Waspada, Kenali Hal-hal yang Membuat Puasa Ramadlan Menjadi Batal

oleh -dibaca 64 orang

NU-LUMAJANG.OR.IDLumajang, Anggota DPRD Lumajang, Nyai Hj. Nur Hidayati, M.Si. menyampaikan tausiyah “Hal-Hal yang Membatalkan Puasa” pada Program Spesial Ramadlan Ngaji Online oleh LTN NU Lumajang di pertemuan ke-16, pada Sabtu (09/05/20).

Legislator Partai Nasdem ini menjelaskan bahwa hal-hal yang membatalkan puasa antara lain memasukkan seseuatu ke lubang tubuh dengan sengaja, muntah dengan sengaja, bersetubuh, keluar mani, haid atau nifas, gila dan murtad.

“Mungkin selama ini banyak diantara kita yang menjalankan puasa hanya untuk sekadar menggugurkan kewajiban, maka dari itu perlu pengetahuan untuk diaplikasikan dalam berpuasa,” tuturnya.

Ia juga mejelaskan, dalam Kitab Ghayatul Mustarsyidin halaman 182 disebutkan, sehubungan dengan makanan atau apapun yang masuk ke dalam lubang tubuh itu meski pun sedikit itu membatalkan puasa.

“Meski hanya sebutir nasi atau sisa-sisa makanan di sela-sela gigi itu juga membatalkan puasa,” jelasnya.

Ia melanjutkan, Sedangkan menyicipi masakan itu hukumnya boleh, asal tidak tertelan, hal tersebut terdapat dalam Kitab Syarah Minhaj juz 3, halaman 425.

“Dalam Kitab I’anatut Tholibin juz 2 halaman 265 dikatakan bahwa air yang masuk ke dalam telinga ketika mandi itu membatalkan puasa, kecuali mandi wajib,” terangnya.

Ia menjelaskan, dalam Kitab Hasyiyah Qalyubi wa Umairah juz 2 halaman 73 dikatakan bahwa untuk meneteskan obat mata yang rasanya sampai ke tenggorokan itu hukumnya tidak batal, karena masuknya lewat pori-pori.

“Kemudian dengan sakit telinga, dihukumi boleh dan tidak membatalkan puasa dalam Kitab Ghayatul Mustarsyidin halaman 182, apabila yakin dengan menggunakan obat tetes bisa sembuh,” imbuhnya.

Ia menjabarkan, dalam Kitab Kifayatul Akhyar juz 1 halaman 205 disebutkan keterangan untuk dahak yang ada di tenggorokan, apabila mampu untuk dikeluarkan, tetapi sengaja tertelan, maka batal puasanya.

“Namun apabila tidak disengaja, tidak bisa dikendalikan dan tiba-tiba saja tertelan, maka puasanya tetap sah,” jelasnya.

Ia melanjutkan, apabila makan dan minum dalam keadaan lupa itu tidak membatalkan, karena menurut sebuah Hadits di sana Allah ingin memberi kita makan.

“Namun apabila seseorang mendengar bacaan Ayat Kursi misalnya, yang bernada sama dengab Adzan, kemudian ia menyegerakan berbuka, itu batal, dan puasanya wajib diqodlo’, itu ada dalam Kitab Kifayah halaman 206,” terangnya.

Baca Juga:  Ketua Fatayat NU Jatim Himbau Kader Fatayat Untuk Mengupgrade Diri

Ia melanjutkan, dakam Kitab Majmu’ juz 6 halaman 358 disebutkan apabila menelan debu dengan tidak sengaja itu tidak membatalkan puasa, lain halnya dengan sengaja, menjadi tidak sah puasanya.

“Dalam Kitab Fatawi Romli juz 2 halaman 72 disebutkan bahwa untuk menggosok gigi sesudah sahur itu tidak wajib, akan tetapi dianjurkan, sedangkan gosok gigi di waktu dhuhur, dihukumi makruh,” tuturnya.

Ia menjelaskan, dalam Kitab Hasyiyah Jamal juz 2 halaman 316 dikatakan bahwa apabila seseorang bersendawa itu tidak membatalkan puasa, asalkan jika ada makanan yang naik ke mulut tidak ditelan dengan sengaja, maka dari itu diwajibkan untuk berkumur.

“Kasus yang lain, untuk orang ambeyen, apabila memasukkan anus yang keluar dari dubur itu tidak membatalkan puasa, akan tetapi menurut Imam Nawawi itu membatalkan,” jelasnya.

