Menjaga Agama Dengan Menjaga Sanad Keilmuan

oleh -dibaca 62 orang

 

Kecanggihan teknologi merupakan anugrah luar biasa, dengan kemajuan teknologi saat ini menciptakan kemudahan-kemudahan disegala sektor kebutuhan hidup manusia. Berjualan tidak lagi membutuhkan toko atau warung karena teknologi menyediakan fasilitasnya untuk dapat berjualan bahkan pangsa pasarnya bertambah luas. Silaturrahmi, belajar, membeli segala kebutuhan meskipun hanya untuk sebungkus nasi, dan banyak lagi yang lainnya yang disuguhkan oleh teknologi saat ini.

Namun dengan kecanggihan tersebut bukan berarti tanpa masalah, bahkan masalah yang dihadapi dengan adanya kemajuan teknologi semakin bervariasi dan tak jarang juga sebuah negara bisa luluh lantak disebabkan kemajuan teknologi tersebut.

Diantara problem yang diakibatkan adanya kemajuan teknologi adalah mulai terkikisnya budaya menjaga rantai keilmuan atau yang masyhur disebut Sanad. Banyak orang yang mencukupkan diri bahkan merasa paling benar sendiri dengan berani menyesatkan dan membid’ahkan Amaliah orang lain sedangkan ilmu yang dia peroleh berasal dari video seorang ustadz yang tidak jelas dia belajar dimana dan gurunya siapa.

Hal-hal yang demikian menimbulkan problem baru dan jika ini terus dibiarkan bukan tidak mungkin bahkan sekarang terbukti muncul ustadz-ustadz instan yang secara keilmuan bisa dibilang belum mumpuni dalam hal keagamaan dapat bebas menyampaikan fatwa-fatwanya bahkan menjadi panutan masyarakat.

Oleh karena itu Kemurnian ajaran agama Islam dapat terjaga melalui sanad keilmuan dari seorang guru ke guru. Dan sanad atau Isnad inilah yang tidak dimiliki oleh Selain Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Baca Juga:  Rumah Sahabat Abu Ayyub, Rumah Pertama Yang Di Tempati Rasulullah SAW Ketika Hijrah ke Madinah

Abdullah bin Mubarak, salah satu murid Imam Malik berkata :

الاسناد من الدين ولولا الاسناد لقال من شاء ماشاء

Artinya: “ Isnad /sanad merupakan bagian dari agama, dan apabila tidak ada sanad maka orang akan seenaknya mengatakan apa yang ingin ia katakan.“

Sufyan Ats-Tsauri berkata :

الإسناد سلاح المؤمن فإذا لم يكن معه سلاح فبأي سلاح يقاتل
Artinya: “Sanad / isnad adalah senjata orang mukmin, jika ia tidak memiliki senjata maka dengan apa ia berperang?”

Betapa pentingnya Sanad keilmuan sehingga dimasukkan dalam bagian dari agama, ketiadaan sanad atau ketidakjelasannya jelas merupakan nilai minus dalam beragama. Bahkan Sanad sendiri diibaratkan sebagai senjata seorang mukmin yang artinya jika hanya ilmu tanpa kejelasan sanadnya sama halnya dengan dia tidak punya senjata untuk berperang.

Selain kejelasan sanad keilmuan hal terpenting yang juga harus diperhatikan adalah latar belakang guru yang kita anggap sebagai lumbung ilmu yang akan kita ambil darinya. Ibnu Arabi berkata :

فما زال السلف يزكون بعضهم بعضا و يتوارثون التزكيات خلفا عن سلف ، و كان علماؤنا لا يأخذون العلم إلا ممن زكي وأخذ الإجازة من مشايخه.

Artinya: “Para ulama salaf selalu memuji satu sama lainnya, dan terus terwariskan dari generasi ke generasi, dan demikian para ulama kita, tidak mengambil ilmu terkecuali dari orang yang bersih dan mengambil ijazah dari para gurunya.”

Baca Juga:  Politik Kekerasan Pengusung Khilafah Ciderai Nilai Kemanusiaan

Para ulama di antaranya imam Malik bin Anas, Ibnu Sirin dan lainnya berkata:

إن هذا العلم دين ، فانظروا عمن تأخذوا دينكم

Artinya: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu.“

Dari semua apa yang disampaikan Ulama terdahulu sangatlah jelas, kewaspadaan dalam memilih guru harus diperhatikan, jangan asal comot dan memakan mentah setiap orang yang penampilan dan penyampaiannya seperti orang alim, harus benar-benar jelas sejelas-jelasnya bahwa orang yang akan kita jadikan panutan adalah orang yang lurus dalam kefahaman agamanya, lurus dalam kefahaman berbangsa dan bernegaranya, dan Alhamdulillah NU menjaga itu semua hingga saat ini.

Terakhir, berhati-hatilah dengan jargon “kembali kepada Al Kitab dan As Sunnah”. Jargon yang seoalah-olah manis dan benar ini merupakan
“كلمةالحق أريد بها الباطل”
“Kalimat benar yang dimaksdukan untuk kebatilan.”

Bukan tanpa alasan, jargon yang sering didengungkan oleh mereka yang katanya menjaga kemurnian agama ini, menjadi dasar mereka menolak warisan keilmuan para Ulama bahkan mereka dengan berani menolak empat madzhab yang notabenenya menjadi pegangan mayoritas umat Islam di Dunia, ini merupakan pembodohan dan akan merusak sanad keilmuan.

 

 

 

Oleh: Sufyan Arif

Penulis adalah Alumni Pon Pes Assunniyyah Kencong-Jember