Ini Kesaksian dari Murid KH Sanemo, Hingga Dimakamkan Bersama Mbah Lancing

oleh -dibaca 265 orang

NU-LUMAJANG.OR.IDJatiroto, Puluhan murid dan warga sekitar Kampung Persil Nyeoran, Desa Kaliboto Lor, Kecamatan Jatiroto berikan penghormatan dan mengantarkan jenazah KH. Moh. Sanemo ke peristirahatan terakhir, pada Kamis (07/05/20).

“Beliau adalah seorang Ulama yang disegani, berwibawa dan humoris, beliau selalu membuat para jamaah bisa tertawa dan asyik mendengarkan tausiyahnya,” ungkap Raka Budi Pandika, salah satu murid Almarhum.

Ia juga mengatakan bahwa Almarhum mempunyai karakter mengajar yang tegas, keras dan disiplin. Keras bukan berarti kejam, namun mengajarkan para murid untuk mempunyai sifat budi luhur yang baik.

Baca Juga:  Siap Jaga Ulama, Pagar Nusa Jatiroto Tekun Berlatih Sekali Sepekan

“Saya sebagai murid suka dengan cara mengajar beliau, disiplinnya sangat patut diacungi jempol, beliau orang yang baik, seorang penyiar agama yang patut diteladani,” tutur Siti Nur Laila, salah satu murid Almarhum.

Dinda Novita, yang juga pernah mengaji kepada beliau mengungkapkan hal yang sama, yakni beliau adalah orang yang tegas, disiplin dan patut diteladani.

“Banyak masyarakat yang datang untuk memberi penghornatan terakhir kepada beliau, sebagian besar adalah muridnya, dan hampir seluruh masyarakar di sini mengenal dan berguru kepada beliau,” tuturnya.

Baca Juga:  LPBI NU : Banjir di Pesantren Miftahul Ulum Surut

Ia juga mengatakan bahwa warga sepakat untuk memakamkan KH. Sanemo bersama dengan makam seseorang yang terkenal dengan sebutan Mbah Lancing.

“Konon, Mbah Lancing adalah seseorang yang pertama kali membabat Alas Jati di sini, hingga menjadikan Jatiroto memiliki banyak desa seperti sekarang,” pungkasnya.

Proses Salat Jenazah KH. Moh. Sanemo