Swasembada Sumberdaya NU Lumajang

oleh -dibaca 77 orang

Tidak banyak dijumpai organisasi yang mampu bertahan hingga satu abad. Tinta sejarah bangsa menyebut banyak organisasi yang tak mampu mempertahankan eksistensinya hingga usia 100 tahun, sekalipun memiliki masa lalu yang gemilang serta dihuni ‘borjuis’ intelektual kelas kakap. Sebut saja PSI, PKI, PNI hingga Masyumi yang berakhir dengan bubarnya organisasi tersebut. Sekalipun semua bisa berkelit dengan menjadikan realitas politik sebagai pembenaran dari proses tersebut.

Bagaimana dengan NU? Jika meminjam istilah Gus Mus, seharusnya organisasi ini sudah bubar. Alasannya sederhana, kalau rapat jarang kuorum, keputusannya juga tidak pernah mulus. Tentu penulis memaknai ungkapan Gus Mus ini dari sudut pandang keheranan Gus Mus yang melihat NU tidak seperti organisasi pada umumnya. Ia tetap hidup dan eksis sekalipun ‘tidak mirip’ organisasi, ia lebih mirip jamaah.

Nah, disaat orang mengatribusi NU hanya sebagai jama’ah ‘tidak terdidik’ yang hanya mampu berkumpul, faktanya organisasi ini terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Sekalipun tantangan dan catatan pergeseran tetap saja dijumpai. Hasil riset Alvara tahun 2019 menyebutkan bahwa popularitas ritus keagamaan yang diidentifikasi berafiliasi dengan NU cukup populer dikalangan pedesaan (rural) dan bahkan perkotaan (urban). Tidak hanya itu, perguruan tinggi yang berafiliasi dengan NU perkembangannya juga cukup pesat. Pesantren-pesantren NU juga mengalami perkembangan yang baik dengan trend positif karena tidak pernah sepi peminat. Bahkan anak-anak muda NU menunjukkan tingkat progresifitas yang cukup mapan diberbagai level. Jika meminjam istilah Rumadi, Post Tradisionalisme di lingkungan NU menunjukkan trend positif dengan munculnya berbagai aktivis muda NU dibidang akademik.

Jika memang begitu, apa yang perlu dikhawatirkan? Tulisan ini tidak untuk menjawab kekhawatiran. Tulisan ini ingin melihat peluang dan masa depan NU Lumajang yang cerah karena memiliki sumberdaya melimpah. Untuk menghindari subyektifitas, penulis ingin memaparkan fakta-fakta yang bersifat observasional yang dilakukan oleh penulis.

Baca Juga:  Islam Merawat Kehidupan | Aak Abdullah Al Kudus

Pertama, penulis ingin melihat pesantren sebagai produsen dan penyangga NU. Data dari Kementerian Agama Lumajang menyebutkan bahwa jumlah pesantren di Lumajang berada dikisaran 127 pondok pesantren dengan ribuan santri. Bahkan pesantren Kiai Syarifuddin Wonorejo, pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul, pesantren Bustanul Ulum Krai Yosowilangun dan pesantren Darun Najah Petahunan memiliki unit pendidikan hingga perguruan tinggi. Fakta ini menunjukkan bahwa Nahdlatul ulama melalui jaringan pesantren memiliki sumberdaya (resources) yang cukup melimpah. Lulusan pesantren dan perguruan tinggi pesantren bahkan banyak tersebar dan berdiaspora diberbagai posisi strategis.

Kedua, lembaga pendidikan milik LP Maarif NU dan yang berafiliasi dengannya cukup banyak. Berdasarkan data dari LP Maarif, jumlah lembaga pendidikan yang tergabung dengan LP Maarif NU Lumajang sebanyak 162 lembaga dari tingkat dasar hingga tingkat atas. Belum lagi lembaga pendidikan yang memiliki yayasan sendiri tetapi berafiliasi dengan LP Maarif NU Lumajang. Begitu pula lembaga pendidikan Diniyah yang berafiliasi dengan RMI NU. Jumlahnya kisaran 400-an. Banyak bukan?

Ketiga, geliat lembaga dan Badan otonom di bawah PCNU Lumajang menunjukkan signifikansi yang cukup mapan. Khusus lembaga yang pengurusnya ditunjuk langsung oleh pengurus cabang, geliatnya sangat dirasakan diinternal NU bahkan di ruang-ruang publik. Eksistensi LTNNU sebagai pembuka kran informasi dan penyebar ideologi organisasi (spreading values) cukup aktif diberbagai lini masa baik luring maupun daring. LTMNU sebagai konsolidator masjid-masjid NU cukup massif menggerakkan masjid NU sebagai pusat peribadatan. Lesbumi sebagai penyemai dan penjaga tradisi cukup aktif memberikan ruang ekspresi bagi masuknya berbagai komunitas seni di luar NU. Lazisnu cukup banyak memiliki UPZIS di masing-masing kecamatan sebagai upaya NU melakukan pemberdayaan komunitas (community development) melalui charity approach. LPBI NU selalu berada di garda terdepan dalam penanggulangan bencana. LDNU terus mengembangkan jaringan dakwah diberbagai level dan media dengan rutin melakukan safari. LKNU terus melakukan upaya menjadikan Klinik Pratama NU yang sudah berdiri untuk menjadi rumah sakit sebagai bentuk pelayanan NU. LPNU terus menghimpun kekuatan perekonomian warga NU dengan membangun jaringan lintas lembaga NU dan masuk kedalam kultur masyarakat NU.
Ditingkat badan otonom, Jamiyyatul Qurra’ Wal Huffazh NU juga berhasil menghimpun sumber daya Qori, Hafidz Qur’an, Mufassir dan para Khattath NU.Bahkan tahun 2020 kemarin, JQH NU melakukan banyak MoU dengan berbagai lembaga pendidikan untuk gerakan mengaji dan me-launching Qur’an Center. Muslimat memiliki ratusan Raudlatul Athfal dan Fatayat memiliki LKSA. Belum lagi Ansor-Banser, Pagar Nusa, IPNU-IPPNU yang belakangan gencar melakukan kaderisasi, serta lembaga dan badan otonom lain yang tidak bisa penulis sebutkan semuanya.

Baca Juga:  Warisan Laskar Diponegoro, Inilah Sejarah Singkat Masjid Agung KH. Anas Mahfudz Lumajang

Dalam konteks birokrasi dan lembaga professional, kader NU berdiaspora di berbagai tempat. Bupati Lumajang adalah potret kader NU Lumajang yang berada di level tertinggi di Kabupaten, belum lagi di ruang legislative dan lembaga professional lain yang tak terhitung jumlahnya. Realitas ini menunjukkan bahwa masa lalu, masa kini dan masa depan NU di Lumajang cukup cerah. Sekalipun pekerjaan rumah tentu tak mungkin dihindari. Karena merapikan dan mengumpulkan kekuatan NU yang ‘berserakan’ bukanlah perkara mudah. Gus Mas’ud ketua PCNU Lumajang dalam berbagai kesempatan menyampaikan dengan cukup lantang bahwa NU adalah masa lalu, masa kini, dan masa depan. Semoga!.

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thoriq

Oleh: Ahmad Ihwanul Muttaqin

Penulis adalah Dosen IAI Syarifuddin Lumajang dan Wakil Ketua PCNU Lumajangiya