Menanamkan Cinta Tanah Air dengan Syair Subbanul Wathon

oleh -dibaca 120 orang
Menanamkan Cinta Tanah Air dengan Syair Subbanul Waton

Pembiasaan-pembiasaan positif yang dapat menanamkan sikap dan rasa cinta tanah air dalam diri anak salah satunya adalah dengan membiasakan mereka selalu mendengungkan syi’ir legendaris karya Ulama’ Nusantara yakni Syi’ir Syubbanul Whaton disetiap kesempatan, terutama ditempat mengaji mereka.

Sejarah mencatat bahwa syi’ir hasil gubahan Kiyai Wahab Chasbullah adalah sebuah idedium beliau yang dimaksudkan untuk membangkitkan semangat rakyat untuk terus melawan penjajah dari segala lini. Semangat kiyai Abdul Wahab muda sekitar tahun 1914 setelah pulang dari menuntut ilmu di Mekkah merasa tidak bisa memaksimalkan seluruh kemampuan berpikir dan bergeraknya saat menjadi salah satu bagian dari Syarikat Islam (SI) dengan tokoh utamanya Haji Oemar Said Tjokroaminoto (1883-1934 M).

Beliau merasa tidak puas jika tidak mendirikan organisasi sendiri karena SI lebih fokus hanya keranah politik, sedangkan beliau berkeinginan tumbuhnya rasa Nasionalisme dikalangan pemuda melalui kegiatan pendidikan.

Singkatnya pada tahun 1916, KH Wahab Chasbullah berhasil mendirikan perguruan Nahdlatul Wathan atas bantuan beberapa kiai lain dengan dirinya menjabat sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan). Sejak saat itulah Nahdlatul Wathan dijadikan markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air (Choirul Anam, 2010: 29).

Baca Juga:  Warisan Laskar Diponegoro, Inilah Sejarah Singkat Masjid Agung KH. Anas Mahfudz Lumajang

Beliau bahkan mewajibkan kepada para murid diharuskan terlebih dahulu sebelum proses pembelajaran dimulai menyanyikan Syi’ir Syuubbanul Whaton dalam bahasa Arab ciptaan Mbah Wahab sendiri. Kini lagu tersebut sangat populer di kalangan pesantren dan setiap kegiatan Nahdlatul Ulama (NU), yakni Yaa Lal Wathan yang juga dikenal dengan Syubbanul Wathan (pemuda cinta tanah air).

Dan bagaikan energi halus yang masuk kedalam sanubari, Benih-benih cinta tanah air ini akhirnya bisa tumbuh menjadi energi positif bagi rakyat Indonesia terutama para pemuda secara luas sehingga perjuangan tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi pergerakan sebuah bangsa yang cinta tanah airnya untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan.

Berikut adalah Syi’ir Syubbanul Whaton:

يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن
حُبُّ الْوَطَن مِنَ الْإِيْمَان
وَلَا تَكُنْ مِنَ الْحِرْمَان
اِنْهَضُوْا أَهْلَ الْوَطَن
إِنْدُونَيْسيَا بِيْلَادِيْ
أَنْتَ عُنْوَانُ الْفَخَامَا
كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْمَا
طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا

Baca Juga:  Menjaga Agama Dengan Menjaga Sanad Keilmuan

“Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah, hai bangsaku!
Indonesia negriku
Engkau Panji Martabatku
S’yapa datang mengancammu
‘Kan binasa dibawah dulimu!”

Beliau telah membuktikan bahwa internalisasi semangat nasionalisme sangat efektif diwujudkan melalui bidang pendidikan. Hal ini dilakukan oleh beliau dengan masif di berbagai pesantren sehingga peran kalangan pesantren sendiri diakui oleh dr Soetomo (Bung Tomo) sebagai lembaga yang sangat berperan dalam membangun keilmuan kokoh bagi bangsa Indonesia sekaligus dalam pergerakan nasional untuk mewujudkan kemerdekaan.

Saat ini Indonesia sudah merdeka, namun ancaman dan rongrongan dari luar dan dalam negri bukan berarti tidak ada. Ancaman Liberalisme dan Radikalisme bahkan semakin gencar dan mengancam ideologi para pemuda dan ini tentunya mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, pemupukan cinta tanah air harus selalu digencarkan sejak dini kepada anak-anak dengan pembiasaan menyanyikan syi’ir Syubbanul Whaton dimadrasah madrasah, TPQ, MADIN dan majlis-majlis Ta’lim.


Ditulis oleh: Sufyan Arif
Penulis aktif di Jam’iyatul Qurra wal Huffadz NU Lumajang