Inilah Syarat Mengamalkan Hadits Dhaif

oleh -dibaca 97 orang

NU-LUMAJANG.OR.ID, Lumajang. Program Spesial Ramadlan Ngaji Online Bareng Kiai yang diadakan Lembaga Ta’lif wa Nasyr Nahdaltul Ulama (LTN NU) Lumajang di pertemuan kedelapan pada Jum’at (1/5/2020) mengangkat tema mengenal Hadits Dhaif seputar Ramadlan.

Dimoderatori oleh Shifa K. Mutiah, S.H, acara yang diisi langsung oleh Koordinator Bidang (Korbid) Dakwah dan Seni Pengurus Cabang (PC) Fatayat NU Lumajang Neng Faiqotul Mala, S.S.I, MA.Hum. berlangsung lancar.

Dalam tausyiahnya Neng Mala menuturkan ada beberapa syarat mengamalkan Hadits Dhaif.

“Hadits Dhaif itu bisa diamalan dengan beberapa syarat pertama adalah Hadits Dhaif itu termasuk Fadloulilul A’mal artinya hadis yang digunakan untuk memotivasi, kedua Haditsnya tidak berkualitas Dlaifnya parah, ketiga dalam mengamalkan Hadis itu tidak diyakini kesahihannya,” jelas neng Mala.

Neng Mala juga menuturkan ada beberapa Hadits Dhaif yang masyhur terkait Amaliah seputar Ramadlan.

“Ada sepuluh Hadits Dhaif yang populer seputar Ramadlan, dari sepuluh hadits tersebut saya ambil dua karena waktunya terbatas, pertama tentang orang yang bergembira tentang masuknya bulan Ramadlan yang terdapat dalam kitab Dzurrotun Nasihin namun ketika diteliti sanadnya tidak ada dan tidak ditemukan di kitab hadits induk semisal Al-Bukhori Muslim dan lainnya,” tutur Neng Mala.

Baca Juga:  Gelar Musker, LTN NU Akan Terus Perkuat Kerjasamanya Dengan Lembaga Lain

Lebih lanjut Neng Mala juga beralasan selain karena Sanad Hadits tersebut dinilai Dhaif juga disebabkan redaksi Haditsnya.

“Dan kedlaifannya juga disebabkan pemahamannya yang seolah-olah hanya dengan bergembira maka masuk surga, maka inilah yang juga menyebabkan dhaifnya Hadits tersebut, jadi seharusnya difahami bahwa ketika kita menyambut bulan Ramadhan yang kita siapkan bukan hanya sekedar gembira saja tetapi kita siapkan adalah fisik kita rohani kita seperti yang diajarkan Nabi dengan puasa Sya’ban,” imbuhnya.

Selanjutnya Neng Mala menyebutkan Hadits Dhaif populer kedua terkait Ramadlan.

Baca Juga:  Begini Hukum Orang Hamil, Menyusui dan Nifas Berpuasa

“Yang kedua tentang tidurnya orang yang berpuasa, dari segi sanad hadits ini juga bermasalah dan hanya diriwayatkan oleh imam Baihaqi di kitab Syu’abul Iman yang kemudian dinukil oleh imam lainnya, dan setelah dikaji hadits ini sangat Dhaif karena ada perowi yang bernama Abdul Malik bin Umair yang dinilai sangat Dhaif, dan ada juga perowinya yang bernama Sulaiman bin Amr An-Nakhoi yang dinilai sebagai pembohong,” jelas Neng Mala.

Dan Neng Mala berpesan agar tidak salah dalam memahami Hadits sehingga saat puasa yang dilakukan hanya tidur.

“Yang harus dipahami bahwa ibadah yang berpahala itu bukan karena tidurnya tetapi puasanya, artinya saat kita puasa lalu tidur itu tidak membatalkan puasanya, puasa merupakan ibadah yang meskipun tidur pun itu pahalanya terus berjalan, jangan jadikan pijakan akhirnya kita rebahan terus, tidur terus saat puasa,” pungkasnya.