Wakil Ketua LD PBNU Bongkar Cara Meraih Lailatul Qadar

oleh -dibaca 66 orang

NU-LUMAJANG.OR.IDLumajang, Wakil Ketua LDNU PBNU, KH. M. Nur Hayid menyampaikan tausiyah “Meraih Lailatul Qadar” pada Program Spesial Ramadlan Ngaji Online oleh LTN NU Lumajang di pertemuan ke-18, pada Senin (11/05/20).

Dai program Cahaya Hati Indonesia tersebut menjelaskan, malam Lailatul Qodar disebutkan dalam Al-Quran yaitu diumpamakan dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan, jika dihitung tahun menjadi 83 tahun, 4 bulan.

“Pada malam itu, para malaikat turun ke Bumi dipimpin langsung oleh Malaikat Jibril, atas izin Allah SWT untuk melihat siapa saja yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dan menebar keselamatan di Bumi sampai terbit fajar,” jelasnya.

Ia pun memaparkan, dalam sebuah kitab Tafsir Qusairi, beliau mengungkapkan bahwa Lailatul Qadar ada tiga makna, yang pertama adalah sebuah berkah, atau rahmat bagi orang awam.

“Mereka hanya berharap pahala dari kemuliaan Lailatu Qadar, yang lebih utama dari seribu bulan,” tuturnya.

Ia melanjutkan, sedangkan bagi orang khusus, mereka meyakini jika beribadah di malam Lailatul Qadar, ada Allah SWT yang turun langsung untuk melihat ibadah hamba-Nya.

“Jadi mereka menggunakan pakaian terbaik, beribadah dengan khusyuk dan tunduk kepada Allah SWT, bukan hanya sekadar mengharap pahala,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan, golongan khusus adalah para Shiddiqin, Syuhada dan Sholihin. Mereka merasa para malaikat seolah tampak di hadapan mereka. Mereka percaya bahwa para malaikat akan mengaminkan doanya.

“Karena pada malam itu, para malaikat membawa perkara-perkara yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, yaitu nasib kita pada tahun yang akan datang,” imbuhnya.

Ia menambahkan, dalam sebuah Kitab Al-Bahrul Majid disebutkan bahwa pada bulan Nisfu Sya’ban kita diminta untuk taqorrub (mendekat) kepada Allah, lalu dari situlah Allah mencatat nasib seseorang ke depannya, tergantung doa dan amalannya.

Baca Juga:  Inilah 14 kunci diterimanya Ibadah

“Maka kemudian pada malam Lailatul Qadar, rapot yang telah Allah catat pada malam Nisfu Sya’ban akan tetap dikabulkan meski seseorang tidak memanfaatkan malam Lailatul Qadar untuk bermunajat kepada Allah, sampai malam Nisfu Sya’ban tahun berikutnya,” terangnya.

Ia melanjutkan, sedangkan seseorang yang bermunajat kepada Allah pada malam Lailatul Qadar, meminta dan berdoa dengan detail apa saja yang diinginkan, maka catatan pada malam Nisfu Sya’ban akan dirubah dengan doa-doa pada malam Lailatul Qadar.

“Karena malam Lailatu Qadar itu lebih baik dari pada malan Nisfu Sya’ban, di malam Lailatul Qadar itu milyaran malaikat yang turun akan mendoakan keselamatan, dan pasti Allah akan mengabulkan doanya para malaikat,” ungkapnya.

Ia pun menerangkan, dalam suatu riwayat, yang juga ditulis oleh Imam Tontowi, dan dalam Kitab Durrotun Nashihin juga disebutkan bahwa Allah menebar keselamatan pada malam itu bagi orang-orang yang beriman.

“Akan tetapi, banyak riwayat menyebutkan bahwa malam Lailatul Qadar ini disembunyikan oleh Allah, agar para manusia berlomba-lomba untuk beribadah dan mendapatkannya,” lanjutnya.

Ia menambahkan, karena jika dibuka kapan malam Lailatul Qadar tersebut, manusia akan bermalas-malasan dalam beribadah dan hanya akan beribadah pada malam Lailatul Qadar saja.

“Dalam sebuah riwayat dikatakan, tanda-tanda akan datangnya malam Lailatul Qadar salah satunya adalah matahari terbit dengan cahaya yang sangat terang,” tuturnya.

Ia melanjutkan, karena dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW bermimpi, pada malam Lailatul Qadar ada sebuah sinar yang sangat terang.

“Tanda yang kedua ialah, pada siang hari cuaca sangat cerah, akan tetapi tidak menimbulkan gerah, tubuh tidak merasa panas. Karena pada pagi hari munculnya matahari itu sudah dibayang-banyangi oleh turunnya para malaikat,” jelasnya.

Baca Juga:  SDL Latih Santri Yahtadi Kuasai Media Dakwah Visual

Ia pun menerangkan, kemudian angin semilir, itu adalah tasbihnya para malaikat. Menjelang Maghrib, udara terasa semakin teduh dan sejuk. Bintang terlihat terang dan tidak mendung.

“Golongan yang ketiga yaitu orang-orang yang istimewa, memandang semua malam selayaknya malam Lailatul Qadar. Mereka bahkan bisa melihat rahmat, melihat turunnya para malaikat. Ini adalah kelasnya para Auliya,” ungkapnya.

Ia juga memaparkan, Imam Al-Ghazali mengatakan berdasarkan pengalaman spiritualnya, bahwa jika Ramadlan diawali dengan hari Jum’at, maka malam Lailatul Qadar biasanya terjadi pada malam ke-27.

“Menuru Syekh Abil Hasan Al-Sadziri, apabila Ramadlan diawali dengan hari Jum’at, maka malam Lailatul Qadar adalah pada malam Nuzulul Quran. Karena dalam Surat Al-Qadar dikatakan bahwa Nuzulul Quran terjadi pada Lailatul Qadar,” terangnya.

Ia menambahkan, dahulu umat Nabi Mussa As. berperang selama 84 tahun, kemudian Rasulullah SAW ingin umatnya mendapat keutamaan seperti umat Nabi Musa, maka Allah menciptakan malam Lailatul Qadar yang kemuliaannya setara dengan seribu bulan.

“Secara harfiah, Lailatul itu bermakna malam, sedangkan Qadar bermakna agung atau mulia. Maka Lailatul Qadar adalah malam yang mulia,” tuturnya.

Ia pun mengungkapkan, secara istilah Lailatul Qadar adalah malam yang mulia, di mana jika pada malam tersebut melakukan amal salih, maka pahalanya akan setara dengan beribadah seribu bulan.

“Kemudian pada malam itu Allah turunkan malaikat untuk menetapkan perkara-perkara dan memberikan rahmat berupa keselamatan di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang beriman sampai terbit fajar,” jelasnya.

Terakhir ia menyampaikan, maka agar kita bisa meraih malam Lailatul Qadar adalah dengan bermunajat kepada Allah di setiap malam di bulan Ramadlan, karena pada salah satu malamnya pasti malam Lailatu Qadar.