Antara Cinta Allah dan Cinta Rasulullah

oleh -dibaca 147 orang
Ilustrasi Cinta Allah dan Rasulullah
Ilustrasi Cinta Allah dan Rasulullah

Sudah menjadi cita-cita setiap orang beriman untuk mencintai dan dicintai Allah SWT. Sebab, ketika Allah mencintai hamba-Nya, maka tentu Allah akan memberikan ridha dan perhatian-Nya kepada hamba tersebut. Seorang hamba yang berhasil mendapatkan ridha dan perhatian Allah, maka pasti hidupnya akan bahagia dunia dan akhirat.

Mari sejenak kita merenungi firman Allah berikut ini:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran : 31)

Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyeru kepada umat bahwa bukti cinta kepada Allah hanya dengan konsisten mengikuti Rasulullah. Sedangkan seseorang akan bergerak ittiba‘ (mengikuti) Rasulullah hanya jika dalam hatinya terdapat cinta kepada beliau.

BACA JUGA:   Dasar Anjuran dan Lafal Takbiran Idul Fitri, Berikut Teks Arab dan Artinya

Bukankah hanya dengan cinta, seseorang akan selalu menaati orang yang dicintainya? Setia mendengarkan kata-katanya? Gigih menuruti apapun keinginannya? Meski dilakukan dengan penuh susah payah. Tanpa dorongan cinta, mustahil semua itu akan terjadi.

Semakin meningkat kadar bobot cinta kita kepada Rasulullah, maka semakin meningkat pula kadar bobot ittiba‘ kita kepada beliau, maka semakin besar bukti cinta kita kepada Allah. Dengan benar-benar mencintai Allah, maka Allah pun akan memberikan cintanya, juga ridha dan perhatian-Nya. Dengan mendapatkan ridha dan perhatian Allah, seseorang akan hidup bahagia dunia dan akhirat.

Dari uraian panjang lebar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ‘kunci mendapatkan bahagia dunia dan akhirat adalah hanya dengan meningkatkan cinta kita kepada Rasulullah.’

BACA JUGA:   Apakah Hikmah Puasa Ramadhan Hanya untuk Diri Sendiri? Begini Penjelasan Kiai Hanif

Selamet Angguniawan