Begini Hukum Orang Hamil, Menyusui dan Nifas Berpuasa

oleh -dibaca 102 orang

NU-LUMAJANG.OR.IDLumajang, Pengasuh Ponpes Kiai Syarifuddin Dalem Utara-Timur, Nyai Qurroti A’yun M.Ed. tausiyah Hukum Berpuasa bagi Perempuan Hamil, Menyusui dan Nifas pada Program Spesial Ramadlan Ngaji Online oleh LTN NU Lumajang di pertemuan kesembilan pada Sabtu (02/05/20).

Dalam teusiyahnya, Nyai A’yun menjelaskan bahwa perempuan dalam tataran puasa memiliki hukum yang lebih luas. Dalam puasa, ada satu hukum yang berlaku kepada laki-laki dan perempuan, seperti rukun puasa, syarat puasa dan lainnya. Sedangkan perempuan memiliki satu lagi hukum yang khusus.

“Karena perempuan memiliki peran spesifik yang tidak dimiliki oleh laki-laki, dan itu membawa konsekuensi tersendiri kepada wanita, termasuk hukum-hukum fiqih,” tuturnya.

Nyai A’yun memaparkan bahwa perempuan hamil dalam Surat Al-Ahqaf telah digambarkan sebagai seseorang yang menderita di atas penderitaan, juga diperkuat dengan surat Luqman. Maka dari itu kemudian ada hukum yang diperoleh untuk wanita hamil, termasuk puasa.

“Orang yang hamil atau menyusui ketika puasa akan mengalami beberapa hambatan, seperti sakit yang membuat si ibu mengkhawatirkan dirinya. Karena ketika hamil, janin menumpang makanan kepada ibu, jadi ibu mudah lapar,” ungkapnya.

Baca Juga:  Begini Keutamaan Bersedekah di Bulan Ramadlan

Ia juga menjelaskan bahwa juga ada ibu yang berpuasa tetap baik-baik saja, tidak mengalami mual yang berlebihan, tidak menggigil, tetapi terjadi sesuatu kepada janinaannya.

“Misalnya ketika di USG (Ultrasonografi), janin tidak mengalami pertumbuhan, ini mengkhawatirkan janinnya. Atau kondisi lainnya yaitu keadaan ibu dan janin yang sama-sama mengkhawatirkan,” terangnya.

Nyai A’yun menambahkan, untuk ketiga kondisi tersebut, Jumhur Ulama menyepakati bahwa perempuan hamil atau menyusui, boleh tidak berpuasa dengan konsekuensi.

“Pendapat pertama mengatakan bahwa posisi orang hamil atau menyusui sama dengan orang sakit yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa, akan tetapi wajib mengqodlo’ (mengganti) puasa,” jelasnya.

Ia melanjutkan, pendapat yang lain mengatakan, dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas bahwa hanya wajib membayar fidyah tanpa mengqodlo’ puasa. Dalam sebuah rieayat, Ibnu Umar mengatakan kepada putrinya bahwa menggangti puasa dengan memberikan makan setengah sho’ setiap hari bagi orang miskin.

“Ulama dahulu mengatakan, satu sho’ adalah 4 mud. Satu mud adalah 6 ons. Sedangkan ulama kontemporer menghitung satu mud sama dengan 7 ons”, tuturnya.

Baca Juga:  Ketua PCNU Lumajang : Ikhlas Sebagai Dasar Puasa, Sabar Sebagai Penguatnya

Nyai A’yun pun menyatakan ada lagi yang berpendapat wajib mengganti dengan puasa dan wajib membayar fidyah. Dalam kitab Fiqhu Shiyam Dr. Yusuf Qardlawi menjelaskan bahwa boleh mengambil pendapat sahabat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas yang hanya membayar fidyah.

“Apabila perempuan tadi setiap tahun pada bulan puasa mengalami kehamilan dan menyusui sehingga tidak memungkinkan untuk mengqodlo’ puasa, maka perempuan tersebut diibaraktkan seperti orang yg sangat sepuh, dan boleh menggantinya dengan hanya membayar fidyah,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, akan tetapi jika tidak terjadi hal demikian, dalam artian hamil dan menyusui terbatas seperti saat ini, menggunakan program KB (Keluarga Berencana) dan yang lainnya, maka pendapat yang diunggulkan adalah dengan cara mengqodlo’.

“Sedangkan untuk orang nifas itu hukumnya sama seperti orang haid, haram untuk berpuasa dan wajib untuk mengganti dengan puasa. Hal itu tidak ada kaitannya dengam hamil dan menyusui tadi,” pungkasnya.