Bulan Rabi’ul Awwal: Momen Restorasi Moral

oleh -dibaca 2217 orang

Oleh: Nur Yasin *)

Nabi Muhammad SAW merupakan sosok insan par excellent yang pernah ada di alam mayapada ini. Dari sisi moral, bukan hanya umat muslim saja yang mengakui keluhuran budi pekertinya, tetapi umat yang tidak menyukainya sekalipun juga mengakui keagungan moralnya.

Bagi umat muslim di dunia, sosoknya menjadi magnet kerinduan yang tidak pernah sirna di telan waktu. Semakin waktu berjalan menjauh dari sosoknya semakin pula menggila kerinduan umatnya kepadanya.

Berbagai ungkapan syi’ir digubah oleh umatnya untuk mengekspresikan kecintaan dan kerinduan kepada sosok agung ini. Berbagai model gestur sholawat disenandungkan kepadanya sampai kepada gestur jama’i yang semakin massif.

Grup sholawat tumbuh dengan beragam model, baik dalam jamaah mini sampai jamaah besar dengan berjubel jamaahnya. Pemandangan ini sangat nyata di depan mata, terutama di bumi Nusantara.

Grup sholawat tersebut tentu dengan beragam model manusia. Sebagian dari mereka ada yang baru belajar bersholawat karena faktor ikut-ikutan. Sebagian dari mereka juga ada yang memang telah lama berproses sholawat serta benar-benar kesengsem kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Namun, apapun kondisi mereka para pelantun sholawat tersebut, mereka tetaplah umatnya Nabi Muhammad yang sedang berproses menuju kebaikan. Tidak ada perbedaan dari mereka, karena Nabi sendiripun tidak pernah membeda-bedakan umatnya.

Nabi Muhammad SAW sangat menyayangi siapapun. Bahkan ketika menjelang wafat, beliau meminta kepada Allah SAW untuk menanggung separuh rasa sakitnya sakaramatul dari umatnya.

Betapa cintanya Baginda Rasul kepada umatnya, maka tidak heran jika sampai saat ini umatnya begitu cinta dengan begitu rupa kepada junjungannya tersebut.

Satu hal yang perlu diingat oleh umatnya Nabi Muhammad, bahwa mereka mempunyai hutang besar kepada Nabinya tersebut. Yakni separoh rasa sakit sakaratul maut telah ditanggung oleh beliau sang Nabi, meskipun hutang tersebut tidak akan bisa dibayar.

Sebagai balasan minimal, umat ini setidaknya menampilkan dirinya sebagai pihak yang sedang mempunyai hutang kepada Nabi. Bukan hanya saja pandai melagukan sholawat tapi harus malu kepada Nabi jika tidak napak tilas terhadap perilaku, akhlak beliau yang luhur.

BACA JUGA:   Membaca Realitas PCNU Lumajang Jelang Satu Abad NU

Nabi Muhammad memang makhluk pilihan karena itulah beliau diistimewakan di atas rata-rata. Keistimewaan yang beliau miliki bukan hanya moral tetapi juga susunan tubuh, bentuk dan gesturnya. Mulai dari rambut sampai ujung kakinya, laksana Mutiara berpesona sejati yang sedang bertengger.

Bila tersenyum laksana belahan awan yang ditembus sinar. Bila berkata-kata, perkataannya laksana permata yang berguguran dari lisannya. Bila berjalan laksana air sungai bening yang mengalir ke dataran rendah. Bila melintas di jalan, semerbak wanginya tertinggal di jalan dan bau harum dari Nabi Muhammad bukan karena parfum tetapi murni keluar dari tubuhnya yang mulia. (al-Imam al-Jalil Abdurrohman al-Diba’i).

Andaikan pada zaman Nabi ada helatan akbar pilihan pemuda sejagat (youth universe) maka pemuda Muhammad pasti sang juaranya. Namun Nabi Muhammad lebih dari itu dan lebih.

Tidak perlu ada acara tersebut, sang Nabi telah terpilih sebagai idola oleh dewan juri “hati umat sejagat”. Sebab tidak ada kata yang cukup untuk mengungkapkan keindahan dan kemuliaan sang Nabi. Al-Hafid al-Iraqi mengekspresikan keindahan Nabi Muhammad dalam syi’irnya:

يَقُوْلُ مَنْ يَنْعَتُهُ مَا قَبْلَهُ * أَوْ بَعْدَهُ رَأَيْتُ قَطُّ مِثْلَهُ

“Siapapun yang menggambarkan sosoknya, akan berkata, “Belum pernah aku melihat sosok yang memadainya”

Dalam hal moral atau akhlak, Nabi Muhammad merupakan gudang keagungan moral. Segala macam rupa keluhuran budi pekerti terdapat dalam sosoknya, seperti kerendahan hati, kesederhanaan, ketulusan, kedermawanan, kesabaran, keegaliteran dan budi pekerti luhur lainnya.

Dalam hal berpakaian beliau jauh dari penampilan glamor. Dalam hatinya tidak ada rasa marah, benci dan dendam. Dalam pergaulan, beliau tidak membeda-bedakan status sosial, justru dengan kaum yang lemah lebih dekat. Bila berucap “iya” iya sungguhan, dan bila berucap “tidak” tidak sungguhan. Tidak ada kata dusta yang meliputi perkataannya.

