Sejarah Singkat Pondok Pesantren Al-Mustaqimiyah Lumajang

oleh -dibaca 566 orang
KH Mahrus Asli Pondok Pesantren Al-Mustaqimiyah Lumajang Website

Pondok Pesantren Al-Mustaqimiyah Lumajang. Bermula dari sebuah Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ) di Musholla Tempean Rogotrunan Lumajang, Almaghfurlah KH. Ali Mahrus merintis sebuah pendidikan al-Qur’an di Rogotrunan Lumajang.

Ketika itu, sekitar tahun 1980-an puluhan santri usia TK-SD belajar mengaji di TPQ tersebut. Mulai dari belajar Baca Tulis al-Qur’an hingga pengenalan Nahwu Shorof diajarkan kepada santri ketika itu.

KH Mahrus Asli Pondok Pesantren Al-Mustaqimiyah Lumajang Website

Selain itu Kyai Lulusan Ponpes Assuniyah Kencong asuhan KH. Jauhari Zawawi tersebut juga mengajar di Pulosari dan beberapa tempat lainnya disekitar kecamatan Lumajang.

Bermula dari Mushola Kecil untuk TPQ

Baru pada tahun 1984 an akhir atas dukungan masyarakat dan para alumni, KH. Ali Mahrus akhirnya mendirikan sebuah musholla kecil di Jl. Kyai Ghozali Gg. II / 19 M (kini Gg. Pesantren, Pen.) serta mendirikan TPQ yang kemudian berkembang menjadi Madrasah Diniyah bahkan menjadi pesantren kecil di tengah kota Lumajang.

Seiring berjalanannya waktu, ratusan bahkan ribuan santri bergantian mengaji di Madrasah Diniyah Al-Islamiyah Al-Mustaqimiyah (MDAAM) Rogotrunan Lumajang.

Baca Juga:  Antisipasi Cegah Covid-19, Ponpes Darun Najah Lakukan Peyemprotan dan Sterilisasi

Karena terbatasnya tempat, maka Ustadz Ali (Pak Ali) masyarakat memanggilnya, membagi waktu belajar menjadi beberapa waktu. Dari ba’da shubuh, waktu dhuha, ba’da dhuhur, ba’da asyar, ba’da maghrib dan terakhir ba’da isya’.

Hal tersebut juga didasari atas pertimbangan usia ataupun kesibukan para santri, sehingga waktu pembelajaran juga menunjukkan tingkatan usia dan kesibukan masing-masing.

Para santri ada yang masih anak-anak, sekolah menengah, mahasiwa, bahkan ada yang sudah bekerja. Tak kurang dari 800an santri setiap hari bergantian mengaji di Madrasah Diniyah Al Mustaqimiyah.

Melihat situasi tersebut, tahun 2000 KH. Ali Mahrus atas masukan masyarakat, alumni dan wali santri, akhirnya mendirikan sebuah bangunan cukup besar berlantai empat untuk memenuhi kebutuhan tempat belajar mengajar para santri.

Disamping itu juga asrama putra dan putri juga direnovasi sedemikian rupa, sehingga daya tampung santri dapat semakin besar.

Baca Juga:  Ketua NU Lumajang Ungkap Begini Terkait Olimpiade Aswaja

Pondok Pesantren Al-mustaqimiyah Lumajang

Adapun metode pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Mustaqimiyah menggunakan metode sorogan dan bandongan. Cara mengaji kitab kuning (kitab klasik) yang banyak digunakan di pesantren di Indonesia pada umumnya.

Selain itu pembagian kelas atau jenjang juga diterapkan di pesantren ini. Para santri dibagi menjadi beberapa tingkatan, dari Sifir (TPQ), Awaliyah, Wustho dan Aliyah.

Kini Pondok Pesantren Al-Mustaqimiyah Lumajang telah memiliki Lembaga Pendidikan formal setingkat SMP, setelah sebelumnya mendirikan program wajar dikdas Paket C dalam beberapa tahun terakhir.

Dan setelah wafatnya KH. Ali Mahrus pada tahun 2014, sekarang Pondok Pesantren Al Mustaqimiyah dilanjutkan oleh putra-putri beliau. Antara lain, Neng Hj. Wahbiyatus Suhriyah, Gus  H. Abdul Fatah (Alm), Gus Fafich Abdah, Neng Nurhayati (menantu), Neng Rifqi Afiqiyah, Gus Nawawi (menantu), Neng Nadiatu Wafrina, Gus Aris Dewantoro (menantu), Gus Itsbatul Bahaij, Neng Ula (menantu).

Ditulis oleh: Achmad Salakhuddin, M.Pd, Alumni Madrasah Diniyah Al-Islamiyah Al-Mustaqimiyah Lumajang.