Wakil Ketua PCNU Lumajang : Tujuan Akhir Mencari Ilmu Adalah Mendekatkan Diri Kepada Allah

oleh -dibaca 80 orang

NU-LUMAJANG.OR.IDLumajang, Wakil Ketua PCNU Lumajang, Ihwanul Muttaqin, M.Pd. menyampaikan tausiyah “Keutamaan Orang Mencari Ilmu di Bulan Ramadlan” pada Program Spesial Ramadlan Ngaji Online oleh LTN NU Lumajang di pertemuan ke-11 pada Senin (04/05/20).

Wakil Ketua PCNU tersebut menyampaikan bahwa terdapat dua rujukan dalam materi kali ini, yakni Kitab Adabul ‘Alimul Muta’allim karya KH. Hasyim Asy’ari dan Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karya Imam Al-Ghozali.

“Dalam kitab Adabul Alimul Muta’allim, di bagian awal Mbah Hasyim mengutip sebuah ayat yang terdapat pada Al-Qur’an Surat Al-Mujadalah ayat 11, bahwa dalam ayat tersebut Allah memberikan penghargaan yang tinggi bagi orang yang mencari ilmu,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kemudian dilanjutkan dengan sebuah hadits yang bermakna bahwa sebenarnya orang yang mencari ilmu itu menuju jalan ke surga.
Orang yang mencari ilmu, mengajarkan ilmu dan mengamalkan ilmu itu berada pada posisi yang tinggi.

“KH. Hasyim menuliskan bahwa derajatnya Ulama di atas Mukminin itu 700, dan dalam 700 derajat itu, jarak antara perderajatnya 500 tahun,” tuturnya.

Ia juga memaparkan bahwa dalam Kitab Durrotun Nashihin dijelaskan, barangsiapa yang hadir di majelis ilmu dalam Bulan Ramadlan, Allah akan mencatat di setiap langkahnya itu sama dengan ibadah setahun, dan dijanjikan oleh Allah bahwa akan bersama Allah Ta’ala di bawah ‘Arsy.

“Jadi ada dua keutamaan, posisi orang yang mencari ilmu saja sudah utama, waktunya di Bulan Ramadlan itu juga utama,” imbuhnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam kitab Al-Mu’jamul Kabir, Rasulullah menyampaikan, “jika kamu melihat taman surga, maka kamu duduk di situ,” lalu sahabat bertanya, “apa yang dimaksud dengan taman surga Ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “yakni majelis-majelis ilmu, tempat-tempatnya orang mencari ilmu.”

Baca Juga:  Wujudkan Ketahanan Pangan, LPBI-NU Lumajang Jelaskan Cara Budidaya Tanaman Pisang

“Majelis itu dari kata jalasa yang berarti duduk, jadi majelis adalah tempat duduk, karena di musim pandemi ini tidak bisa bertatap muka, maka ketika hadir dan menyimak lewat media sosial pun sudah bisa diibaratkan dengan duduk di majelis ilmu,” jelasnya.

Ia melanjutkan, namun tetap saja, majelis yang bertatap muka secara langsung, selain mencari ilmu juga bersilaturrahim. Bedanya dengan mencari ilmu pengetahuan di google, jika di google bisa mencari semuanya, dari yang halal sampai yang haram di sana ada, tapi google tidak menjalankan akhlak.

“KH. Hasyim Asy’ari juga menyebutkan dalam kitab yang sama, mengutip dari Imam Atho’, kenapa majelis-majelis ilmu itu menjadi utama? Imam Atho’ menjawab, bahwa dalam majelis ilmu itu bisa mengetahui halal, haram, cara membeli makanan, bagaimana salat yang baik, cara zakat sampai cara menikah,” terangnya.

Ia pun menyampaikan bahwa Imam Zain menambahkan, “ketahuilah, bahwa dasar dari agama Islam itu Ilmu dan Ma’rifah, maka setiap orang Islam itu tidak dianjurkan untuk tidak berilmu.”

“Dalam kitabnya, Imam Al-Ghozali berpendapat bahwa ada dua macam ilmu, yaitu ilmu Sya’riah tentang religius, dan Ilmu ‘Aqliyah tentang nalar,” tuturnya.

Wakil Ketua PCNU itu melanjutkan bahwa ilmu yang dikategorikan dalam Syari’ah adalah yang menunjang religiusitas, antara lain Ilmu Eskatologi, Tauhid dan Akhlak. Sedangkan Ilmu ‘Aqli adalah ilmu-ilmu pengetahuan seperti Ilmu Matematika, Ilmu Alam dan Ilmu Fisika.

Baca Juga:  Inilah Tiga Pondasi Penting Membentuk Karakter Muslim Yang Baik

“Imam Al-Ghozali juga membagi lagi ilmu dalam dua jenis, yaitu Ilmu Hudhuri dan Ilmu Hushuli, dan terdapat jenis lainnya, yaitu Ilmu Fardlu ‘Ain dan Ilmu Fardlu Kifayah,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, Ilmu Fardlu ‘Ain adalah ilmu yang menjadikan ibadah kita sah, hal itu diperkuat oleh Syekh Zainuddin Al-Malibari. Imam Malibari menjabarkan maksud Fardlu ‘Ain dari Imam Al-Ghozali adalah yang pertama, apabila tidak dikerjakan, ibadah kita menjadi tidak sah, misalnya ilmu tentang salat.

“Yang kedua, ilmu yang membuat anda meyakini akidah, yaitu ilmu tentang Tauhid. Yang ketiga, ilmu yang menjadikan hati kita bersih, ketiganya harus dimiliki, karena jika tidak dimiliki maka agama tidak bisa dijalankan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sedangkan Fardlu Kifayah itu ilmu yang menjaga eksistensi dunia tetap ada. Misalnya ilmu tentang kedokteran itu menjadi wajib, karena jika tidak ada yang belajar Ilmu Kedokteran maka tidak ada yang tahu caranya menjaga kesehatan.

“Maka dari itu, Ilmu Kedokteran wajib, misal dari 100 orang hanya dua orang yang menjalankan, karena ini Fardlu Kifayah, tidak semua orang wajib,” imbuhnya.

Terakhir ia menyampaikan bahwa Imam Al-Ghozali mengatakan, ilmu itu harus ada proses yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Jadi akhir dari ilmu itu harus mendekatkan diri pada Tuhannya. Selama orang itu tidak mendekatkan diri, berarti ilmunya tidak bermanfaat.