BACA JUGA:   Maraknya Kejahatan, Bagaimana Hukum Membela Diri?

Meniru akhlak atau moral Nabi Muhammad secara sempurna sepertinya memang tidak mungkin, terlalu berat bagi umatnya yang terbatas ini.

Namun paling tidak sebagai umat beliau, harus terus berusaha dan meneladani sebisa mungkin. Meskipun tidak seratus persen paling tidak lima puluh persen.

Nabi Muhammad SAW bukanlah sosok pemaki dan pencela (وَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ بِغَمَّاسٍ وَلَاعَيَّابٍ) (al-Imam al-Jalil Abdurrohman al-Diba’i ), bisakah bagian ini diteladani di zaman medsos yang merajalela ini?

Ucapan termasuk barometer awal untuk mengukur kualitas moral seseorang. Akhlak atau moral akan menampilkan tingkah laku dan ucapan yang otomatis dan spontan dari seseorang. Jika akhlaknya baik maka secara spontan akan keluar ucapan yang baik dan sebaliknya, jika akhlaknya buruk maka secara spontan akan keluar ucapan yang buruk.

Pengertian akhlak menurut Ibnu Maskaweh sebagai berikut:

اْلخُلُقُ حَالٌ لِلنَّفْسِ دَاعِيَةٌ لَهَا اِلَى أفْعَالِهَا مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ وَرَوِيَّةٍ

“Khuluq adalah keadaan dalam jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan pekerjaan tanpa didahului oleh pemikiran dan pertimbangan.”

Dan menurut imam al-Ghazali:

الْخُلُقُ عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ فِي النَّفْسِ رَاسِخَةٌ وَعَنْهَا تَصْدُرُ اْلأَفْعَالُ بِسُهُوْلَةٍ وَيَسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ وَرَوِيَّةٍ

“Khuluq adalah gambaran tentang gerakan jiwa yang telah mandarah daging yang karena gerakan itu dapat menimbulkan suatu pekerjaan yang dapat ditunaikan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan pikiran”.

Dengan ini dapat dipahami bahwa akhlak merupakan bathin terdalam pada diri manusia sebagai power penggerak yang otomatis, tidak bisa direkayasa.

Sebab akhlak merupakan hasil dari didikan etiket atau sopan sejak lama yang kemudian terbentuk menjadi power yang namanya akhlak.

Nabi Muhammad SAW merupakan sosok paripurna dalam urusan akhlak. Di dalam jiwanya telah tertanam akhlak mulia yang menjadi penggerak jiwa dan raganya, sehingga segala gerak geriknya otomatis dan spontanitas senantiasa mulia.

BACA JUGA:   Merapikan Komitmen Merespon Kerentanan Bencana

Begitu juga dalam kehidupan manusia sehari-hari, jika seseorang akhlaknya baik, maka gerakan spontanitasnya baik. Sebaliknya jika akhlaknya buruk maka gerakan spontanitasnya buruk pula.

Hal itu bisa diukur ketika seseorang dalam keadaan terkejut, pasti respon spontanitas yang keluar. Jika seseorang dalam keadaan terkejut, keluar kata-kata baik dari mulutnya, maka itu pertanda akhlaknya baik. Misalnya kata Ya Allah, Masya Allah, Astagfirullah, atau minimal “Aduh”.

Sebaliknya, jika yang keluar kata-kata jelek dari mulutnya seperti kata-kata memisuh “sego pincuk iwak jaran” maka itu pertanda akhlaknya bermasalah.

Hal yang kerap terjadi di dunia medsos saat ini yaitu lontaran umpatan seakan menjadi konsumsi sehari-hari. Sebagai manusia yang mengaku umat Sang Nabi agung, di manakah komitmennya?

Momen bulan Rabiul Awwal sepertinya menjadi bulan spesial untuk memperbarui akhlak, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki akhlak selagi mau. Karena di bulan ini umat Islam bangkit untuk mengingat keluhuran akhlak beliau.

Umat Islam menggemakan sholawat di setiap penjuru, mengekspresikan rasa syukur atas kelahiran manusia agung yang telah menerangi peradaban alam.

Bangsa hewan saja sangat gembira dengan kelahiran baginda Rasul. Dalam ungkapan syi’ir:

رَاحَتِ اْلأَطْيَارُ تَشْدُو فِى لَيَالِى اْلمَوْلِدِ * وَبَرِيْقُ النُّوْرِ يَبْدُو مِنْ مَعَانِى اَحْمَدِ

“Burung-burung berkicauan sangat bahagia di malam kelahiranya Sang Nabi dan kilatan cahaya terpancarkan penuh dengan ragam makna dari Muhammad.”

Tentu sebagai manusia yang telah ditakdirkan menjadi umat terbaik, perlu merenungi hal ini. Burung-burung saja bahagia, kalau manusia tidak, akankah kalah dengan burung? Dan kebahagiaan saja tidak cukup bagi manusia, jika tidak disertai dengan upaya restorasi moral.

والله أعلم بالصواب

 

*) Nur Yasin adalah Dosen STAI Bustanul Ulum Krai Yosowilangun Lumajang, Pengurus MWC NU Tekung, Anggota LPT PCNU Lumajang