri.

“Memang ini tradisi yang tidak bisa terlepas dari pondok pesantren untuk membangun solidaritas kebersamaan satu santri dengan yang lainnya. Bahwasanya mereka hidup bersama, sama-sama jauh dari orang tua. Ya saudaranya teman pondok itu,” pungkasnya.