Turunnya Al-Qur’an Berbeda dengan Kitab Sebelumnya, Berikut Penjelasan Gus Darwis

oleh -dibaca 427 orang

NU-LUMAJANG.OR.ID, Lumajang. Turunnya Al-Qur’an berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya seperti Kitab Taurat, Kitab Zabur dan Kitab Injil. Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur selama 23 tahun.

Hal itu dijelaskan Dr. KH. Mohammad Darwis, M.Pd.I. saat mengisi ‘KURMA (Kajian Keutamaan Ramadhan)’ di Studio Media Center an-Nahdlah (MCN) Gedung Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jalan Alun-alun Timur 03 Lumajang, Selasa (26/03/2024).

“Karena perbedaan itu, sehingga keusilan orang-orang musyrik atau orang-orang kafir pada waktu itu mempertanyakan kenapa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kok tidak sekaligus?,” ungkap Gus Darwis, panggilan akrabnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, dari pertanyaan tersebut Allah SWT menjawab dalam surah Al-Furqan ayat 32:

BACA JUGA:   Inilah Bahaya Mengakhirkan Shalat Sampai Keluar Waktu Menurut Kiai Qusyairi

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةًۛ كَذٰلِكَۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا

Artinya: Orang-orang yang kufur berkata,“Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus? ”Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar).

“Sebab, ketika Rasulullah ditanya tentang sesuatu, baik masalah hukum atau masalah yang lain. Kemudian Allah menjawabnya dengan menurunkan Al-Qur’an, dan itu sangat menenangkan Rasulullah SAW,” jelas Ketua PCNU Lumajang itu.

Dengan turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur itu, kata Gus Darwis, Rasulullah tidak pernah merasa khawatir karena Allah selalu mementorinya dan mengawasinya, dan Allah lah yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang kepada Rasulullah SAW.

BACA JUGA:   Kiai Qusyairi Jelaskan Tiga Cara Meraih Keutamaan Melaksanakan Shalat 

“Ketika ada masalah atau peristiwa yang mungkin tidak mudah dihadapi pada konteks masa itu, Rasulullah tidak pernah khawatir karena beliau tau bahwa Allah akan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi,” imbuhnya.

Setelah itu, Gus Darwis menerangkan bahwasanya Allah SWT juga menyampaikan dalam surah Al-Isra’ ayat 106:

وَقُرْاٰنًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَهٗ عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّ لْنٰهُ تَنْزِيْلًا

Artinya: “Al-Qur’an Kami turunkan perlahan-angsur agar Engkau (Muhammad) membacanya kepada manusia secara perlahan-lahan dan Kami benar-benar menurunkannya secara bertahap.”

“Jadi, Al-Qur’an diturunkan seperti itu juga untuk memudahkan Rasulullah dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia dan bisa diterima oleh manusia yang awam. Bayangkan kalau diturunkan 30 juz sekaligus, mengajarkan hukumnya berat dan lain-lain sebagainya,” terangnya.

BACA JUGA:   Kiai As'at Jelaskan Pentingnya Raih Ampunan Allah

Terakhir ia mengatakan, ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa umat-umat terdahulu cenderung menolak ajaran-ajaran Nabinya karena merasa berat untuk menerima hukum-hukum sekaligus.

“Karena merasa berat, sehingga mereka mengatakan, ‘saya mendengarkan tapi saya melanggar,’ mereka tidak kuat karena terlalu banyak beban. Berbeda dengan metodologi pensyariatan hukum umat Rasulullah yang menggunakan prinsip tadrij (bertahap),” pungkasnya.

 

 

Selamet Angguniawan

No More Posts Available.

No more pages to load.