15 Hikmah Puasa pada Bulan Ramadan

oleh -dibaca 37 orang
Ilustrasi Hikmah Ramadhan

Sebagai umat muslim yang taat, pada bulan Ramadan tentu saja akan berbahagia dalam melaksanakan ibadah, karena banyak keistimewaan yang hadir pada bulan Ramadan yang harus disambut dengan riang gembira.

Makna puasa secara lughah (bahasa) ialah menahan diri dengan absolut (mutlak). Adapun makna puasa secara syara’ ialah menahan diri dari nafsu makan, minum, berhubungan badan antara suami-istri dalam sehari penuh mulai terbit fajar shadiq sampai matahari terbenam yang didahului dengan niat menurut syariat Islam.

Adapun hukumnya berpuasa pada bulan Ramadan ialah fardhu ‘ain bagi yang memenuhi syarat-syarat kewajibannya. Kewajiban berpuasa diberlakukan pada tahun ke-dua Hijriah.

Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani dalam kitabnya, Fathu al-Qarib al-Mujib ‘ala Tahdzib at-Targhib wa at-Tarhib, hal. 144, Surabaya: Maktabah Hai‘ah As Shofwah, menjelaskan tentang hikmah yang didapat bagi orang yang berpuasa pada bulan Ramadan.

BACA JUGA:   Apakah Hikmah Puasa Ramadhan Hanya untuk Diri Sendiri? Begini Penjelasan Kiai Hanif

وحكمتُهُ: تصفية مرآة القلب من كُدُورَاتِ البشرية، والتشبه بالملائكة الروحانية، والتعرض لنفحات الله تعالى ورحماته، ومغفرة الذنوب، وإجابة الدعوات، واكتساب الحسنات، وتنقية الصحائف من المخالفات، والخضوع لله عز وجل، والتهجد في لياليه والتحرَّي لليلة القدر العظيمة القدر، وتذكُر الفقراء عند الإحساس بألم الجوع، وكبح جِمَاحِ النفس عن الاسترسال في اللذات، والتعود على الصبر والمكاره، وتذكير العبد بحاجته لِيَسير الطعام والشراب، مع غنى مولاه الواحد الصمد، وإبقاء الفكرة، وإنقاء البصيرة

Artinya: “Hikmah orang yang berpuasa Ramadan ialah: membersihkan cermin hati dari kodrat kemanusiaan, menyerupai Malaikat ar-Ruhaniyah, ditunjukkannya Karunia dan Rahmat Allah Ta’ala, pengampunan dosa-dosa, terijabahnya do’a-do’a, meraih kebaikan, membersihkan lembaran-lembaran buku amal dari perkara yang menyalahi, merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla, shalat Tahajud dan meneliti atau mencari malam Lailatul Qadar yang agung serta mulia, mengingat orang faqir ketika merasakan sakitnya kelaparan, menahan jiwa agar tidak menuruti kesenangan, membiasakan dalam kesabaran dan kesulitan, mengingatkan hamba-Nya akan kebutuhan makan dan minum dengan kekayaan Allah yang Maha Esa serta tempat meminta segala sesuatu, menjaga pikiran, dan memurnikan wawasan.”

BACA JUGA:   Marak Isu Perceraian, Inilah 5 Pilar Rumah Tangga ala NU untuk Gapai Sakinah

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa puasa yang dilakukan oleh kebanyakan orang itu bisa tidak dianggap sebagai puasa yang benar di mata hukum syariah. Nah, mengapa orang yang sama-sama berpuasa tetapi puasanya tidak dianggap benar?

Orang yang berpuasa dan puasanya tidak dianggap benar ialah walaupun mereka sama-sama meninggalkan nafsu makan, minum dan berhubungan badan antara suami-istri, tetapi arah perhatiannya tertuju pada orang yang bukan mahramnya, berkata kasar, melakukan kekerasan, ghibah (gosip) dan namimah (adu domba), dan tidak memperhatikan perintah dan larangan-Nya.

Perlu diketahui, puasa semacam ini hanya akan mendapatkan rasa lapar dan haus saja, dan mereka berharap dengan puasanya akan mendapatkan pahala. Tapi sebaliknya, justru hal itu merupakan dosa besar yang membutuhkan permintaan ampun dengan cara beristighfar kepada Allah ta’ala.

BACA JUGA:   Benarkah Menikah di Bulan Maulid Dilarang? Berikut Penjelasannya

Semoga puasa kita di bulan Ramadan ini lebih baik dari sebelumnya dan mendapatkan hikmah-hikmahnya, dan semoga kita dapat dipertemukan kembali dengan bulan Ramadan tahun depan, Aamiiin.

Wallâhu a’lam bisshawab