PONDOK PESANTREN MIFTAHUL MIDAD LUMAJANG

oleh -dibaca 829 orang

Sejarah Pondok Pesantren Miftahul Midad

Berawal dari motivasi dan desakan para alumni santri sang ayahanda KH. Anas Abdul Halim (Kiai Abdul Halim) untuk mewujudkan cita-citanya mendirikan pondok pesantren, maka KH. Anas Abdul Halim dengan tekat bulat mendirikan PP. Miftahul Midad Sumberrejo Sukodono Lumajang guna meng”istiqomah”kan diri terhadap agama Islam. Berkat dari munajat kepada Allah dan ikhtiar KH. Anas Abdul Halim pada tahun 1986 ada seorang warga menawarkan sebidang tanah 750 m² sebagai tanah waqaf. Namun perjalanan beliau dalam merintis tidaklah mudah, beliau selalu memohon kepada Allah SWT diantaranya dengan jalan selalu berziarah pada makam abahnya dan makam para auliya’ sebagai alat bantu doa menuju kesuksesan.

Pendiri Pondok Pesantren Miftahul Midad

Situasi dan kondisi masyarakat sekitar yang sangat memprihatinkan terutama tentang etika dan akhlak masyarakat yang rusak. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya penyakit-penyakit masyarakat seperti prostitusi, mabuk-mabukan, pencurian dan perjudian. Adanya peluang tanah waqaf di daerah Sumberejo kepada pondok KH Anas Abdul Halim. Cita-cita dan semangat juang KH Anas Abdul Halim untuk menegakkan Agama Islam dan mengamalkan ilmu yang telah didapatnya. (Wawancara dengan Gus As’ad).

Pada awal berdirinya PP. Miftahul Midad ditandai dengan adanya papan nama berisi tulisan “Disini akan dibangun Pondok Pesantren”. Pemberitahuan itu disambut baik oleh masyarakat Sumberejo yang mendapat hidayah dari Allah SWT, di tengah-tengah kesunyian perkampungan dan bersebelahan dengan Dusun Sekar Putih yang terkenal dengan sarang maksiat. Pada hari Rabu 30 November 1988 KH. Anas Abdul Halim meletakkan batu pertama pendirian PP. Miftahul Midad yang disaksikan oleh KH. Ismam (pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikam), KH. Basyuni (Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Pulosari), Kepala Desa Sumberejo beserta pengurus dan warga masyarakat Sumberejo yang senang dengan adanya pondok pesantren. Mengingat PP. Miftahul Midad yang akan didirikan berada di tengah-tengah kesunyian yang jauh dari perumahan penduduk Desa Sumberejo seringkali menjadikan desa tersebut sebagai tempat kemaksiatan. Seperti halnya berjudi, minum-minuman keras, dan tempat perzinaan.  Dengan demikian, hal itu merupakan tantangan yang sangat besar bagi KH. Anas Abdul Halim untuk amar ma’ruf nahi munkar di daerah tersebut.

Baca Juga:  Nyai Hj. Azimah Abdullah Tutup Usia

Pondok Pesantren tersebut diberi nama “Miftahul Midad” yang mempunyai arti kunci pertolongan. Hal tersebut menunjukkan adanya etika santri sebagai kader Islam yang mempunyai solidaritas tinggi, berwawasan luas, memikirkan kaum yang lemah dan membebaskan umat dari kebodohan. Pada awal pembangunannya KH. Anas Abdul Halim membangun musholla putra dan asrama sebelah selatan musholla (sebagai tempat istirahat santri). Pada waktu itu dalam keadaan kekurangan akan modal yang beliau punyai. Selain dengan modal tawakal dan keyakinan yang kuat kepada Allah SWT akhirnya Allah SWT membuka rizkinya, banyak orang yang tidak dikenal berdatangan untuk membantu dalam menyelesaikan bangunan tersebut.

