Kiai Munsif: PMII Lahir Sebagai Wadah Khusus Mahasiswa NU

oleh -dibaca 133 orang

LUMAJANG.OR.ID, Lumajang, Kiai Munsif Nahrowi mengungkapkan sejarah terbentuknya PMII pada pelantikan rayon serentak PMII IAI Syarifuddin di BKD, pada Ahad (09/02/20).

Kiai Munsif menjelaskan bahwa lahirnya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dikarenakan pada tahun 1959 mulai bermunculan perguruan tinggi di Indonesia, hal itu membuat gejolak di ranah Nahdatul Ulama (NU), dan para mahasiswa NU menginginkan wadah sendiri.

“Pada waktu itu saya menjabat sebagai sekretaris pengurus pusat IPNU. Surat masuk setiap harinya sekitar 50 lebih, dan isi surat itu menginginkan adanya wadah khusus untuk mahasiswa NU,” ungkapnya.

Kiai Munsif Nahrowi menjelaskan bahwa pada konferensi besar IPNU 14-16 Maret 1960 di Kaliurang, Yogyakarta, diputuskan terbentuknya suatu wadah mahasiswa NU yang terpisah secara struktural dari IPNU-IPPNU.

Baca Juga:  Kiai Darwis Berikan Tips Agar Tidak Bosan Saat Dirumah

“Dari Konbes tersebut menghasilkan 13 sponsor pendiri PMII, antara lain Cholid Mawardi (Jakarta), Said Budairy (Jakarta), M Sobich Ubaid (Jakarta), M. Makmun Syukri BA (Bandung), Hilman (Bandung), H. Ismail Makky (Yogyakarta), Munsif Nahrawi (Yogyakarta), Nuril Huda Suady HA (Surakarta), Laily Mansur (Surakarta), Abd. Wahad Jailani (Semarang), Hisbullah Huda (Surabaya), M. Cholid Narbuko (Malang) dan Ahmad Husain (Makassar),” paparnya.

Kiai Munsif mengungkapkan, bahwa memilih ketua umum PMII Mahbub Djunaidi didasari alasan Mahbub adalah orang yang cerdas, kritis, berpengaruh di sistem pemerintahan, pun beliau adalah putra Tokoh NU, yaitu H. Djunaidi.

Baca Juga:  Tokoh Pendiri PMII akan Hadir di Pelantikan Rayon PMII Syarifuddin

“Saya pernah bermalam di rumah Mahbub Djunaidi, rumahnya dipenuhi buku-buku, dan pukul 02.00 malam saya melihat Mahbub Djunaidi sedang baca buku dengan serius, ” ungkapnya.

Kiai Munsif Nahrowi juga berpesan bahwa kita harus bangga menjadi orang NU dan ucapkan dengan lantang kita adalah NU, di manapun wilayahnya, di seluruh Indonesia tersebar secara orang-orang NU dan PMII.

Pewarta: Yongki Nugroho
Editor: Diana