Sabar saat Mendapat Anugerah dan Syukur saat Mendapat Musibah

oleh -dibaca 157 orang
nu-lumajang.or.id
Sumber gambar: freepik.com

Dalam logika keagamaan yang umum, syukur ditujukan untuk datangnya rahmat dan kenikmatan, sedangkan sabar ditujukan untuk datangnya musibah dan kesengsaraan.

Dalam kamus sufi, konteks pemakaian kedua istilah ini bisa terbalik. Boleh jadi, syukur merupakan sikap dalam menghadapi penderitaan, sedangkan sabar merupakan sikap dalam menghadapi kenikmatan, sikap ini justru mencerminkan derajat spiritual tingkat tinggi.

Mengenai hal ini, Imam al-Ghazali menguraikan nalar tasawuf yang sangat memukau dalam Ihya’ Ulumiddîn, Mula-mula beliau membangun nalar terbalik ini dengan membagi nikmat dan bala’ (malapetaka) ada yang bersifat muthlaqah (mutlak), ada yang bersifat muqayyadah (tidak mutlak).

Nikmat mutlak adalah nikmat akhirat, dalam arti bahwa nikmat tersebut bersifat murni, tidak memiliki sisi lain yang menyengsarakan atau merugikan, begitu pula bala’ mutlak adalah malapetaka akhirat, dalam arti bahwa malapetaka tersebut bersifat murni, tidak memiliki sisi lain yang menguntungkan.

Sedangkan nikmat dan bala’ di dunia rata-rata bersifat muqayyadah (tidak mutlak), kecuali sebagian kecil saja, seperti nikmat iman dan budi pekerti yang baik, juga malapetaka kekafiran dan budi pekerti yang buruk, meskipun hal ini terjadi dalam kehidupan dunia, namun bersifat mutlak.

Untuk nikmat dan malapetaka yang lain, umumnya bersifat tidak mutlak, sebuah kenikmatan yang dirasakan oleh seseorang di dunia biasanya memiliki sisi lain yang merugikan dia, begitu pula musibah dan malapetaka yang dia alami biasanya memiliki sisi lain yang menguntungkan dia.

BACA JUGA:   LD PCNU Sayangkan Orang Tua yang Fasilitasi Anak Bawah Umur dengan Gadget

Imam Izzuddin bin Abdis Salam menyatakan dalam Qawa’idul-Ahkâm fi Mashâlihil-Anâm:

الْمَصَالِحُ الْمَحْضَةُ قَلِيلَةٌ وَكَذَلِكَ الْمَفَاسِدُ الْمَحْضَةُ، وَالْأَكْثَرُ مِنْهَا اشْتَمَلَ عَلَى الْمَصَالِحِ وَالْمَفَاسِدِ

“Kemaslahatan yang murni sangatlah sedikit, begitu pula kemudaratan yang murni. Yang paling banyak adalah hal- hal yang mengandung kemaslahatan (di satu sisi), dan kemudaratan (di sisi yang lain).”

Imam al-Ghazali menyatakan:

فَمَا مِنْ نِعْمَةٍ مِنْ هَذِهِ النَّعَمِ الدُّنْيَوِيَّةِ إِلَّا وَيَجُوزُ أَنْ تَصِيرُ بَلاءً وَلَكِنْ بِالإِضَافَةِ إِلَيْهِ فَكَذَلِكَ مَا مِنْ بَلاءِ إِلَّا وَيَجُوْزُ أَنْ يَصِيرُ نِعْمَةً وَلَكِنْ بِالإِضَافَةِ إِلَى حَالَةٍ

“Setiap nikmat duniawi, memiliki kemungkinan untuk menjadi malapetaka, jika dikaitkan dengan hal lain. Begitu pula segenap malapetaka duniawi, memiliki kemungkinan untuk menjadi kenikmatan, jika dikaitkan dengan kondisi tertentu.”

Contohnya, kebodohan atau ketidaktahuan, ini adalah malapetaka. Namun, dalam hal tertentu justru menguntungkan.

Misalnya, ketidaktahuan terhadap isi hati dan sifat buruk orang lain, ini menguntungkan. Sebab, jika misalnya dia mengetahui semua perasaan orang lain terhadap dirinya, maka dia tidak akan bisa hidup tenang.

