Ketua PCNU Lumajang : Ikhlas Sebagai Dasar Puasa, Sabar Sebagai Penguatnya

oleh -dibaca 26 orang

NU-LUMAJANG.OR.IDLumajang, Ketua PCNU Lumajang, Gus Moh. Mas’ud, S.Ag., MA. menyampaikan tausiyah “Telaah Ikhlas dan Sabar Sebagai Ruh Puasa” pada Program Spesial Ramadlan Ngaji Online oleh LTN NU Lumajang di pertemuan ke-20, pada Kamis (13/05/20).

Ia menyampaikan bahwa Ikhlas adalah pondasi paling utama dalam semua ibadah. Oleh karena itu oara Ulama selalu menyampaikan tentang pentingnya niat.

“Niat itu tidak harus dilafadzkan, niat adalah menyengaja sesuatu dengab mengawali perbuatan yang akan dikerjakan, yang asalnya dari hati,” tuturnya.

Ia melanjutkan, dalam setiap niat ibadah selalu diakhiri dengan kalimat ‘Lillahi Ta’ala’, itu artinya kita diminta mengerjakan sesuatu hanya karena Allah Ta’ala, bukan karena tendensi lain.

“Terkait dengan puasa, saya ingin mengungkapkan hal yang menarik, saya pernah bertemu dengan seorang Dokter yang tengah menempuh S3 nya di bidang Dokter Spesialis,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Dokter tersebut menemukan sebuah penelitian Tesis dari Barat tentang orang yang berpuasa, bahwa orang yang berpuasa menjadi lemah fisiknya, dan perubahan selnya menjadi negatif semua.

“Kemudian Dokter ini yang seorang Muslim melakukan penelitian yang justru hasilnya menguntungkan, orang yang berpuasa sel dalam tubuhnya menjadi lebih mudah berganti dengan sel yang baru,” terangnya.

Baca Juga:  Inilah Tiga Pondasi Penting Membentuk Karakter Muslim Yang Baik

Kemudian ia menjelaskan, bahwa ia mencari perbedaan penelitian orang Barat dengan Dokter Muslim tadi, dan perbedaan terletak kepada objeknya.

“Orang Barat tadi memakai objek orang berpuasa yang ia bayar, hanya untuk penelitian, sedangkan Dokter tersebut objek penelitiannya seorang santri di Nurul Jadid,” ungkapnya.

Ia memaparkan, jadi perbedaannya mendasarnya adalah pada niat, orang Barat tadi mau berpuasa karena dibayar, sedangkan para santri berpuasa dengan niat yang sudah benar-benar ditata sedemikian rupa.

“Rasulullah SAW bersabda, berpuasalah dengan Iman dan Ihtisab (tidak mengharap apa pun), maka Allah akan memaafkanmu,maka sebaiknya semua ibadah didasari oleh Ikhlas,” imbuhnya.

Ia pun menerangkan, tingkatan ikhlas bermacam-macam, tingkatan orang awam melakukan semuanya dengan berharap apa yang diinginkan.

“Ikhlas tingkatan yang selanjutnya adalah ketika seseorang beribadah karena mengharap surga-Nya dan dijauhkan dari siksa-Nya,” tuturnya.

Ia menambahkan, tingkatan ikhlas yang murni adalah ketika seseorang yang beribadah tanpa mengharap apapun, tidak peduli dengan pahala dan dosa.

Baca Juga:  Kiai Darwis Berikan Tips Agar Tidak Bosan Saat Dirumah

“Terkenal seorang Sufi perempuan, Rabi’ah Al-Adawiyah, suatu ketika ia terlihat sedang membawa bara api di tangan kanan dan air di tangan kiri,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, lalu ada seseorang yag bertanya kepada Rabi’ah, untuk apa api dan air itu, Rabi’ah menjawab, api ini untuk membakar surga, agar orang-orang beribadah bukan karena surga, dan air untuk menyiram neraka, agar orang-orang beribadah bukan karena takut neraka.

“Maka dari itu ikhlas dalam berpuasa itu menjadi sangat penting, yang kedua sabar, puasa adalah ibadah yang melatih sifat sabar,” jelasnya.

Ia menerangkan, sebuah respon terhadap sesuatu yang kita alami, namun sabar sering disalahartikan sebagai sesuatu yang pasif, seperti dianiaya diam saja, dan lainnya.

“Sabar itu bukan sesuatu yang pasif, sabar ada waktunya, sabar dalam musibah atau ujian, sabar dalam meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah, dan sabar dalam menjalankan perintah,” terangnya.

Terakhir ia menyampaikan, dalam hal berpuasa, selain harus sabar menahan dahaga dan lapar, seseorang harus bisa sabar dalam mengendalikan hawa nafsu yang lainnya.