KH. Fanandri Sampaikan Tiga Pesan Peringatan Hari Santri Nasional

oleh -dibaca 53 orang

NU.LUMAJANG.OR.ID, Lumajang – Drs. KH. Fandri Abdussalam, MM berkesempatan menyampaikan tausiyah pada acara Istighotsah virtual menyambut Hari Santri Nasional (HSN) 2020 di Pendopo Aryawiraraja Lumajang, Kamis malam (22 Oktober 2020).

Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan 3 pesan yang terkandung dalam peringatan hari santri sebagaimana pikiran pokok Keppres nomer 22 tahun 2015 tentang penetapan HSN.

“Tiga pesan yang terkandung dalam semangat resolusi jihad di era millenial ini yang pertama adalah berjihad melawan anarkisme dan terorisme serta gerakan intoleran yang akan memecah belah keutuhan bangsa”, jelasnya

Ia berpendapat bahwa itu selaras dengan visi Rosulullah SAW dalam menyebarkan ajaran islam untuk membenahi akhlak. Artinya revolusi mental menjadi tanggung jawab santri melawan demoralisasi.

Baca Juga:  Cetak Jurnalis Muda, PC LTN NU Gelar Pelatihan Menulis Berita

Saat ini demoralisasi bangsa semakin tampak terlihat dengan indikator maraknya korupsi, pergaulan bebas dan peredaran narkoba. Melalui HSN negara memanggil kita agar ulama dan Santri untuk mengkampanyekan kasih sayang dan kedamaian.

Ia juga memastikan kejadian dalam penyampaian aspirasi Undang-undang Cipta Kerja yang berujung pada anarkisme bukanlah sikap para santri, karena santri telah dibekali akhlak mulia dalam pendidikan pesantren.

“Yang kedua, semangat berjihad melawan kebodohan dan keterbelakangan. Sebagaimana sabda Nabi bahwa orang mukmin yang kuat lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah”, uangkapnya.

Maksud kuat bukan hanya kuat lahiriah dan batiniah tapi juga kuat secara ekonomi. Saat ini santri juga harus menguasai teknologi karen pasar tradisonal sudah bergeser pada market online untuk mengejar ketertinggalan ekonomi.

Baca Juga:  Ketua PCNU Lumajang Launching Kampung Qur'an Desa Kalidilem

“Saya atasnama warga NU juga mengucapkan terimakasih pada Bupati Lumajang dalam mendorong berdirinya BUMTren guna mendongkrak perekonomian pesantren”, ucapnya.

Menurutnya pula, kondisi saat ini minat baca masyarakat yang masih rendah juga menjadi persoalan dalam melawan kebodah termasuk masuk juga ketertinggalan perekonomian masyarakat.

“Yang terakhir adalah berjihad melawan peredaran penggunaan narkotika dan obat psikotropika lainnya”, ulasnya.

Sebagai mana data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) bahwa hanya pesantren yang menjadi salah satu tempat yang sangat minim tempat peredaran narkoba.

Ini menjadi salah satu bukti bahwa santri dam pesantren adalah benteng terakhir dalam upaya melawan nakoba di Indonesia.