Memakai Alat Baru, LFNU: di Pantai Meleman Tidak Bisa Melihat Hilal

oleh -dibaca 125 orang
Memakai Alat Baru, LFNU: di Pantai Meleman Tidak Bisa Melihat Hilal
Tim LFNU saat mencoba Teleskop Bintang baru

NU-LUMAJANG.OR.ID, Yosowilangun. Pengurus Cabang Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (PC LFNU) Lumajang memantau langsung tempat Rukyatul Hilal di pantai Meleman desa Wotgalih Yosowilangun sekaligus menguji coba peralatan teropong bintang yang baru saja dimiliki pada Jum’at (10/4/2020) dalam rangka persiapan Rukyatul hilal 1 Ramadhan 1441 Hijriyah.

Pantai Meleman adalah Pantai yang berada disisi selatan ujung timur Kabupaten Lumajang, dengan koordinat Lintang -8 derajat 18 menit 16 detik, dan bujur 113 derajat 17 menit 51 detik dan berbatasan dengan Kabupaten Jember.

Ketua PC LFNU Lumajang Hidayatulloh menjelaskan bahwa pantai Meleman merupakan salah satu tempat yang terdaftar di Kementrian Agama sebagai tempat Rukyatul Hilal dan sering digunakan untuk kegiatan tersebut.

Baca Juga:  Ingin Cetak Ahli Falak, LFNU Lumajang Kembali Gelar Diklat

“Observasi di pantai Meleman ini karena tempat ini beberapa tahun yang lalu digunakan oleh Kemenag Lumajang untuk kegiatan Rukyatul hilal dalam menentukan awal Ramadhan dan satu Syawal, dan titik koordinatnya salah satu yang sudah terdaftar dalam database tempat Rukyatul Hilal Kemenag, sehingga jika nanti ada tim perukyat yang melihat Hilal disini maka dapat diterima,” jelas Hidayatulloh.

Hidayatulloh juga menuturkan hasil dari Observasi yang dilakukan timnya menemukan bahwa letak terbenamnya matahari tertutup bukit.

“Namun sejauh pengamatan tim LFNU yang hadir dipantai Meleman kali ini, dengan menggunakan teropong Celestron Powerseeker 70EQ ternyata letak terbenamnya matahari di arah barat terhalang dengan adanya bukit sehingga yang terlihat jelas hanyalah pepohonan dan awan,” tuturnya.Memakai Alat Baru, LFNU: di Pantai Meleman Tidak Bisa Melihat Hilal

Baca Juga:  Lembaga Falakiyah NU akan Terbitkan Kalender 2019 Versi NU

Lebih lanjut ia menambahkan bahwa dengan adanya bukit yang menghalangi maka akan sangat sulit untuk melihat Hilal.

“Dari pengamatan tim LFNU Lumajang, diperkirakan tinggi bukit yang menghalangi ufuk atau horizon adalah sekitar lima sampai enam derajat, sehingga sangat sulit untuk dapat melihat hilal atau bulan baru manakala tinggi hilal saat Ijtima’ kurang dari lima atau enam derajat,” pungkasnya.