Cinta adalah perasaan yang tumbuh dari seseorang kepada orang yang dicintainya. Cinta akan menjadikan orang yang mencintai untuk mendekati kekasihnya. Ia akan mengidolakan dan meniru segala hal yang berkaitan dengan kekasihnya, baik berupa ucapannya, perbuatannya, atau lainnya.
Menurut Imam Abdullah bin Umar Al-Baidlawi, pengertian cinta adalah:
الْمَحَبَّةُ مَيْلُ النَّفْسِ إِلَى الشَّيْءِ لِكَمَالٍ أَدْرَكَتْهُ فِيْهِ، بِحَيْثُ يَحْمِلُهَا عَلَى مَا يُقَرِّبُهَا إِلَيْهِ
Artinya: “Cinta adalah kecondongan hati pada sesuatu karena sifat sempurna yang terdapat di dalamnya, sekira kecondongan itu mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang bisa membuatnya dekat dengan sesuatu yang dicondonginya itu.” [Tafsir Al-Baidlawi, vol. I, hlm. 337, Maktabah Syamilah]
Jika pengertian cinta tersebut kita kaitkan dengan Rasulullah SAW, maka arti dari mencintai Rasulullah adalah memiliki kecondongan kepada beliau karena sifat sempurna yang dimiliki beliau, sehingga terdorong untuk melakukan hal-hal yang dapat mendekatkan diri kepada beliau.
Dari ini dapat dipahami, bahwa ittiba’ (selalu mengikuti) adalah kelanjutan dari perasaan cinta. Apabila seseorang ingin bertambah gigih dalam mengikuti Rasulullah, maka tidak ada jalan lain kecuali meningkatkan perasaan cinta kepada beliau.
Dalam banyak Hadits, seringkali iman yang sempurna dikaitkan dengan kuatnya perasaan cinta kepada Rasulullah. Diantaranya adalah Hadits:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
Artinya: “Salah satu dari kalian tidak beriman dengan iman sempurna sampai diriku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia. (HR al-Bukhari dan Muslim)
Dalam Hadits riwayat Imam an-Nasa’i ada tambahan redaksi ‘lebih ia cintai dari hartanya’, bahkan dalam Hadits riwayat Imam Ahmad menggunakan redaksi ‘lebih ia cintai dari dirinya sendiri’.
Dalam memaknai Hadits di atas, Imam Ali bin Batthal Al-Bakri Al-Qurthubi menjelaskan: “Barang siapa yang menyempurnakan iman, maka ia menyadari bahwa hak Rasulullah dan anugerah beliau lebih besar dari hak orang tua, anak, dan seluruh manusia, sebab melalui Rasulullah, Allah SWT menyelamatkan umat dari neraka, dan memberi mereka petunjuk dari kesesatan. Maksud Hadits ini adalah menyerahkan jiwa dan raga untuk beliau.” [Syarh Shahih Bukhari, Riyadl: Maktabah ar-Rusyd, 1423 H./2003 M., vol. I, hlm. 66]
Orang yang imannya sempurna tentu akan berbuat adil, yakni akan menempatkan sesuatu sesuai tempatnya. Dalam pembahasan kita adalah memberikan cinta kepada seseorang yang paling layak dicintai.
Keterangan Imam Ibnu Batthal di atas menegaskan bahwa memang sudah selayaknya Rasulullah mendapat pengorbanan dari para umatnya.










