Kolaborasi dengan IPNU-IPPNU, Komunitas Jaulatul Ilmi Gelar Seminar Literasi

oleh -dibaca 897 orang
Komunitas Jaulatul Ilmi STAIBU saat menggelar seminar literasi pada Ahad (06/08/2023)

NU-LUMAJANG.OR.ID, Yosowilangun. Jaulatul Ilmi, Komunitas Diskusi Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Bustanul Ulum (STAIBU) Krai berkolaborasi dengan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Yosowilangun menggelar acara Seminar Literasi, Ahad (06/08/2023).

Salah satu narasumbernya ialah Dr. Abdul Mu’is, M.Pd.I, Wakil Ketua IV Lembaga Ta’lif wan Nasr (LTN) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lumajang.

Seminar yang bertajuk ‘Budayakan Literasi Majukan Generasi’ ini bertempat di Lantai 2 Gedung Baru STAIBU Desa Krai Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang.

Afif Nasrullah sebagai Ketua Panitia mengatakan, tema ini dipilih melihat rendahnya budaya literasi di kalangan pemuda-pemudi saat ini, harapannya dari seminar ini bisa meningkatkan minat para peserta dalam mendalami dunia literasi.

BACA JUGA:   Berkah NU, Motor Orang Ini Lolos Dari Curanmor

“Sangat jarang kita menemukan generasi muda yang berkompeten di bidang literasi, semoga output dari kegiatan ini bisa mengantarkan kita untuk istiqomah membaca dan menulis,” ungkapnya saat sambutan.

Koordinator Jaulatul Ilmi, Ahmad Zaini menambahkan, literasi bukan hanya terbatas dengan membaca dan menulis saja, akan tetapi memiliki makna yang lebih luas yaitu merujuk kepada serangkaian kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan kita batasi pada satu makna saja, tapi kita gunakan makna yang lebih luas, sehingga dengan berliterasi kita bisa mengaitkan setiap persoalan dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif,” tambahnya.

BACA JUGA:   Sejarah Khatib Khutbah Jumat Baca Surat An-Nahl 90 Menurut Gus Islah Bahrawi

Abdul Mu’is dalam materinya menjelaskan, untuk membudayakan menulis tidak perlu terlalu banyak retorika dan wacana, akan tetapi langsung saja ditulis seadanya dulu sampai selesai, setelah itu baru diedit kembali.

“Dalam proses menulis kita tidak perlu banyak menceritakannya kepada orang lain, tapi kalau sudah jadi baru langsung kita berikan bukti kepada mereka,” jelas Guru PAI SMAN 01 Yosowilangun itu.

Ia juga menambahkan, merupakan sebuah keharusan bagi seorang penulis untuk mempunyai jadwal yang istiqomah serta dilakukan terus berulang dalam jangka waktu yang lama.

“Pilihlah waktu yang tepat untuk menulis, sekiranya kita nyaman dan tidak disibukkan dengan hal lain, lalu istiqomahlah menulis di waktu tersebut walaupun hanya sebentar,” ujar penulis buku Guru Asyik Murid Fantastik itu.

BACA JUGA:   Konsumsi Jemaah Haji Lumajang Melimpah Saat di Maktab

Seminar literasi yang dikemas dengan penyampaian yang unik dan menarik ini, diikuti oleh 30 peserta secara offline meliputi tekan rekanita IPNU-IPPNU Yosowilangun, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAIBU Krai, dan mahasiswa aktif STAIBU Krai.