LFNU Lumajang Ikuti Kaderisasi Ulama Hisab Rukyat

oleh -dibaca 59 orang
LFNU Lumajang Ikuti Kaderisasi Ulama Hisab Rukyat

NU-LUMAJANG.OR.ID, Tuban. Pengurus Cabang Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (PC LFNU) Kabupaten Lumajang mengikuti kegiatan Kaderisasi Ulama Hisab Rukyat yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah (PW) LFNU Jawa Timur pada Sabtu sampai Ahad (14-15/3/2020) di Pondok Pesantren Darut Tauhid Al-Hasaniyah Sendang Senori Kabupaten Tuban.

Ketua PC LFNU Lumajang Hidayatullah menyampaikan ada tiga materi yang disampaikan dalam acara tersebut.

“Ada tiga materi yang disajikan dalam kegiatan ini, pertama teknik penghitungan awal waktu shalat dengan Ms.Excel VBA, kedua teknik mencari Fajar Shodiq awal waktu subuh dengan menggunakan SQM atau Sky Quality Meter, ketiga Penyelarasan Kalender Hijriyah Tahun 2021,”ungkap Hidayatullah.

Hidayatullah juga mengungkapkan dalam kegiatan tersebut juga menanggapi adanya Penelitian yang dilakukan oleh Islamic Science Research Network (ISRN) Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. hamka atau yang biasa disebut Uhamka yang menyatakan ada perbedaan waktu yang cukup mencolok di waktu Salat Subuh dan Salat Isya.

Baca Juga:  Ketua PCNU: NU Segera Melaunching Koperasi NU, Air Gelas Mineral dan Rumah Sakit

“Menurut direktur ISRN Uhamka Tono Saksono, Salat Subuh seharusnya dimulai saat Sun Depression Angle atau DIP berada di 13,3 derajat. Namun, pemerintah menetapkan awal waktu Salat Subuh saat matahari berada pada DIP 20 derajat. DIP yang ditetapkan pemerintah kata dia, berbeda sekitar 6,7 derajat dengan hasil penelitian ISRN Uhamka, maka waktu Salat Subuh di Indonesia menurut Tono dinilai lebih lebih awal sekitar 26 menit, perbedaan juga ditemukan di waktu Salat Isya yang menurut Tono lebih Lambat 19 menit,” jelas Hidayatullah.

Hidayatullah menuturkan bahwa pernyataan Tono tersebut telah mendapat tanggapan dari PW LFNU Jawa Timur yang juga telah melakukan penelitian di Bawean Gresik pada November 2019 tentang awal waktu shalat subuh.

Baca Juga:  Gelar Konfercab, Ketum PMII: Jangan Hancurkan Pondasi yang Kita Bangun

“PW LFNU telah mengadakan penelitian selama tujuh hari yang dipimpin oleh pakar Falak LFNU Jatim KH. Abdul Moeid yang membuahkan hasil sebaliknya, Beliau menyampaikan bahwa berdasarkan hasil penelitiannya menggunakan SQM dihasilkan DIP atau posisi matahari dibawah ufuk sebesar 19.80 derajat,” tuturnya.

Hidayatullah menambahkan bahwa tidak ada yang salah dalam hasil penelitian yang dilakukan LFNU.

“Hal ini menyimpulkan bahwa sejatinya penghitungan awal waktu subuh yang selama ini menggunakan DIP 20 derajat sesuai yang dilakukan oleh Pemerintah maupun pakar Falak NU tidaklah salah, dan Kiai Moeid berpesan bahwa penelitian ini masih perlu terus dilakukan dan dilanjutkan,” pungkasnya.