Rumah Sahabat Abu Ayyub, Rumah Pertama Yang Di Tempati Rasulullah SAW Ketika Hijrah ke Madinah

oleh -dibaca 748 orang
Rumah Sahabat Abu Ayyub, Rumah Pertama Yang Di Tempati Rasulullah SAW Ketika Hijrah ke Madinah

Nama lengkapnya Sahabat Abu Ayyub Al Anshari adalah  Khalid bin Zaid Bin Tsabit al-anshari, beliau adalah sahabat yang sangat terkenal dan mulia, karena rumahnya ditempati Nabi Muhammad SAW ketika hijrah ke Madinah.

Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah para sahabat Anshar sangat mengharapkan rumahnya ditempati Nabi Muhammad SAW, ketika Nabi Muhammad SAW  sampai di Madinah para sahabat berusaha mendekati Rasulullah, supaya rumahnya ditempati.

Rasulullah menolaknya dengan lemah lembut,  tetapi Rasulullah  menggunakan cara yang sangat baik dan sangat adil dalaam menentukan rumah yang akan ditempatinya, yaitu dengan cara melepaskan unta yang ditungganginya, diamana unta  berhenti di situlah akan dibangun masjid dan  rumah tempat Rasulullah tinggal.

Unta yang ditunggangi Rasulullah SAW dilepas, lalu  berjalan melewati berapa rumah sahabat nabi,  para sahabat mengikutinya di belakang unta dan sambil mengharap unta berhenti di rumahnya,  agar nanti ditempati oleh Rasulullah SAW.

Unta   terus berjalan dan berjalan menelusuri gang-gang madinah dan melewati rumah-rumah sahabat, ketika unta melewati rumah mereka,  hatinya mengharapkan unta berhenti di rumahnya, tapi ketika unta sudah melewati rumahnya hatinya  putus asa untuk  bisa ditempati Rsulullah SAW.

Unta terus berjalan, sehingga  pada akhirnya unta yang ditunggangi Rasulullah berhenti di sebuah halaman kosong bertepan  di halamannya rumah Abu Ayyub Al Anshari.

Setelah unta berhenti di depan rumah Abu Ayyub, Abu Ayyub sangat bahagia, seakan-akan dia memiliki dunia beserta isinya, ketika memindah barang-barang bawaan Rasulullah SAW dari unta pindah ke rumahnya merasa seperti memindah dunia beserta isinya, karena  saking bahagianya, rumahnya ditempati Rasulullah.

Setelah unta berhenti di halaman rumah Abu Ayyub, Abu Ayyub mengajak Rasulullah SAW   ke rumahnya, Rasulullah SAW menerima ajakan Abu Ayyub. Abu Ayyub menghormatinya dengan penghormatan yang sangat tinggi dan memuliakannya setinggi-tingginya serta melayani dengan baik dan penuh lemah lembut.

Baca Juga:  Kyai Sulthon Didoakan Dibersamakan dengan Mbah Maimun Zubair

Rumah Abu Ayyub terdiri dari dua lantai, lantai bawah dan lantai atas, dia meminta pada Rasulullah SAW, agar menempati lantai di atas, karena sungkan pada Rasulullah SAW, apa bila dia ada di atas, sedangkan Rasulullah SAW ada di bawah.

Tetapi Rasulullah  SAW menolaknya, karena banyak tamu yang datang padanya, untuk bertamu, meminta bimbingan agama. Abu Ayyub  berusaha merayu Rasulullah, supaya mau menempati di lantai dua, tetapi Rasulullah SAW tetap menolaknya, karena kasihan kepada para sahabat-sahabat yang ingin bertemu nabi.

Abu Ayyub terpaksa tinggal di lantai dua dengan hati yang sangat berat, karena merasa sungkan, jika dia berada diatas Rsulullah SAW, lalu dia bersama istrinya tidur di pinggir yang jauh dari Rasulullah SAW. Abu Ayyub beserta istrinya  semalam suntuk tidak bisa tidur, karena hatinya merasa sungkan kalau dia ada di atas Rasulullah atau menghalangi antara Rasulullah dengan wahyu.

Pada pagi harinya Abu Ayyub menemui Rasulullah SAW,  “Wahai Rasulullah, kami dan istriku tidak bisa tidur semalam suntuk,” Cerita Abu Ayyub pada rasulullah.

“Mengapa engkau tidak bisa tidur,” tanya Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, kami di atas, sedangkan engkau ada di bawah, ketika aku bergerak debu jatuh kepada engkau, dan aku menghalangi antara engkau dan hahyu,” jelaskan Abu Ayyub.

“Tenangkan hatimu, wahai Ayyub, saya merasa lebih cocok ada di  bawah, karena banyak tamu yang menemuiku,” jelaskan Rasulullah SAW.

Abu Ayyub  terus-menerus merayu Rasulullah, supaya bersedia pindah ke atas, tetapi Rasulullah SAW menolaknya, dengan alasan karena banyak sahabat yang datang padanya, kasihan mereka jikalau harus naik keatas.

Baca Juga:  Laila: Jangan Tertipu Berita Bohong Muslim Uighur, Berikut Faktanya

Pada malam kedua Abu Ayyub bersama istrinya tidur di lantai dua, sedangkan suasana cuaca sangat diingin, tiba-tiba guci wadah air pecah dan airnya mengalir, lalu segera mengepelnya dengan selimut yang dimilikinya, padahal selimut itu satu-satunya selimut yang dimilikinya, yang digunakannya  melindungi dirinya dari dinginnya udara malam yang sangat dingin.

Pada pagi harinya menemui  Rasulullah SAW, menceritakan tentang hal yang menimpa pada dirinya pada malam hari, lalu meminta pada Rasulullah, agar bersedia pindah ke lantai dua. Lalu Rasulullah SAW menerima permintaan Abu Ayyub, dan Rasulullah pindah ke lantai dua.

Rasulullah SAW tinggal di rumah Abu Ayyub selama tujuh bulan, sampai selesainya pembangunan masjid Nabawi dan  rumah tempat tinggal Rasulullah. Selama Rasulullah SAW berada di rumah Abu Ayyub, dia  memuliakan Rasulullah SAW,  menghormatinya dengan penghormatan setinggi-tingginya dan melayaninya dengan pelayanan sebaik-baiknya.

Abu Ayyub sangat mencintai Rasulullah SAW melebihi mencintai dirinya dan keluarganya.

Yang bisa diambil pelajaran dari cerita ini, seorang yang beriman kepada Allah dan rasulnya harus mencintai Rasulullah SAW melebihi mencintai dirinya dan mentaati Rasulullah apa yang diperintahkan-nya dan mengikutinya apa yang dicontohkannya, mendahulukan kepentingan Rasulullah SAW diatas kepentingan pribadi, dan kepentingan perjuangan Islam lebih didahulukan daripada kepentingan pribadinya serta rela berkorban demi Rasulullah SAW dan demi agama yang dibawa olehnya,   sehingga rela mengorbankan hartanya dan jiwanya demi memuliakan dan menghormati Rasulullah SAW.

Wallahu a’lam bis shawab.

Penulis adalah Dr. H. Abdul Wadud Nafis, Lc., MEH, Rais Syuriyah MWC NU Kedungjajang, Lumajang