Laila: Jangan Tertipu Berita Bohong Muslim Uighur, Berikut Faktanya

oleh -dibaca 29.585 orang

NU.LUMAJANG.OR.ID, China – Melihat situasi yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan isu Muslim Uighur, Laila Fakhriyatus Zakiyah, juga turut memberika komentar tentang apa sebenarnya yang terjadi.

Sosok mahasiswi kedokteran di Hubei Polytechnic University China
asal Kecamatan Randuagung Lumajang ini juga turut prihatin dengan isu Uighur di Indonesia.

Berikut, Komentar Laila yang ditulis dari Asrama tempat tinggalnya di Kota Wuhan Provinsi Hubei China untuk nu.lumajang.or.id. :

Banyak media lokal Indonesia yang memakan mentah-mentah berita tentang Muslim Uighur yang disebarkan oleh media-media barat yang lalu menimbulkan banyak kisruh, protes dan demo oleh masyarakat di beberapa titik wilayah Indonesia.

Padahal andaikan mereka benar-benar tahu kondisi muslim Uighur sendiri di Cina, akankah mereka menertawakan aksi tidak berasaskan fakta di lapangan yang mereka elu-elukan sebagai patriotisme HAM tersebut?

Baca Juga:  Determinasi Covid-19 Bangsa Indonesia

Mari simak lebih lanjut bukti-bukti di lapangan..

Pusat re-edukasi yang diberitakan dengan incommunicado detention (penahanan tanpa akses dunia luar) dan komunikasi dengan keluarga terputus jelas hanya “Perception without stimulus” atau dalam bahasa psikologi berarti halusianasi.

Mengapa? Karena sudah jelas pengimplementasian salah satu peraturan kamp tersebut di lapangan yang merujuk pada asasnya mereka diperbolehkan untuk menelfon satu kali dalam seminggu melakukan video call setiap bulannya.

Mereka bahkan boleh dijenguk, melakukan pertemuan dan makan bersama keluarga.

Bagaimana bisa di Xinjiang, tempat muslim Uighur tinggal terdapat sebanyak lebih dari 20.000 masjid, 29.000 fakultas islam dan 103 asosiasi islam jika Islam benar-benar di bombardir keberadaanya?

Bahkan kepergiaan haji dan asuransinya pun dijamin dengan sangat baik oleh pemerintah Cina.

Baca Juga:  Islam Merawat Kehidupan | Aak Abdullah Al Kudus

Ini semua menandakan bahwa kebebasan beragama benar-benar terimplementasi dengan sempurna.

Lalu siapa yang di hukum? Mereka yang dihukum adalah mereka yang memiliki pemikiran radikal, yang memberontak dan yang berasakan terorisme.

Bisakah anda fikirkan, bagaimana bisa orang luar yang bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya di Urumqi membuat informasi layaknya mereka sudah melakukan penelitian dan kajian lapangan berkali-kali?

Apakah anda yakin bahwa keyakinan anda bukan hasil dari pemikiran yang tidak kritis tanpa menelaah informasi berdasarkan fakta?

Sebagai Penutup tulisan saya, tiba-tiba saya teringat ucapan mas menteri Nadiem Makariem dalam salah satu pidatonya “Kita perlu critical thinking agar anak-anak kita mampu melihat dari dua sudut pandang masalah, bukan hanya menelannya mentah-mentah”.