Kiai Marzuki Mustamar : Tidak Semua yang Tahlilan itu NU

oleh -dibaca 118 orang

NU-LUMAJANG.OR.IDLumajang, Kiai Marzuki Mustamar, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim) berikan sambutan pada pembukaan Muskercab PCNU Lumajang Ahad (02/08/20) di Gedung NU I Akun-Alun Timur Kota Lumajang.

Ketua PWNU menekankan, tidak semua orang yang Tahlilan, membaca Qunut, Wiridan dan Manaqiban itu orang NU. Memang itu semua adalah Amaliyah NU, tapi belum tentu yang mengamalkan adalah orang NU.

“Melakukan Amaliyah NU, tapi masih suka menjelek-menjelekkan orang, menyakiti hati orang, itu bukan NU,” tuturnya.

Ia menjabarkan, jika tidak tepa selira, tidak menjaga rasa kemanusiaan, itu bisa dipastikan bukan NU, karena NU itu selain Amaliyah, juga menerapkan Basyariyah.

“Hablumminallah saja, tidak Hablumminannas, maka tidak diterima. Kenapa NU menerapkan Basyariyah? Karena itu sesuai dengan ajaran yang ada dalam Al-Qur’an,” terangnya.

Kiai Marzuki Mustamar mengungkapkan, tujuan kita berdakwah untuk mengenalkan Islam, agar Islam diterima dengan baik oleh masyarakat, jika dalam bersosial kita tidak baik, masyarakat tidak dapat menerima dakwah kita.

“Sekarang kaum Abangan hampir tidak ada, di setiap desa selalu ada TPQ, ada Mushollah dan Masjid. Karena NU selalu merangkul, meski dimusuhi NU tetep mengajak berkumpul,” paparnya.

Baca Juga:  Ketua PCNU Lumajang Wajibkan 2 Hal ini Bagi Pengurus Yang di SK

Ia melanjutkan, yang bukan NU diajak Kenduren, ketika pulang mendapat Berkat yang sudah dibacakan do’a-do’a dan wirid untuk membuka hatinya agar bertauhid dan membuat raganya menjadi Barokah.

“Selain Basyariyah, NU juga harus Wathoniyah, yaitu cinta Tanah Air. Jika mencintai Nabi adalah Sunnah, maka cinta Tanah Air juga Sunnah,” terangnya.

Ketua PWNU mengingatkan, jika ada orang yang suka nyinyir (menjelekkan) negaranya, sudah dipastikan itu bukan orang NU. Jika ada yang begitu mengaku NU, maka pecat saja dari NU, karena itu membuat nama NU menjadi jelek.

“Karena bagi NU, jika membela Islam itu wajib, maka membela negara sebagai wadah dalam berislam itu juga wajib. Itulah mengapa NU mempunyai Rsolusi Jihad,” jelasnya.

Kiai Marzuki menerangkan, Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Membela Indonesia berarti membela Islam, dan Islam di Indonesia mayoritas Aswaja, jadi membela Indonesia juga berarti membela Aswaja.

“Jumlah umat Muslim di Indonesia berkisar 235 juta jiwa, lebih banyak dari seluruh jumlah penduduk Muslim di negara Arab dan Timur Tengah,” tuturnya.

Ia menambahkan, maka dari itu NU sangat menjaga negara Indonesia agar tidak terjadi perang saudara, karena jika ada perang saudara yang banyak terimbas adalah umat Muslim.

Baca Juga:  Bupati Lumajang Inginkan Percepatan RSNU Jadi Program Unggulan Kabupaten

“Dahulu, Nabi pernah sangat rindu dengan Masjidil Haram, dengan Ka’bah, Makkah, karena itu adalah tanah kelahiran Nabi, tempat Nabi hidup dari kecil dan dibesarkan di sana,” ia bercerita sejarah.

Ketua PWNU melanjutkan, kemudian Nabi memohon kepada Allah agar Kiblat kembali menghadap ke Masjidil Haram. Karena itulah, NU yakin bahwa Hubbul Wathon termasuk Sunnah Nabi.

“Pada saat Nabi hendak Hijrah ke Madinah, Nabi merasa berat meninggalkan Makkah, kemudian Nabi berbalik seraya berkata, Demi Allah, kaulah Makkah, negeri yang paling Aku cintai. Kenapa NU harus Hubbul Wathon? Karena meneladani Nabi,” ungkapnya.

Ia pun mengatakan, Nabi ketika sudah berada di Madinah benar-benar menjaga Madinah agar aman dari musuh sampai terjadi beberapa peperangan untuk mengamankan Madinah.

“Padahal ketika itu Madinah penduduknya bukan hanya orang Muslim, tetapi heterogen, bercampur antara Islam, Yahudi dan Kristen. Hal tersebut sama dengan keadaan Indonesia.

Kiai Marzuki menyimpulkan, ketika Nabi dengan bersungguh-sungguh mengamankan Madinah sebagai negara yang ditinggali, maka kita juga harus mati-matian membela dan menjaga NKRI, negara yang juga kita tinggali.