Ia melanjutkan, dalam kitab yang sama, halaman 318-319 dikatakan bahwa menghirup aroma masakan itu tidak membatalkan puasa, karena uap itu bukan benda.

Ia menerangkan, dalam Kitab Busyrol Karim juz 2 halaman 68 dikatakan bahwa apabila air kumur pasta gigi sengaja tertelan menjadikan puasa batal, lain halnya jika tidak sengaja, puasa tetap sah.

“Kemudian dalam kitab yang sama juga menjelaskan bahwa untuk orang yang suntik saat puasa itu tidak membatalkan, karena suntik tidak melalui lubang tubuh manusia,” lanjutnya.

Ia menambahkan, dalam Kitab Syarah Sullam Taufiq halaman 43 disebutkan, apabila seseorang berusaha untuk muntah dengan memasukkan jari ke mulut, baik ada sesuatu yang keluar atau tidak, ada sesuatu yang kembali masuk atau tidak, itu tetap batal.

“Untuk bersetubuh, dengan siapapun, dengan manusia, mayat ataupun hewan, tetap membatalkan puasa dan wajib membayar kafarat, yaitu dengan puasa 2 bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 fakir miskin, masing-masing 1 mud,” jelasnya.

Ia melanjutkan, sedangkan bagi seseorang yang telah sesai junub atau pun haid, tidak sempat sahur, tetapi sudah niat, lalu bangun melewati shubuh, maka boleh segera mandi, dan puasanya dihukumi sah.

“Lain halnya dengan berciuman, apabila bisa menimbulkan syahwat, itu dihukumi makruh, apabila tidak menimbulkan syahwat itu sah-sah saja,” terangnya.

Baca Juga:  Begini Hukum Orang Hamil, Menyusui dan Nifas Berpuasa

Ia juga menjelaskan, bagi laki-laki yang mengeluarkan sperma atau mani karena onani atau pun menonton video porno atau hal yang disengaja lainnya, puasanya menjadi batal.

“Kemudian untuk orang haid atau nifas, dalam Kitab Syarah Sullam Taufiq halaman 43 dikatakan, otomatis batal puasanya, karena orang yang haid atau nifas mengeluarkan darah yang dapat melemahkan, maka tidak diperbolehkan puasa,” paparnya.

Ia menambahkan, dalam Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin juz 4 halaman 35 dinyatakan, untuk hutang puasa yang tidak terhitung, dalam hal ini lupa atau dulu tidak mewajibkan diri untuk mengganti puasa, maka wajib diganti hutang puasa tersebut sampai benar-benar yakin telah melunasi semuanya.

“Bagi orang yang sakit terus-menerus dan tidak memiliki kesempatan untuk mengganti hutang puasanya sampai meninggal, maka dianggap tidaj punya hutang,” terangnya.

Ia melanjutkan, sedangkan bagi orang yang memiliki kesempatan untuk mengganti hutang puasa, akan tetapi tidak diganti sampai meninggal, maka yang harus mengganti yaitu keluarganya.

“Lalu untuk orang gila, jika gilanya tidak dibuat-buat atau diusahakan, maka gugur kewajiban untuk berpuasa dan tidak wajib mengganti, lain halnya dengan gila yang diusahakan, seperti memakai narkoba, maka ia tetap wajib berpuasa dan mengganti apabila tidak berpuasa,” terangnya.

Ia pun menjelaskan, bagi orang yang epilepsi sehari penuh itu dihukumi batal puasanya, namun apabila tidak sehari penuh, ada jeda untuk sadar, dan ketika epilepsi tidak diberi apa-apa oleh yang sadar, maka sah puasanya.

“Kemudian untuk orang pingsan, apabila sehari penuh, juga dihukumi batal, tetapi apabila ada waktu untuk sadar, maka sah puasanya, hal tersebut adala dalam Kitab Hashiyah Jamal juz 2 halaman 334,” ungkapnya.

Ia menambahkan, dalam kitab yang sama juga disebutkan, apabila seseorang kemasukan jin dan membuatnya tidak sadar, meski sebentar, maka sama hukumnya dengan orang gila, puasanya menjadi batal.

“Yang terakhir bagi orang murtad, meski sebentar, tetap membatalkan puasa, hal tersebut ada dalam kitab Syarah Sullam halaman 43,” pungkasnya.