Sejarah Berdirinya Madrasah Nurul Islam Lumajang

oleh -dibaca 461 orang
Madrasah Nurul Islam Lumajang kota sekarang

Berdiri dan berkembangnya Nahdlatul Ulama (NU) dan Madrasah Nurul Islam Lumajang tidaklah bisa dipisahkan dari kegiatan dan jasa Almaghfurlah KH. Anas Mahfudz.

Dua tahun setelah NU berdiri, KH. Anas Machfudz santri Tebu Ireng yang termasuk kategori alim menurut penjelasan Hadrotus Syeh Hasyim Asy’ari dan telah pula menjadi guru di Tebu Ireng, setelah pulang dari pondok pesantren langsung mendirikan Madrasah Nurul Islam Lumajang pada tahun 1928.

Pada saat itu, masyarakat telah sepakat untuk membangunkan sebuah pondok pesantren bagi KH. Anas Machfudz, tetapi Beliau lebih senang mengasuh Madrasah untuk lebih cepat bisa mencetak tenaga-tenaga guru yang bisa segera disebarkan ke pelosok-pelosok desa.

Begitu Madrasah dibuka dengan mengambil tempat di Musholla (langgar)nya Kyai Bakri di Klojen, ternyata banyak peminatnya, sehingga menggugah semangat orang tua untuk segera mengusahakan adanya bangunan gedung Madrasah yang permanen.

Kebetulan di sebelah utara Masjid Jami’ (Masjid Agung, Red.) Jalan Alun-Alun Barat Lumajang ada sebidang tanah dengan bangunan rumahnya.

Madrasah Nurul Islam Lumajang

Harga Tanah Madrasah Nurul Islam Lumajang Pada Saat Itu

Ketika para orang tua mendengar bahwa rumah tersebut akan dibeli oleh Seorang warga keturunan Cina untuk gedung Bioskop. Maka dengan dipelopori oleh KH. Zen Idris, ayah dari KH. Anas Mahfudz, tanah tersebut segera dibeli dari pemiliknya Raden Bronto dengan harga f. 1150.

Diatas tanah tersebut segera dibangun (setelah bangunan rumahnya dibongkar) gedung Madrasah Nurul Islam dua lantai, terdiri dari 6 lokal atas bawah, masing-masing dengan sebuah Kantor, seluruhnya menelan biaya secara gotong royong f.12.000.

Baca Juga:  Sejarah Singkat Pondok Pesantren Al-Mustaqimiyah Lumajang

Pengurus Pertama

Karena yang mempelopori pendanaan dan pembangunan gedung Madrasah itu adalah KH. Zen Idris, maka secara langsung beliau disepakati untuk menjadi Pengurus Madrasah tersebut dengan susunan sebagai berikut:

  1. KH. Zen Idris sebagai Presiden
  2. R.H. Asmuni sebagai Wakil Presiden
  3. KH. Ghozali sebagai Kasir
  4. H. Abd. Fatah sebagai Komisaris I
  5. H. Sanusi sebagai Komisaris II
  6. KH. Faqih sebagai Komisaris III
  7. Kemas H Ja’far sebagai Komisaris IV
  8. H. Zuber sebagai Komisaris V
  9. H. Rasyad sebagai Komisaris VI

Begitulah istilah jabatan yang lazim pada saat itu.

Pada lahan bagian utara gedung Madrasah ini telah pula dibangun 10 kios (bedak) untuk disewakan kepada perorangan yang hasilnya dapat dimanfaatkan untuk memberikan honor kepada para gurunya.

Nilai persewaan waktu itu memang masih sangat memadai. Tetapi setelah perang kemerdekaan, nilai persewaan tersebut sudah sangat tidak memadai untuk bisa dibagikan kepada para guru Madrasah, karena itu sudah sejak tahun 1947 pengurus Madrasah sudah menginginkan untuk membongkar kios tersebut untuk dijadikan halaman Madrasah.

Dengan dibongkarnya 10 kios itu, maka selain bangunan gedung akan tampak megah baik dari timur maupun dari utara, halaman Madrasahpun akan bertambah luas.

Namun keinginan untuk membongkar kios-kios itu tidak berhasil karena para penyewanya tidak ada yang bersedia pindah, sehingga terjadilah sengketa yang berkepanjangan (sampai dengan tulisan ini dibukukan pada tahun 1998 an, Red.) antar pengurus dengan penyewanya.

Baca Juga:  Ribuan Siswa Ma'arif Se-Lumajang Gelar Istighotsah Peringati Harlah NU ke-96

Sejarah Madrasah Nurul Islam Lumajang

Perjuangan KH Anas Mahfudz Terbayar…

Dalam tempo beberapa tahun, keinginan KH. Anas Mahfudz untuk bisa lebih cepat mencetak guru-guru Madrasah ternyata berhasil, para alumnus Madrasah segera dikirim ke pelosok desa baik untuk mengajar maupun untuk mempelopori pendirian Madrasah.

Mereka itu antara lain Kyai Chudlori dikirim ke desa Gerenjeng Senduro, Kyai  Usman dikirim ke desa Labruk, Kyai Baichuni ke desa Pulo, Kyai Sami’an ke Senduro, Kyai Nawawi ke desa Balung Kabupaten Jember, sedangkan Kyai Barizi mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren.

Pada tahun-tahun berikutnya, selain banyak yang menjadi Kyai, alumnus Madrasah tersebut bangak juga menjadi pemimpin masyarakat dan birokrat, antara lain; Drs. Ma’sum Umar pernah menjadi Pembantu Rektor IAIN Surabaya, Drs. Ilyas Bakri pernah menjadi Dekan IAIN Lumajang (cabangnya IAIN Surabaya, Red.), dokter Abd. Rahman Yusuf, dokter Toha Masykur, Letnan Kolonel Anas Zaini dan lain-lain.

Kini Madrasah Nurul Islam tersebut telah menjadi Madrasah Ibtidaiyah (MI)  Maarif NU Kota Lumajang dengan Predikat sebagai Lembaga Unggulan PW. Maarif NU Jawa Timur. Menurut Kepala MI Ustadz Muhaimin Aly jumlah siswa-siswa MI sekarang sebanyak 800-an anak, dan telah memiliki 2 Kampus dengan rincian Kampus 1 di Jalan Alun alun Barat Nomor 2 Citrodiwangsan dan Kampus 2 (baru) di Jalan Kali Glidik Nomor 4 Jogotrunan Lumajang. (Ach)