Determinasi Covid-19 Bangsa Indonesia

oleh -dibaca 347 orang

 

Hampir beberapa bulan ini masyarakat kita berada diantara titik dan koma. Diam atau mati dalam tekanan, berdiri tegak namun mati dalam kekonyolan. Begitulah misteri Covid-19 yang terus menghantui psikologi bangsa ini.

Dampak global Covid-19 memang menjadi problem yang amat sangat serius. Ia (Covid-19) menggurita dimana-mana. Tentakel pandemi ini tidak bisa disangkal, sehingga sangat berefek pada pondasi kebutuhan keberlangsungan hidup manusia pada suatu negara terdampak.

Kita tahu, pandemi ini dalam sistem penularannya tak mengenal toleransi soal pranata sosial. Faktanya menteri terpapar, kepala daerah juga, Iya. Bahkan perangkat medical, dokter dan perawat tak jarang melayang nyawanya akibat virus mengesalkan ini.

Puyeng dech…!!

Bicara terdampak, hampir kesemuanya terdampak. Apalagi mengenai ekonomi dunia yang mulai linglung, sehubung pemutusan jejaring ekonomi eksport-import yang diduga beresiko membawa virus dan bisa melumpuhkan segala aktivitas administratif suatu perekenomian dalam suatu negara.

Bahkan yang terjadi, ada beberapa negara dunia menerapkan sistem “lockdown” Justru berakibat memicu penjarahan dan menciptakan kriminalisasi massal. Kemungkinan yang terjadi dikarenakan sistem tersebut tidak cocok menjadi sumber pemutusan rantai pandemik tanpa melihat pada substansi kondisi sosial-kultur-ekonomi di negaranya.

Beruntung Indonesia tidak gegabah..!!

Memang benar, para tokoh dunia sempat saling tuduh, terkadang saling lambung sindir bahwa pada dasarnya pusara Covid-19 hanya merupakan kepentingan “konspirasi elite dunia” untuk menggenggam dunia dengan cara kuasai farmasi.

Parameter kekuatan negara adidaya saat ini adalah terletak pada “vaksin”. Bukan pada kecanggihan alat tempur, kuantitas dan kualitas serdadu dalam karakter militeristik.

Ideologisasi dan kuasa dagang.

Variabel pendekatan kuasa teoritik antara komunisme versus kapitalisme adalah representasi China vs Amerika (USA) dalam hal agregasi ekonomi kali ini. Dan pastinya tak terbendung lagi efeknya oleh pihak negara dunia ke-tiga untuk tetap melakukan langkah kongkrit, minimal bersikap defensif.

Dan barang tentu Alat-alat penunjuang medical, vaksinasi dan obat kesehatan merupakan komponen transaksional yang merupakan sumber “kapling kapital strategis” dalam menguasai ekonomi dunia.

Baca Juga:  Kenapa Orang Jawa Tidak Mantu di Bulan Suro?

Selain biaya produksi yang murah, ketergantungan manusia pada obat atau vaksin akan terus dibutuhkan. Perputaran ekonomi dunia selain kecanggihan robotik, minyak atau sumber energi lainnya, kesemuanya akan dikalahkan oleh peran kuasa kesehatan. Dalam konteks ini, kita harus mengakui bahwa ada sarana determinasi pada kelangsungan hidup manusia.

Masih segar dalam ingatan kita, sebenarnya Virus Corona sudah diprediksi oleh Bill Gates sang pendiri Microsoft sejak 2015. Ia berpendapat saat kampanye bencana virus flu tahun 2015, bahwa risiko terbesar bencana global bukan lagi bencana nuklir melainkan bencana virus. Bill Gates bahkan juga dikabarkan sudah menyiapkan vaksin Virus Corona, padahal untuk membuat vaksin memerlukan riset yang tidak sebentar.

Atas prediksinya itu Bill Gates dilamar banyak tuduhan bahwasanya orang terkaya dunia ini sebagai misionaris konspirasi elite dagang dunia.

Seperti yang disampaikan Rory Smith dari organisasi pemeriksa fakta First Draft New.

“Dia adalah semacam boneka Voodoo yang ditusuk oleh semua masyarakat dengan konspirasi mereka sendiri. Dan tidak mengherankan jika dia menjadi boneka Voodoo karena dia selalu menjadi wajah kesehatan masyarakat.”

Selain Rory, ada juga dibelahan negara eropa Sara Cunial, menyerukan penangkapan Co Founder Microsoft, Bill Gates. Ia menggebu-gebu berpidato di latar parlemen Itali Roma. Tokoh yang dikenal aktivis anti-Vaksin menuduh Bill Gates sebagai “penjahat vaksin dan instrument para globalis”. Bill Gates, memang sangat aktif selama bertahun-tahun menyuarakan pentingnya vaksin kesehatan. Untuk itu sangat wajar jika Bill Gates oleh para ahli “teory konspirasi” dituduh sebagai mantel konspirasi elite global.

Amerika (Trump) tidak diam, ia harus balik melakukan tuduhan serampangan kepada China. Suksesi konspirasi baginya jangan sampai melukai kekuasaannya. Tak ayal Amerika memojokkan China sebagai pelaku utama penyebaran Virus Covid-19 melalui pusat laboratoriumnya di Wuhan. Dalam hal ini jika dilihat pada perspektif historis, beberapa timbulnya suatu pandemik hampir kesemuanya diabad baru ini memang berawal dari China.

Baca Juga:  Kader NU Tekung Bersatu Lawan Covid-19

Atas tuduhan itu Cina melalui Li Yucheng tolak keras “konspirasi”. Ia kembali menegaskan bahwa virus corona baru penyebab Covid-19 bukan berasal dari laboratorium di Wuhan. Karena Corona melalui para ahlinya semua bermula secara natural dan tidak disentesis secara artifisial. Dengan dibuktikan hasil analisis corona sudah ia tuangkan dalam jurnal medis yang kredibel.

Lalu bagaimana dengan Indonesia???

Apapun negara ini harus peka pada keadaan perang dagang dunia. Semua bisa mungkin terjadi bahwa itu adalah sirkus elite global. Antisipasi pemerintah dari segala aspek terkait pandemi mau tidak mau harus tetap diupayakan.

Benar adanya negara ini adalah negara nasionalis-relegius. Bangsa ini mempercayai bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendak Tuhan. Namun sebagai negara yang menjalin kerjasama diantara 2 negara kaya ini, juga harus pandai menempatkan posisinya agar tidak terpengruh pada keadaan asumsi konspirasi global. Sehingga negara ini lebih fokus pada kinerja tekhnis untuk mengamputasi pandemik ini.

Mewabahnya Covid 19, seharusnya menjadi dinamika memorable bagi pemerintah Indonesia. Hikmahnya setelah Corona menyebar di negeri ini, kita baru tahu terkait obat dan alat kesehatan di negeri ini sangat memprihatikan. Dan bahkan menjadi perdebatan bahwa tak hanya mafia migas yang ada, tetapi ternyata ada juga kartel kesehatan yang lebih mengutamakan import obat dan alat kesehatan dari pada memproduksi sendiri.

Sebagai negara kepulauan (maritim) terluas dunia dan berpenduduk besar dunia. Seharusnya kita menjadikan situasi global sebagai ajang kesempatan (opportunity) untuk kepentingan kekuatan peran politik dagang global.

Caranya..??? Yakinkan bahwa bangsa ini lebih seperior dari bangsa lain.

 

 

Oleh: Ikbal Zamzami

Penulis merupakan Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LBH NU) Lumajang.