Ternyata, Puasa Berimpilkasi Meningkatkan Kesejahteraan Seorang Muslim

oleh -dibaca 98 orang

NU-LUMAJANG.OR.IDLumajang, Syuriyah PCNU Lumajang Drs. KH. Fanandri Abdussalam, M.M. menyampaikan tausiyah “Puasa, Taqwa dan Sejahtera” pada Program Spesial Ramadlan Ngaji Online oleh LTN NU Lumajang di pertemuan ke-27, pada Rabu (20/05/20).

Abah Fanandri, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa berdasarkan Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183, jalan kesuksesan seorang Muslim berdasarkan input dan outputnya.

“Jadi inputnya adalah Iman, prosesnya adalah puasa, outputnya adalah taqwa, dan outcomenya adalah sejahtera,” paparnya.

Ia melanjutkan, Iman adalah pondasi, Iman harus ada dalam setiap diri seorang Muslim, dan Iman adalah anugerah yang paling berharga.

“Allah memberikan harta benda kepada semua manusia, tetapi Allah hanya memberikan Hidayah Iman kepada hamba yang dicintainya,” ungkapnya.

Mantan Ketua PCNU Lumajang itu menjelaskan, keberadaan Iman dalam diri seorang Muslim, itu adalah indikator kecintaan Allah kepad kita.

“Semakin tinggi kadar Iman kita, mengindikasikan semakin besarnya cinta Allah kepada kita, semakin rendah kadar Iman kita, mengindikasikan semakin rendah kecintaan Allah kepada kita,” tuturnya.

Baca Juga:  Gus Fazlul : Update Hubungan Kita dengan Quran dengan Takholli, Tahalli, dan Tajalli

Ia menjelaskan, Iman yang menjadi pondasi dikuatkan dengan sebuah proses puasa. Puasa secara bahasa adalah menahan diri dari hawa nafsu.

“Secara syariah, puasa adalah menahan diri dari makan, minum dan menggauli istri mulai dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari dengan cara mendekatkan diri kepada Allah dan mengendalikan kehendak,” ungkapnya.

Ia pun menerangkan, Iman yang diproses dengan puasa akan menghasilkan taqwa. Taqwa adalah menjalani segala perintahnya, menjauhi segala larangannya, baik sendirian ataupun di keramaian.

“Puasa adalah proses yang mengajarkan komitmen dan konsisten, karena ada atau tidak ada orang tidak akan makan, maka kemudian menghasilkan taqwa, dan dari taqwa akan menghasilkan sejahtera,” jelasnya.

Syuriyah PCNU Lumajang itu menyampaikan, Allah memberikan jalan keluar atas masalahnya bagi orang yang bertaqwa, dan Allah akan memberikan rizqi dari jalan yang tidak terduga.

Baca Juga:  Inilah 14 kunci diterimanya Ibadah

“Maka dalam masa pandemi ini kita tidak bisa hanya mengandalkan social distancing, tapi ini adalah waktu untuk meningkatkan ketaqwaan kita,” terangnya.

Ia melanjutkan, dalam Ilmu Pengetahuan, taqwa dan sejahtera itu berkolerasi. Seorang Ilmuwan bernama Thomas J. Stenly melakukan penelitian dengan 1.001 responden, kurang lebih 730 diantaranya adalah konglomerat.

“Dari penelitian tersebut menghasilkan 33 faktor sukses, faktor yang menempati urutan pertama adalah kejujuran, dan kejujuran itulah yang dibangun melalui puasa,” tuturnya.

Abah Fanandri menjelaskan, jujur adalah akar dari percaya. Lalu kepercayaan seiring dengan kesejahteraan. Maka dari itu Iman diproses dalam puasa, kemudian menghasilkan taqwa, salah satunya adalah sikap jujur.

“Lalu jujur menghasilkan kepercayaan, dan kepercayaan berjalan seiring dengan kesejahteraan,” pungkasnya.