Ruang Aktualisasi Kader Muda NU

oleh -dibaca 07 orang
Opini Ruang Aktualisasi Kader Muda NU
Opini Ruang Aktualisasi Kader Muda NU

Salah satu karakter paling khas Nahdlatul Ulama adalah kesabaran dalam kaderisasi. NU tidak dibangun dengan cara tergesa-gesa. Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dijaga melalui proses panjang. Adab didahulukan dari ilmu, kematangan lebih utama daripada kecepatan, dan legitimasi lahir dari kepercayaan jamaah, bukan sekadar struktur apalagi legalitas ijazah semata. Karena itulah, kaderisasi pada tingkat dewasa cenderung tidak instan dan tidak populis.

Tantangan abad kedua NU pun kian terlihat. Generasi terbaru hidup di dunia yang bergerak cepat, terbuka, dan memberi ruang luas bagi anak muda untuk tampil. Mereka memang tidak menuntut jabatan, tetapi selalu membutuhkan ruang aktualisasi, kepercayaan, dan pengalaman nyata. Ketika ruang ini tidak mereka temukan di lingkungan NU, maka mereka akan mencarinya di tempat lain. Bukan karena nilai NU salah, melainkan karena kebutuhan perkembangannya tidak terfasilitasi. Merasa tidak diberi ruang kepercayaan.

Di titik inilah keberadaan dan eksistensi lembaga serta banom-banom NU menjadi sangat krusial. GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, LAZISNU, serta lembaga-lembaga NU pada hakikatnya adalah ruang transisi yang disiapkan NU dengan sangat cerdas. Ruang dimana generasi muda bisa langsung berkiprah, belajar memimpin, salah dan memerbaiki, tanpa harus mengganggu stabilitas nilai di pusat struktur NU. Dalam wadah-wadah ini, kader muda bertemu dengan kaum profesional yang lebih berpengalaman sesuai bidangnya. Ruang aktualisasi mereka dapatkan, pengembangan diripun berjalan. Karena itu, banom dan lembaga NU sama sekali bukan pelengkap, melainkan jawaban NU atas kebutuhan zaman.

BACA JUGA:   Santri Pilar Islam Rahmatan Lil Alamin di Indonesia

Contoh konkret yang bekerja nyata bisa kita lihat pada kiprah UPZISNU Kecamatan Klakah, saat ini salah satu UPZISNU paling aktif di Kabupaten Lumajang. Melalui program-program sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, seperti santunan bulanan ±50 anak yatim, respons kemanusiaan, hingga aksi-aksi kemaslahatan sosial lainnya, UPZISNU Klakah tidak hanya menghadirkan manfaat nyata bagi warga Klakah, tetapi juga membuka ruang aktualisasi seluas-luasnya bagi kader muda NU.

Pengurus UPZISNU Klakah banyak mengoptimalkan generasi muda secara langsung dalam perencanaan, penggalangan, distribusi, hingga pendampingan program. Generasi muda ini bergerak, belajar, melihat, dan merasakan langsung dampak dari kerja-kerja khidmah yang dilakukan secara rutin dan konsisten. Berdampingan dengan pengurus yang lebih berpengalaman dalam bermasyarakat, jelas ini bukanlah kerja sesaat tetapi proses yang menumbuhkan kepercayaan publik. Di sini, kata kunci yang disenangi generasi terbaru menemukan artinya. Bergerak dan berdampak.

Ketika banom dan lembaga diberi ruang hidup, generasi muda NU tidak perlu “menyeberang” untuk mencari panggung. Sebab mereka telah mendapatkan tempat untuk tampil, bergerak, dan diakui di rumahnya sendiri. Sebaliknya, ketika banom melemah, yang terjadi justru paradoks santri NU berkiprah pada organisasi lain, tampil di ruang publik atas nama kelompok lain. Bukan karena ideologinya berubah, tetapi karena di sanalah mereka diberi kepercayaan.

BACA JUGA:   Merapikan Komitmen Merespon Kerentanan Bencana

Contoh kecil namun nyata juga bisa kita lihat dalam praktik khotbah Jumat. Di banyak masjid NU, mimbar masih didominasi tokoh-tokoh sepuh para kiai atau ustadz yang sudah mapan, yang tentu kita hormati dan muliakan. Namun, alumni pesantren yang baru beberapa tahun keluar dari pondok relatif jarang diberi kesempatan tampil, meskipun secara keilmuan dan adab sudah layak. Berbeda dengan “sebelah”, dimana kita dengan mudah menjumpai khatib Jumat berusia 30–40 tahunan, bahkan lebih muda, diberi panggung luas untuk membangun kepercayaan diri dan otoritas publik. Dalam jangka panjang, perbedaan ini menentukan apakah NU juga matang dalam regenerasi otoritas keagamaan di ruang publik.

Padahal, skema kepemimpinan NU sejatinya sudah sangat ideal. NU dengan sadar menempatkan kepemimpinan inti mulai dari Ranting NU, MWCNU, PCNU, PWNU hingga PBNU sebagai ruang para ulama dan guru ngaji, para pewaris Nabi. Merekalah kaum Muhajirin yang kita topang dakwah dan khidmahnya dalam menjaga akidah, tradisi, dan wajah Islam rahmatan lil ‘alamin. Pada tangan merekalah keislaman NU tetap aman dan berakar.

Sementara itu, generasi muda NU dan kaum profesional memang disiapkan untuk menemukan ladang khidmahnya di banom dan lembaga-lembaga NU. Di sanalah mereka berproses, bahkan hingga tingkat nasional. Di sana pula mereka bergerak cepat, beraksi nyata, dan bersentuhan langsung dengan persoalan sosial, kebangsaan, ekonomi, pendidikan, serta kemanusiaan tanpa harus memikul beban otoritas keulamaan yang memang bukan wilayahnya.

BACA JUGA:   Menanamkan Nilai-Nilai Aswaja pada Anak Usia Dini

Jika pola ini berjalan sehat, NU tidak kehilangan apapun. Nilai Aswaja tetap terjaga oleh para ulama di pusat struktur, sementara energi, kreativitas, dan idealisme generasi muda tersalurkan dengan baik melalui banom-banom NU. Tidak ada kegamangan identitas, tidak ada migrasi kader, dan tidak ada generasi yang merasa “NU-nya besar tapi kecil ruangnya”. Hal yang bisa terbesit dalam benak kader mudanya jika saja banom dan lembaga NU tidak berjalan semestinya.

Abad kedua NU bukan menuntut NU menjadi tergesa-gesa, melainkan menjadi lebih sadar ekosistem. Memberi ruang bukan berarti melepas nilai, dan mempercayai kader muda bukan berarti menggeser peran ulama. Banom-banom dan lembaga NU adalah jembatan antara kebijaksanaan tradisi dan kebutuhan generasi. NU wajib memperkuat jembatan ini, agar NU tidak hanya aman secara nilai, tetapi juga subur secara kader. Tenang di pusat struktural, dinamis di pinggiran, dan kuat sebagai peradaban.

Tantangan terdekat dalam memasuki abad kedua masehi adalah bersama-sama menguatkan banom dan lembaga, agar kader muda NU tetap berkiprah di rumahnya sendiri.

Oleh: H. Agus Ahmadi, S.Pd. (Ketua PAC GP Ansor Kec. Klakah)