Tingkatkan Taqwa di Bulan Ramadlan dengan Muhasabah Diri

oleh -dibaca 26 orang

NU-LUMAJANG.OR.IDLumajang, Katib PCNU Lumajang, Kiai Ahmad Syaikhu, S.Ag., MA. menyampaikan tausiyah “Ramadlan Sebagai Momentum Muhasabah dan Meraih Peluang” pada Program Spesial Ramadlan Ngaji Online oleh LTN NU Lumajang di pertemuan ke-21, pada Kamis (14/05/20).

Ia menyampaikan bahwa manusia diciptakan dengan tiga tujuan. Pertama, untuk menyembah Allah SWT. Kedua, untuk menjadi Khalifah di muka bumi.

“Semuanya tersebut akan kembali kepada Al-Qur’an sebagai petunjuk kita. Ramadlan adalah momentum turunnya Al-Qur’an pada Lailatul Qadar, di mana Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda antara yang haq dan yang bathil,” tuturnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan hal tersebut kita harus melakukan muhasabah diri, mengoreksi lagi apakah kehidupan kita, cara hidup kita sudah sesuai dengan yang dituliskan dalam Al-Qur’an atau tidak.

Baca Juga:  Peringati Isra' Mi'raj, LTN-LTM NU Gelar Pelatihan Website Masjid

“Maka dari itu, sebagai hamba dan khalifah di bumi ini, waktu yang paling tepat untuk bermuhasabah adalah di bulan Ramadlan, di mana Al-Quran diturunkan, dan waktunya cukup lama, ssatu bulan,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, kita tidak bisa memahami Al-Quran dari kata perkata saja, tapi kita juga harus memelajari Hadits, Sirah Nabawiyyah dan sunnah-sunnah sebagai penjelas dari Al-Quran.

“Maka dari itu, di bulan Ramadlan kita harus Tadarus Al-Quran, mengkaji Al-Quran, bukan hanya sekadar membaca, tetapi juga memahami maknanya,” lanjutnya.

Ia juga mengungkapkan, puasa di bulan Ramadlan tujuannya adalah untuk meningkatkan ketaqwaan manusia. Begitu juga dengan seluruh ibadah lainnya, tujuannya sama untuk meningkatkan ketaqwaan.

“Karena taqwa adalah satu-satunya tolak ukur manusia di hadapan Allah. Maka sekali lagi, kita harus melakukan muhasabah, agar tahu seberapa taqwa kita kepada Allah,” tuturnya.

Baca Juga:  Waspada, Kenali Hal-hal yang Membuat Puasa Ramadlan Menjadi Batal

Ia menjelaskan, umur manusi hanya sebatas 70-80 tahun, akan tetapi ketaqwaan manusia terkadang lalai, oleh karena itu di bulan Ramadlan ini ada Lailatul Qadar yang nilai ibadahnya sama dengan 83 tahun, 4 bulan.

“Manusia diciptakan sebagai makhluk yang lemah, yang lebih banyak lalainya, maka di bulan Ramadlan ini kita harus banyak-banyak beristighfar, ampunan Allah SWt sangat luas,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa barangsiapa yang diterima taubatnya oleh Allah SWT, maka ia selayaknya manusia yang baru lahir tanpa dosa sedikitpun.

“Oleh karena itu, mari kita bermuhasabah di bulan Ramadlan ini, menyadari setiap kesalahan, dan memohon taubat kepada Allah, agar terhindar dari siksa neraka,” pungkasnya.