Sekpri Ketum PBNU Sebut Tidak Ada yang Lebih Tinggi dari Nilai Kemanusiaan

oleh -dibaca 1997 orang

 

NU-LUMAJANG.OR.ID, Candipuro. Sekretaris Pribadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Gus A Ghufron Sirodj menyebut, kemanusiaan adalah nilai tertinggi dari apapun. Maka, misi-misi kemanusiaan untuk mewujudkan perdamaian dunia menjadi garapan besar Nahdlatul Ulama di abad ke-2 NU.

 

Hal itu disampaikan pria yang akrab disebut Ra Gopong ini saat hadir di peresmian Madrasah Terpadu oleh Bupati Lumajang H Thoriqul Haq dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur, H Husnul Maram di Hunian Bumi Semeru Damai Desa Sumbermujur Candipuro Lumajang, Rabu (22/02/2023).

 

 

Ra Gopong menceritakan, bagaimana dirinya sering diajak Ketum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) melakukan kunjungan ke berbagai bagai belahan dunia. Tak lain, kata Ra Gopong, semua kunjungan tersebut digunakan Gus Yahya untuk mengkampanyekan perdamaian melalui NU.

BACA JUGA:   Film Hati Suhita: Perjodohan di Kalangan Pesantren, Inilah 7 Fakta Menarik dan Sinopsisnya

 

“Dasar peletakan batu pertama bangsa ini adalah persatuan dan kesatuan sebangsa dan setanah air, di negara lain tidak ada,” ungkap Ra Gopong.

 

 

Gencarnya misi kemanusiaan yang dilakukan Gus Yahya menurut Ra Gopong untuk meneruskan visi besar pendahulunya, yaitu KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur untuk mempersatukan manusia dengan mengesampingkan ras, suku, warna kulit demi tujuan perdamaian. Bahkan hal itu oleh Gus Yakut adeknya Gus Yahya yang menjadi Menteri Agama dijadikan visi misi moderasi di Kemenag.

 

“Karena tidak akan pernah menyelesaikan jika masalah didasarkan dari agama pemeluknya. Kalau menang menangan, yang Islam merasa menang, Kristen, Hindu juga begitu maka tidak ada jalam keluarnya, maka jalan keluarnya ya kamanusiaan,” lanjut Ra Gopong.

BACA JUGA:   Pon Pes An Nur El Aly Gelar Haflah Wisuda Al-Qur'an dan Alfiah Ibnu Malik Perdana

 

 

Ra Gopong menegaskan, jika dipaksakan menang-menangan atas dasar agama pemeluknya, maka bisa terjadi tumpah darah berkelanjutan. Karena memang beragama tidak bisa dipaksakan yang kuncinya jika ingin terwujud perdamian adalah nilai kemanusiaan saling menghargai di tengah perbedaan

 

“Seperti yang ada di timur tengah, luluh lantak, hancur sampai sekarang belum bisa menyelesiakan konflik internalnya,” pungkasnya.