Usamah bin Zaid Pemuda Cerdas dan Pemberani

oleh -dibaca 333 orang

Usamah bin Zaid adalah pemuda yang sholeh, bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mencintai Rasulullah SAW melebihi mencintai dirinya dan keluarganya, cerdas dan pemberani.

Salah satu bukti keberaniannya mengikuti Perang Khandaq bersama Rasulullah pada usia 15 tahun, bahkan kejadian yang paling fenomenal adalah ketika perang Hunain, pada waktu itu banyak umat islam yang lari dari peperangan, karena kondisi terdesak oleh tentara musuh, akan tetapi Usamah bin Zaid tetap bertahan dan berperang bersama Rsuullah SAW melawan orang-orang Qurais Mekah; bahkan menjadikan dirinya tameng Rasulullah SAW dari serangan senjata orang Qurais Mekah.

Pada tahun 11 Hijriyah Rasulullah SAW memerintahkan pada Usamah bin Zaid, agar memimpin tentara membebaskan kota Romawi, terutama kota Balqa’, Qol’ah, Syria dan Mesir, salah satu pasukan perang yang ada di bawah pimpinannya adalah Abu Bakar al-Shiddiq, Umar bin Khattab, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abu Ubaidah bin Jarrah, padahal pada waktu itu umurnya masih belum sampai 20 tahun.

Usamah bin Zaid melaksanakan perintah Rasulullah dengan baik, dengan cara mempersiapkan tentara dengan baik dan mempersiapkan segala kebutuhan tentara untuk pembebasan kota Romawi, tapi tiba-tiba Rasulullah SAW sakit keras, sehingga Usamah bin Zaid menangguhkan keberangkatannya, menunggu sampai Rasulullah SAW betul-betul sehat.

Lalu Usamah bin Zaid menemui Rasulullah dan ternyata beliau sakit keras. Usamah bin Zaid bercerita “ketika Rasulullah sakit aku menemui Rasulullah, lalu aku mendapatkan beliau dalam kondisi sakit keras, beliau diam dan tidak bicara, Rasulullah mengangkat tangannya ke atas, lalu meletakkan tangannya padaku, aku paham, bahwa Rasulullah SAW sedang mendoakan aku kepada Allah,”

Baca Juga:  Swasembada Sumberdaya NU Lumajang

Setelah Rasulullah wafat, maka Abu Bakar diangkat sebagai Khalifah melaksanakan tugas-tugas yang dilaksanakan oleh Rasulullah berkenaan dengan urusan umat Islam, yang diantaranya melanjutkan pembebasan kota Romawi.

Banyak sahabat Nabi Muhammad SAW yang berpikir supaya keberangkatan tentara Usamah bin Zaid supaya ditangguhkan sampai kondisi Madinah betul-betul baik, bahkan Umar Bin Khattab mengharapkan supaya kepemimpin Usamah bin Zaid diganti dengan sahabat yang lebih senior dan lebih dewasa, lalu dia menemui Abu Bakar, lalu dia berkata pada Abu Bakar al-shiddiq “Wahai Abu Bakar, hendaknya engkau mengganti Usamah bin Zaid dengan pimpinan perang yang lebih dewasa”, Lalu Abu Bakar marah dan berkata “Wahai Umar, apakah saya akan memecat pimpinan tentara yang telah ditetapkan Rasulullah? Demi Allah, saya tidak akan pernah melakukan hal itu”  Lalu Umar bin Khattab pulang menemui masyarakat dan menyampaikan bahwa Abu Bakar tetap menetapkan apa yang dilakukan Rasulullah SAW, bahwa tentara perang tetap dipimpin oleh Usamah bin Zaid.

Usamah bin Zaid mempersiapkan keberangkatannya menuju Romawi dengan mempersiapkan tentara dengan baik dan alat perang yang lengkap serta bekal yang dibutuhkan. Keberangkatan Usamah bin Zaid dilepas oleh Abu Bakar As Siddiq dan Abu Bakar meminta izin pada Usamah bin Zaid agar Umar Bin Khattab tidak ikut serta berperang ke Romawi, karena dia dibutuhkan menemani Abu Bakar di Madinah dalam rangka menyelesaikan urusan umat Islam di Madinah.

Baca Juga:  Ustadz Itu Pengabdian, Bukan Pekerjaan

Usamah bin Zaid menerima permintaan Abu Bakar, Umar bin Khatab tidak ikut perang ke Romawi. Usamah bin Zaid berangkat menuju Romawi dengan membawa tentara yang tangguh dan jumlah yang banyak. Usamah bin Zaid menjalankan missinya dengan baik, sehingga berhasil membebaskan Romawi, terutama, terutama Balqa’, Qal’ah Darum, Syiria, Mesir dan Afrika Selatan.

Hikmah yang diambil bisa dari kisah kehidupan Usamah bin Zaid adalah seorang muslim (1) Harus cinta pada Allah cinta dan RasulNya melebihi mencintai dirinya sendiri, (2) Bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, dengan melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya, (3) Mempunyai keberanian yang luar biasa dalam rangka menegakkan kebenaran, menegakkan keadilan dan memperjuangkan kejayaan Islam dan umat Islam, (4) Orang yang bertakwa kepada Allah dan berjuang di jalan allah SWT semata-mata mengharapkan ridho Allah, maka Allah akan selalu menolongnya dan melindunginya dari segala hal-hal yang merugikannya.

Wallahu A’lam Bishawab


Penulis Dr. KH. Abdul Wadud Nafis, Lc., MEH, (Rais Syuriyah MWC NU Kedungjajang, Lumajang)