Mengenang Alm. Muslimin Ghozali Sosok yang Idealis, Berani dan Totalitas Berorganisasi

oleh -dibaca 68 orang

NU.LUMAJANG.OR.ID, Opini Lahir 9 november 1993, dari pasangan Supardi dan Sumiarsih, pria yang dikenal ramah dan mudah bergaul tapi sangat idealis, berani dan totalitas dalam berorganisi itulah sekilas yang bisa digambarkan dari Almarhum Muslimin Ghozali.

Dengan kepiawaiannya dalam manajemen organisi didukung dengan Leadership yang dimiliki hingga akhirnya pada tahun 2018 terpilih sebagai Pimpinan PMII Lumajang.

Tapi kerja keras dan perjuangannya dalam membangun oraganisasi akhirnya harus menyerah pada takdir Nya.

Penyakit komplikasi yang selama ini dideritanya tidak lagi mampu lagi dia dilawan.

Belum sempat dilantik, tepat pada tanggal 03 September 2018 berita duka datang dari di RS. Jember Klinik mengabarkan bahwa sang pemimpin telah memenuhi panggilan penciptaNya.

Baca Juga:  Guz Reza: Jangan Koyak Persatuan Hanya karena Masalah Salam

Kepergian Muslimin Ghozali yang begitu singkat tidak akan pernah hilang dari ingatan kader PMII dan Civitas Akademika IAI Syarifuddin Lumajang tempatnya menimba ilmu sebagai seorang mahasiswa.

“Tidak mudah menemukan sosok pemimpin seperti sahabat Muslimin, selain memiliki jiwa pergerakan yang berani, dia juga memiliki gagasan dan pemikiran yang luar biasa,” ungkap
Ketua Cabang PMII Lumajang H. Syaiful Anwar.

“Muslimin Ghozali adalah salah satu kader terbaik yang pernah di miliki PMII Lumajang sepanjang perjalanannya dan telah mewarnai perjalan organisasi” kenangnya.

Baca Juga:  Kebangkitan Perekonomian NU

Diceritakan pula oleh sahabat-sahabat se angkatannya bahwa Muslimin Ghozali sosok pengayom dengan selalu memberikan bimbingan kaderisasi pada juniornya untuk menjadi kader tangguh, militan dan totalitas.

“Selamat jalan sahabat, kamu telah menorehkan tinta emas dalam perjalanan organidasi kami” ungkap salah seorang sahabatnya di sela acara pelantikan Rayon serentak Minggu,(09/02/2020)

Bukan hanya disitu, bukti kecintaannya pada almamater dan organisasi hingga menjadikan kampus adalah rumah kedua baginya.

Penulis : Yongki Nugroho

editor : Redaksi – fd