Jadi, untuk semua kondisi yang bukan termasuk bala dan nikmat mutlak, kita dihadapkan pada dua sikap sekaligus, yaitu sabar di satu sisi dan syukur di sisi yang lain.

Maksudnya, dia menggunakan sikap sabar dalam menyikapi sisi yang menyengsarakan, dan menggunakan sikap syukur dalam menyikapi sisi yang menguntungkan.

BACA JUGA:   Ibu, Pahlawan Sejati yang Jarang Disadari

Dengan mekanisme ini, maka dalam dunia tasawuf muncul slogan, “Bersyukur menghadapi penderitaan dan tabah menghadapi kenikmatan”.

Menurut Imam al-Ghazali, setiap penderitaan yang dialami oleh seseorang dalam kehidupan dunia, setidaknya bisa disyukuri karena lima faktor.

Pertama, bersyukur karena Allah tidak menimpakan musibah yang lebih besar, padahal Allah bebas berkehendak melalukan apa saja terhadap hamba- hamba-Nya.

Konon, ada seorang syekh sufi berjalan di sebuah lorong terbuka. Lalu, ada orang yang menumpahkan abu perapian ke atas kepalanya. Kontan, syekh tersebut langsung melakukan sujud syukur.

Ketika ditanya mengenai aksinya itu, dia berkata, “Aku sangat khawatir mendapat hukuman api.” Jadi, ketika ternyata hukuman yang diterima hanyalah abu, maka hal itu sangat layak disyukuri.

Kedua, bersyukur karena malapetaka tersebut tidak terjadi dalam prinsip agamanya.

Mengenai hal ini, konon ada seseorang mengadu kepada Imam Sahl at-Tustari.”Ada pencuri masuk ke rumah dan mengambil barang-barangku.”

Imam Sahl berkata, “Bersyukurlah kepada Allah. Sebab, jika yang masuk itu adalah setan ke dalam hatimu, lalu merusak iman tauhidmu, apa yang bisa kau perbuat!?”

Ketiga, bersyukur karena musibah yang dialami seseorang di dunia bisa saja merupakan penghapus hukumannya di akhirat.

Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa melakukan sesuatu dari (berbagai perbuatan dosa) tersebut, lalu dia mendapatkan hukumannya (di dunia), maka itu adalah penghapus baginya.” (HR Muslim).

Dalam hadits lain, Beliau juga bersabda:

BACA JUGA:   Inilah Amalan dan Doa dari Imam Al Ghozali bagi Jemaah Haji

“Bila Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya, maka Allah menjatuhkan hukuman dosanya di dunia. Jika Allah menghendaki keburukan untuk hamba-Nya, maka Allah menahan dia bersama dosanya, sehingga hukumannya diberikan di hari kiamat.” (HR at-Tirmidzi).

Keempat, musibah tersebut sudah termaktub dalam catatan takdir, dan sudah pasti mengena kepadanya, tidak ada jalan untuk menghindarinya. Jadi, ketika musibah itu telah menimpa, maka dia layak bersyukur karena telah menyelesaikan salah satu beban yang pasti menjadi gilirannya.

Kelima, musibah dan kesengsaraan dunia merupakan jalan lapang menuju kebahagiaan akhirat, setidaknya karena dua faktor.

Faktor pertama, penderitaan di dunia tak ubahnya obat dan suntikan untuk menyembuhkan penyakit. Jadi, dia memang merasakan sakit suntikan dan pahit obat dalam beberapa detik, namun akibatnya dia akan merasakan nikmat kesehatan dalam waktu yang panjang.

Penderitaan dan kesengsaraan seringkali membuat seseorang tersadar dari berbagai bentuk kelalaiannya selama ini. Sebaliknya, kejayaan dan kesuksesan seringkali membuat seseorang terbuai dalam ketertipuan diri.

Faktor kedua, musibah dan penderitaan dapat mengurangi kuatnya ikatan hubbud dunya atau kecintaan seseorang terhadap kenikmatan duniawi, jika dia selalu hidup nikmat, tanpa penderitaan sedikitpun, maka kehidupan dunia akan terasa sangat berharga.

Padahal kecintaan terhadap kenikmatan dunia merupakan pangkal dari segala keburukan. Bedahalnya. jika dia sudah terbiasa sengsara, maka kehidupan dunia tampak lebih remeh dan kurang berharga di hadapannya.