Hina Ketum PBNU, Akhirnya Pria Asal Randuagung Minta Maaf

oleh -dibaca 956 orang

NU-LUMAJANG.OR.ID, Randuagung. Setelah beberapakali dimediasi anggota Pengurus Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Randuagung Lumajang karena menghina Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj akhirnya Hendra Aprilianto menyampaikan permohonan maaf.

Melaui pesan Whatsapp pada Selasa (16/6/2020), pria yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di Surabaya ini menyampaikan permintaan maafnya secara tertulis yang dibubuhi materai dan disertakan video.

Masalah ini bermula dari laporan anggota Cyber GP Ansor Lumajang yang menemukan status fecebook dari akun Lian April Fengky yang salah satunya menulis umpatan “WOY CCOOOOKKKKK LONGOR ONOK NENG NGAREPKU TAK IDEK LAMBEMU CCOOOKKKK” dengan memasang foto Kiai Said Aqil Siradj dibawahnya.

Hina Ketum PBNU, Akhirnya Pria Asal Randuagung Minta Maaf
Postingan Hendra yang menghina Kiai Said

Setelah ditelisik, Hendra adalah Alumni SMK Swasta di Kecamatan Randuagung yang saat ini diketahui dan tinggal di Desa Tunjung.

Berdasar informasi yang didapat, PAC GP Ansor mencoba mendatangi rumah yang ditempati Hendra, namun yang bersangkutan tidak ada di rumah karena menurut keterangan kerabatnya saat ini sudah pindah tempat dan bekerja di Surabaya bersama keluarganya.

Baca Juga:  Fatayat NU Randuagung Bagikan Ratusan Takjil dan Masker

Ketua GP Ansor Randuagung Minal Faizin mengatakan pihaknya mendapatkan perintah dari Cabang untuk melakukan mediasi demi mencegah kesalahpahaman, pihaknya mengajak Hendra bermusyawarah secara online yang difasilitasi Kepala Desa Tunjung dan disaksikan Katib Syuriah MWCNU Randuagung.

“Kami tidak melarang perbedaan pendapat, tapi jika tidak sepaham dengan dirinya lantas menista atau mencemooh kepada tokoh secara pribadi, maka itu jelas sebuah pelanggaran. Apalagi, KH. Said adalah Kiai sekaligus pemimpin kami,” kata Faizin.

“Seharusnya ide atau gagasan, lawanlah dengan gagasan juga yang lebih rasional berdasar data dan fakta, bukan malah emosi dan menghinakan orang lain,” imbuhnya.

Hendra meminta maaf atas statementnya. Dia menulis dan menandatangani surat bermaterai disertai video yang menyatakan permohonan maaf atas kekhilafannya dan tidak akan mengulanginya kembali.

“Saya mohon maaf kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama dan juga kepada seluruh masyarakat secara umum yang merasa sakit hati dengan pernyataan saya,” kata Hendra.

Baca Juga:  Ansor Metro Gelar Shalat Gaib dan Tahlil untuk Kasatkornas Banser

Ia beralasan, postingannya tersebut dibuat karena waktu itu suasana hatinya sedang emosi dan labil, bahkan akun Facebook yang ia gunakan dalam satu bulan terakhir sudah tidak aktif.

Pihak PAC GP Ansor Randuagung lantas melaporkan hasil mediasinya untuk dilaporkan pada pengurus Cabang Ansor Lumajang.

“Pada dasarnya kami menerima permintaan maaf Hendra meski tidak secara langsung karena memang yang bersangkutan masih di Surabaya dan tidak bisa dihadirkan ke Lumajang karena situasi Covid-19 saat ini,” jelas Faizin.

Hina Ketum PBNU, Akhirnya Pria Asal Randuagung Minta Maaf
Surat permohonan maaf Hendra kepada warga NU

“Saya hanya berpesan agar memanfaatkan media sosial itu secara positif agar tidak bermasalah secara hukum. Ibarat kata pepatah “Mulutmu, Harimaumu” Jangan sampai masuk dalam ranah pencemaran nama baik atau ujaran kebecian yang melukai perasaan orang lain,” ujarnya.

Ia juga mengucapkan banyak terima kasih pada Kepala Desa Tunjung, Nurholis Majid dan Katib Syuriah MWCNU Randuagung KH. Kholil Abdy yang telah banyak membantu hingga masalah ini bisa selesai secara kekeluargaan.