Ulama Adalah Pewaris Para Nabi, Benarkah?

oleh -dibaca 07 orang
Ilustrasi Ulama adalah Pewaris Nabi

Manusia yang paling mulia kedudukannya dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah SWT ialah para nabi dan rasul. Mereka adalah orang-orang pilihan yang diberi tugas mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allah semata. Para nabi dan rasul diutus untuk memperbaiki manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan dan kesesatan menuju cahaya dan kebenaran.

Namun, sesuai sunnatullah bahwa semua makhluk hidup akan mati dan sirna. Tidak ada satu pun yang hidup kekal di dunia, tak terkecuali para nabi dan rasul, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur’an:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Artinya: “Segala sesuatu pasti binasa, kecuali zat-Nya. Segala putusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.” (QS Al-Qashash : 88)

Maka, ketika para nabi dan rasul telah tiada, lalu siapakah yang kemudian meneruskan tampuk perjuangan mereka dalam mensyiarkan dan menyebarkan ajaran Islam? Nah, di sinilah peran seorang yang ahli dalam bidang keagamaan sangat dibutuhkan agar risalah para nabi dan rasul tidak mati, namun justru terus berlanjut hingga hari kiamat nanti.

BACA JUGA:   Bagaimana Hukum Umrah Jika Belum Tunaikan Haji? Begini Hasil Bahtsul Masailnya

Peran semacam ini tidak lain dan tidak bukan hanya patut dijalankan oleh orang-orang yang mumpuni dalam bidang keagamaan atau yang biasa kita sebut dengan ulama, sebab mereka adalah orang-orang yang telah disabdakan oleh Nabi SAW bahwa:

الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Artinya: “Para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewarisi dinar dan dirham, tetapi mereka mewarisi ilmu. Maka siapa yang mengambil ilmu tersebut berarti ia telah mendapatkan warisan nabi yang besar.” (HR At-Tirmidzi)

Dalam sebuah Hadits dari Utsman bin Affan ra bahwasanya Rasulullah bersabda:

يَشْفَعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلَاثَةٌ : الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْعُلَمَاءُ، ثُمَّ الشُّهَدَاءُ

Artinya: “Tiga orang yang kelak di hari kiamat dapat memberi syafaat, yaitu: para nabi, para ulama, dan para syuhada.” (HR Ibnu Majah)

BACA JUGA:   Bantu Padamkan Kebakaran, NU Turunkan Tim ke Lokasi

Di era yang amburadul tak menentu seperti saat sekarang, perpecahan aqidah selalu terjadi, perseteruan perpolitikan tiada henti, penodaan agama Islam di sana-sini, dan berbagai kerusakan dan problem yang lain, membuat umat Islam bingung terombang-ambing tak menentu. Oleh karenanya, peran ulama dalam kondisi yang sedemikian sangatlah dibutuhkan mengingat para ulama adalah orang-orang yang tetap teguh pendirian dengan ajaran-ajaran Islam.

Keberadaan para ulama yang beramal shalih dan istiqamah menjalankan perintah Allah serta mengajarkan kebenaran pada segenap umat Islam merupakan rahmat dari Allah bagi mereka. Setelah para nabi telah tiada, para ulama lah yang menjelaskan kebenaran-kebenaran, membantah berbagai kebatilan, menyingkirkan berbagai syubhat, meluruskan berbagai pemahaman yang menyimpang dan membawa manusia kepada keridhaan Allah.

Para ulama mengajak pada kebaikan dan memerintahkan pada yang ma’ruf, serta melarang pada yang munkar, melerai perseteruan demi membangun persatuan. Firman Allah dalam Al-Qur’an:

BACA JUGA:   Lakukan ini di Malam Pertama Ramadhan Agar Puasa Tetap Sah saat Lupa Niat

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut pada celaan orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Ma’idah : 54)

Oleh sebab itu, sudah sepatutnya bagi kita untuk menghormati dan memuliakan mereka, menjunjung tinggi martabatnya, serta tidak semena-mena memperlakukan mereka dengan seenaknya, hanya orang baiklah yang dapat memperbaiki sikapnya terhadap ulama.