Hoax Virus Corona Merebak, Umat Islam Harus Terapkan Prinsip Tabayyun

oleh -dibaca 162 orang
HOAX-VIRUS-CORONA-MEREBAK,-UMMAT-ISLAM-HARUS-TERAPKAN-PRINSIP-TABAYYU
Foto: Ilustrasi (makassar.terkini.id/)

Masih hangat diperbincangkan dan masih banyak di bahas di segala lini media. Baik media sosial ataupun media massa. Nyatanya, warga Indonesia masih tidak segan untuk menyebar informasi atau berita hoax (berita bohong) tentang virus corona. Entah itu karena tidak tahu menahu kejelasan terhadap berita atu informasi yang diterima. Atau memang sengaja untuk membuat publik ramai dan panik.

Pada 30 Januari lalu, Menkominfo telah menghitung adanya 36 informasi hoax dan disinformasi (kesalahan informasi) yang diterima dan disebarluaskan oleh masyarakat Indonesia. Jumlah yang tidak sedikit itu menunjukkan bahwa masyarakat kita masih suka menyebar informasi yang tidak jelas sumbernya.

Penyebaran informasi tersebut umumnya diteruskan dari satu grup WhatsApp (WA) ke grup WA lainnya secara beruntun. Beberapa anggota grup yang kurang teliti, akan dengan sukarela menyebarkan berita yang tidak diketahui dengan jelas sumbernya. Namun beberapa orang yang paham literasi akan mencari tahu kebenarannya dan akan melakukan verifikasi pada sumber-sumber terpercaya.

Baca Juga:  Memaknai Ekspansi Digitalisasi Budaya

Lalu sebenarnya bagaimana Islam mengajarkan kita untuk tidak mudah terpengaruh terhadap berita yang diterima? Yaitu dengan menerapkan prinsip tabayyun. Tuntunan untuk bertabayyun ini terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 6, yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Selain surat Al-Hujurat, surat Al-Isra’ ayat 36 juga menyinggung perihal informasi yang tidak jelas sumbernya, “janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”

Dari kedua ayat tersebut, cukup jelas bahwa Allah memerintahkan ummat-Nya untuk berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk bertabayyun. Pertama, mengecek kejelasan sumber berita. Berita yang benar akan menyertakan sumber atau situs berita yang kredibel, seperti website nasional milik negara, website berita nasional, dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Politik Kekerasan Pengusung Khilafah Ciderai Nilai Kemanusiaan

Kedua, pahami dan teliti kontennya. Konten hoax cenderung menggunakan bahasa yang tidak baku dan bombastis, dalam artian untuk menarik minat pembaca agar menyebarkan informasi tersebut.

Ketiga, mencari tahu latar belakang informasi, konteks ruang dak waktu. Karena bisa jadi, menerima informasi yang sama dalam waktu atau keadaan yang berbeda, penyebaran informasinya pun akan berbeda.

Keempat, mengukur tingkat kemanfaatan berita. Jika dirasa suatu berita tidak memiliki manfaat, atau malah menimbulkan perpecahan, lebih baik jangan disebar. Karena untuk menjaga arus informasi yang sehat di Indonesia, kita tidak dapat melakukannya sendiri. Oleh karena itu, kesadaran masing-masing individu untuk bertabayyun harus ditingkatkan. Mulai sekarang, pikir ulang untuk menyebar informasi!

Penulis: Zahrotul Farodis Diana, S.Sos.
– Anggota Devisi Pengembangan Media LTN NU Lumajang
– Sarjana Sosial Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam di Institut Agama Islam Syarifuddin