Beliau bersama tiga santri putra hidup dalam kesederhanaan yang pada waktu itu KH. Anas Abdul Halim dalam keadaan miskin tidak punya apa-apa dan penuh cobaan yang dihadapi, ironisnya makanan yang dimakan untuk esok harinya pun tidak ada. Namun pendirian beliau sangat teguh, apapun rintangan dan cobaannya beliau hadapi dengan kesabaran dan tawakal kepada Allah SWT. Pada tahap berikutnya santri semakin hari semakin bertambah, sementara tempat kurang memungkinkan. Beliau (KH. Anas Abdul Halim) menambah kamar lagi sebelah timur musholla (sekarang menjadi kantor PP. Miftahul Midad), juga merupakan tempat atau kediaman KH. Anas Abdul Halim beserta keluarganya.

Santri putri mulai bermunculan sehingga mau tidak mau beliau harus menambah kamar guna menyediakan tempat untuk mereka beristirahat, belajar dan lai-lain. Atas ma’unah dari Allah dan tidak lepas dari do’a kaum muslimin, pembangunan dapat dilaksanakan dengan lancar. Santri yang mondok pada awal pembukaan PP. Miftahul Midad adalah santri yang tahu rasa pahitnya dalam perjuangan membangun pondok pesantren ini, sebagaimana yang dirasakan oleh KH. Anas Abdul Halim. Berjalan dengan lanjutnya perkembangan pondok pesantren ini beliau mulai membuka pengajian yang pertama bersama masyarakat Sumberejo. Pengajian ini dihadiri oleh gurunya KH. Anas Abdul Halim yaitu Kiai Jauhari Jawawi pengasuh Pondok Pesantren Assunniyah Kencong Jember.

Kemudian pada tahun 1993 setelah pondok pesantren mengalami perkembangan yang cukup pesat, beliau mempunyai pemikiran bahwa para santri yang mondok di pesantrennya tidak mungkin menjadi kiai semua, kemungkinan lain ada yang menjadi guru, pegawai negeri, petani, pengusaha dan lain-lain. Maka beliau membuka program Kejar Paket B yang dibuka oleh Bapak Muflih Faris asisten II kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tingkat II Lumajang. Dengan dibukanya proses belajar mengajar ini menunjukkan bahwa PP. Miftahul Midad merupakan pesantren yang dinamis dan membuka potensi bagi santri untuk mempelajari ilmu duniawi dan ukhrawi.

Baca Juga:  Dua Santri Asal Lumajang Sabet Beasiswa PWNU Jawa Timur

Anas Abdul Halim, ketika mendirikan pondok pesantren ini didasari dengan dukungan dari alumni santri abahnya yaitu Kiai Abdul Halim, untuk mewujudkan cita-cita dari orang tuanya, maka KH. Anas Abdul Halim mendirikan pondok pesantren guna untuk mengistiqomahkan diri dan mengamalkan ilmu yang diperolehnya. Waktu demi waktu berlalu telah dilewati, perkembangan PP. Miftahul Midad semakin terlihat. Pada tahun 1995 KH. Anas Abdul Halim mendirikan pendidikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) hingga pada tahun 1996 berhasil meperluas area dangan membeli lahan 1 Ha di sekelilingnya dan dilanjutkan dengan membuka Madrasah Aliyah (MA) Miftahul Midad.

Miftahul Midad telah banyak mencetak kader-kader Islam yang berkualitas dan ini terbukti bahwa alumni pondok tersebut banyak yang berhasil. Keberhasilan itu dapat dilihat dari potensi-potensi yang dikembangkan pada alumni dalam kehidupan masyarakat dimana mereka banyak yang menjadi tokoh masyarakat, da’i, guru atau dosen, dan lain-lain yang berguna di masyarakat.

Daerah disekitar pesantren tersebut sekarang menjadi daerah yang damai dan menanamkan etika keagamaan yang tinggi. Ini tampak pada aktivitas masyarakat yang penuh dengan nuansa Islami, seperti diadakan pengajian di pesantren ini setiap malam rabu masyarakat Sumberejo banyak yang mengikuti kegiatan tersebut. Di samping itu pengajian-pengajian dan kegiatan shalawatan di setiap mushalla yang berada di sekitar pesantren khususnya Desa Sumberejo yang secara rutin dilaksanakan. Pendidikan generasi muda pun berkembang secara pesat dengan didirikannya sekolah MTs dan MA di daerah tersebut.

Disarikan dari Skripsi Taufik Ardiansyah, UIN Malang, Alumni Pondok Pesantren Miftahul Midad.