Begini Ciri-ciri Manusia Setengah Dewa

oleh -dibaca 46 orang

NU-LUMAJANG.OR.IDLumajang, Sekretaris RMI NU Lumajang, Gus M. Kun Muhandis menyampaikan tausiyah “Target Puasa Menjadi Manusia Setengah Dewa” pada Program Spesial Ramadlan Ngaji Online oleh LTN NU Lumajang di pertemuan ke-23, pada Sabtu (16/05/20).

Ia menyampaikan, dahulu pada zaman Tabi’in ada seorang cendekiawan bernama Ahnaf bin Qais yang suka berpuasa hingga usia tuanya.

“Ternyata, Ahnaf bin Qais ini bertanya kepada seorang dokter tentang obat yang mujarab, dan dokternya menjawab, lapar,” tuturnya.

Ia melanjutkan, cendekiawan itu bertanya lagi kepada Ahli Hikmah, bagaimana caranya agar bisa masuk di pintu-pintu hikmah, ia mendapat jawaban lapar lagi.

“Lalu dia bertanya lagi kepada ahli ibadah, apa yang membuat suka ibadah, dijawablah lapar, bertanya lagi pada Ahli Ilmu, apa yang membuat mendapatkan ilmu, dijawab juga lapar,” jelasnya.

Ia menambahkan, cendekiawan itu bertanya pada orang yang Zuhud, bagaimana cara bisa sampai pada Zuhud, jawabannya lapar, bertanya pada seorang Raja, makanan apa yang paling enak, Raja menjawab makan di saat lapar.

“Oleh karena itu Ahnaf bin Qais suka berpuasa, karena ia bisa mendapatkan segalanya, termasuk kesehatan jasmani,” terangnya.

Baca Juga:  LTNNU Lumajang Wujudkan Media Rujukan Nahdliyin

Ia memaparkan, yang dimaksud dengan manusia setengah dewa adalah manusia yang bertaqwa, manusia yang mempunyai sifat ketuhanan melebihi basyariyahnya, karena manusia berpuasa untuk bertaqwa.

“Lebih mudahnya, manusia setengah dewa adalah ia yang memaknai hidup dengan rasa ketuhanan yang lebih besar, artinya ia meyakini bahwa yang lebih besar yaitu Tuhan,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan, bahwa di Al-Quran telah dituliskan dengan kata ‘kutiba’ yang sering diartikan diwajibkan, sedangkan makna aslinya adalah tercatat.

“Sebenarnya orang-orang mukmin telah tercatat untuk puasa, artinya mereka secara sadar tanpa terbebani bahwa puasa adalah sebuah kewajiban, mereka melakukannya,” tuturnya.

Ia melanjutkan, puasa maknanya adalah imsak, yaitu menahan diri. Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan, yakni sesuatu yang bisa merusak.

“Maka apapun bentuknya yang menahan, itu namanya puasa, namun yang ditekankan adalah lapar dan dahaga, karena orang kalau sudah lapar dan dahaga tidak akan bersemangat melakukan sesuatu yang tidak diridhoi Allah,” paparnya.

Ia menerangkan dalam Kitab Insan Kamil Al-Jilli dikatakan bahwa puasa adalah isyarat untuk mencegah dari keperluan-keperluan yang sifatnya basyariyah agar memiliki sifat shomadiyyah.

“Sifat shomadiyyah adalah sifatnya Allah, artinya tidak memiliki tempat bergantung, tidak tergantung pada apapun dan siapapun, karena hanya Allah tempat bergantung,” jelasnya.

Baca Juga:  Inilah 14 kunci diterimanya Ibadah

Ia melanjutkan, shomad juga memiliki arti sempurna, baik dalam ilmunya, kekuasaannya, hikmahnya, keperkasaannya, kemuliaannya, dan dalam semua sifat.

“Ada lagi makna shomad yaitu sesuatu yang tidak punya rongga atau perut dan usus. Puasa sebenarnya bukan sifat manusia, tidak makan dan tidak minum itu sifat Tuhan,” ungkapnya.

Ia menerangkan, maka manusia untuk berpuasa harus melampaui sifat basyariyahnya. Firman Allah dalam Hadits Qudsi, ‘puasa itu milikku, maka akulah sebagai balasannya’.

“Jadi orang berpuasa itu bukan hanya akan mendapatkan pahala, akan tetapi Allah yang akan menjadi balasannya,” tuturnya.

Ia menambahkan, maka manusia yang memiliki sifat shomadiyyah, merasa tidak butuh apapun, merasa cukup hanya dengan bergantung kepada Allah.

“Maka dari itu, manusia yang telah mencapai pada ketaqwaannya, bersifat shomadiyyah, maka dia telah mencapai target puasa menjadi manusia setengah dewa,” pungkasnya.