Analisa Lengkap LF PCNU Lumajang tentang Gerhana Bulan Penumbra Nanti Malam

oleh -dibaca 6707 orang

NU-LUMAJANG.OR.ID, Lumajang. Setelah fenomena Gerhana Matahari Hibrida pada Kamis, 20 April 2023 lalu, kini peristiwa alam berupa Gerhana Bulan Penumbra diprediksi akan terjadi malam ini, Jumat (05/05/23).

Hal ini disampaikan oleh Abdul Wahid selaku ketua Lembaga Falakiyah PCNU, Jumat (05/05/23) pagi hari.

“Sebagaimana hasil perhitungan yang dilakukan oleh pengurus LF PCNU Lumajang. Diprediksi bahwa pada Jumat (nanti malam) bertepatan tanggal 5-6 Mei 2023 M secara hisab falakiyah akan terjadi gerhana bulan penumbra (samar),” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa fenomena Gerhana Bulan Penumbra pada wilayah Indonesia bagian barat akan terjadi dengan lama durasi sekitar 4 jam lebih dimulai pukul 22.12 WIB sampai pukul 02.33 WIB tengah malam, dan puncak gerhana terjadi pada pukul 00.23 WIB.

BACA JUGA:   Lembaga Falakiyah PCNU Lumajang Gelar Njagong Ilmu Falak

Fenomena Gerhana Bulan terjadi apabila posisi bumi berada diantara bulan dan matahari saat oposisi, sehingga cahaya yang biasanya sampai ke bulan terhalang oleh bumi, sebagaimana menurut Guru Manshur al-Batawi Dalam kitab Sullam al Nayyiroin Risalah ke-2.

“Diterangkan bahwa gerhana bulan itu tidak terjadi kecuali pada pertengahan bulan (hijriah), al Khusuf itu ungkapan dari al Istiqbal al Hakiki al Mar’i (oposisi sejati yang terlihat), yaitu hilangnya cahaya bulan sebab terperangkap bayangan umbra bumi, karena bulan tidak mempunyai cahaya sendiri tetapi cahayanya memanfaatkan sinar Matahari,” ungkapnya.

Ia menambahkan, apabila bumi berada diantara bulan dan matahari, maka sinar matahari ke bulan menjadi terhalang, lalu bayangan bumi mengenai bulan menyebabkannya menjadi gelap gulita dan terlihat dalam kondisi gerhana.

BACA JUGA:   LFNU Lumajang: Hilal Tidak Terlihat, Tetapi Masuk Kriteria Imkanur Rukyah

“Berdasarkan bayangan saat terjadinya gerhana. Gerhana Bulan ada dua jenis, yaitu Umbra (bayangan nyata) dan Penumbra (bayangan semu), dari masing-masing dua jenis bayangan tersebut terbagi menjadi dua tipe gerhana, yaitu sebagian dan total,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan  tipe Gerhana Bulan terbagi menjadi empat jenis, pertama umbra sebagian, kedua umbra total, ketiga penumbra sebagian dan keempat penumbra total. Saat terjadi fenomena Gerhana Bulan, umat Islam disunnahkan untuk shalat khusuf saat bulan berada di dua tipe Gerhana Umbra.

“Jadi pada Gerhana Bulan Penumbra secara fikih tidak disunnahkan menyelenggarakan shalat gerhana. Shalat gerhana (dalam hal ini gerhana Bulan) hanya digelar apabila gerhana tersebut merupakan gerhana yang kasat mata (Umbra) sehingga terlihat dengan jelas menggelapnya bagian bulan baik sebagian maupun seluruhnya (total),” ujarnya.

BACA JUGA:   Sering Tertutup Awan, Tim Falakiyah Tetap Mencoba Rukyat di Pantai Wotgalih

Ia juga berpesan bahwasannya terjadinya gerhana matahari maupun gerhana bulan sebagian ataupun total merupakan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah Sang Maha Pencipta.

“Kesemuanya bisa dipelajari dengan ilmu Falakiyah, dan bukanlah merupakan fenomena yang oleh sebagian masyarakat dikaitkan dengan adanya suatu peristiwa. Gerhana bulan ini, sama halnya dengan terjadinya gerhana matahari yang bertepatan dengan pelaksanaan rukyatul hilal pada penentuan awal Syawal kemaren,” tutupnya.