Ustadz Itu Pengabdian, Bukan Pekerjaan

oleh -dibaca 148 orang

Tiba tiba Ayahku memanggilku, beliau berkisah tentang sosok ustadz di kampungku. Sebut saja Wakdi.

“Wakdi itu dalam hidupnya, mengajarkan agama di desa kita, dan memberi sedekah pada orang yang membutuhkan pekerjaan,” ujar Ayahku.

Ayahku juga mengatakan, kalau sudah panen Padi, masayarakat sini, diberi gabah buat kebutuhan sehari hari, jadi hasil panenya untuk kebutuhan sosial, bukan hanya untuk diri sendiri.

“Dan oleh karena itu, jadi ustadz itu mesti kaya dulu, minimal punya pekerjaan yang jelas, sehingga tak kesulitan untuk mengajarkan agama,” petuah penting Ayah.

Baca Juga:  NU Itu Mencintai Habaib, dan Habaib Sejati Pasti Mencintai NU

Sembari mengasah celurit, Ayahku berpesan, coba pelajari sejarah Mbah Hasyim As’ari, Kiai As’at Sukorejo, Kiai Patempuran, atau Kiai Johari Zawawi. Beliau-beliau itu, ekonominya kuat, mapan, maka pondoknya kuat dan tak membebani umat.

“Wakdi dulu, tidak mau disumbang masyarakat, apalagi Negara. Karena bagi tokoh kampung kita ini, ustadz itu mengabdi bukan pekerjaan. Prinsip dasarnya, lebih baik nyumbang dari pada disumbang” pungkas Ayah sambil membawa Cangkul menuju Sawah.

Baca Juga:  Guz Reza: Jangan Koyak Persatuan Hanya karena Masalah Salam

Setelah Ayah berangkat ke sawah, aku merenung, utadz dulu dan sekarang memang beda.
Tapi ngomong ngomong yang beda apanya ya ?

Ah, dari pada pusing cari jawaban, mending nonton para ustadz ceramah politik di Masjid aja deh, biar tambah pusing!

 

Penulis : Musthofa Zuhri