LDNU Lumajang Kisahkan Seorang Kakek tak Rasakan Lelah saat Tarawih dengan Surat Panjang

oleh -dibaca 557 orang

NU-LUMAJANG.OR.ID, Lumajang. Suatu hari terjadi pada bulan Ramadhan, seorang murid atau santri penghafal Al-Qur’an di Mesir yang diajak gurunya untuk melaksanakan shalat Tarawih.

Kisah tersebut disampaikan Pengurus Lembaga Dakwah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (LD PCNU) Lumajang, Kiai Bagus Hasan Asrori, S.Sy. saat mengisi ‘KURMA (Kajian Keutamaan Ramadhan)’ di Studio Media Center an-Nahdlah (MCN) Gedung PCNU Jalan Alun-alun Timur 03 Lumajang, Sabtu (16/03/2024).

“Ayo, ikut saya shalat Tarawih di  Masjid yang bagus, ajak guru kepada muridnya,” kata Kiai Bagus memulai kisahnya

Kiai bagus mengatakan, Sang murid pun tanpa protes mengikuti gurunya ke tempat yang biasa ia melaksanakan shalat Tarawih, sang gurunya pun menjadi seorang imam shalat di tempat itu.

BACA JUGA:   Turunnya Al-Qur'an Berbeda dengan Kitab Sebelumnya, Berikut Penjelasan Gus Darwis

“Sepanjang melaksanakan Shalat Tarawih, tak main-main dengan khusyuk sang guru melantunkan surah-surah Al-Qur’an hingga mencapai 15 Juz,” ungkapnya.

Usai melaksanakan Shalat Tarawih, lanjut Kiai Bagus, seorang santri itu merasakan kelelahan yang sangat karena belum terbiasa melakukannya Shalat Tarawih dengan bacaan surat panjang.

“Tak selang berapa lama, ia menjumpai seorang kakek-kakek yang sama-sama melaksanakan Shalat Tarawih bersamanya di tempat tersebut namun sang kakek terlihat tak merasa kelelahan sedikit pun,” lanjutnya.

Kiai Bagus mengungkapkan, Si Santri begitu heran, dengan penuh penasaran ia pun bertanya kepada sang kakek perihal sang kakek yang terlihat tidak lelah mengikuti Shalat Tarawih.

 

“Santri ini bertanya, panjengan itu begitu khusyuk dan kuat berdiri, resepnya apa? Sedangkan saya sendiri yang masih muda, dengkul dan sebagainya sudah terasa tidak kuat,” terang Kiai Bagus.

BACA JUGA:   Cak Thoriq Jelaskan Konsep Keadilan Seorang Pemimpin dalam Piagam Madinah

Kiai Bagus menuturkan, Si Kakek menjawan rahasia dirinya tanpa lelah karena dirinya menggunakan kekuatan iman, sedangkan si santri melakukannya menggunakan kekuatan tenaga.

“Si Santri hanya diam dan merenung, dari kisah ini bisa diambil pelajaran  hanya orang-orang yang beriman lah yang merasakan kenikmatan serta kemesraan dalam beribadah, dari kenikmatan beribadah itulah yang bisa menghilangkan rasa lelah, pahit dan lain-lain sebagainya. Jadi, seperti itulah kekuatan iman,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.