Lakukan Penguatan Idiologi, LP Ma’arif Kumpulkan Ratusan Kepala Madrasah

oleh -Dibaca oleh 94 Warga NU
Berobat ke Klinik NU Lumajang

Sumberejo – Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Lumajang mengumpulkan ratusan kepala madrasah Ma’arif di kantor Pengurus Cabang Nahdaltul Ulama (PCNU) Lumajang, Rabu (11/09/19). Hal ini dilakukan, selain pembinaan dalam peningkatakan mutu sekolah, juga penguatan idiologi Aswaja NU.

Hadir dalam acara itu, Ketua PCNU Lumajang, Gus Mas’ud, Ketua LP Ma’arif, Moh. Yamin, PLT Dinas pendidikan Lumajang, Kemenag Lumajang dan ratusan kepala sekolah Maarif se-Lumajang. Baik dari tingkat Taman Kanak-kanak maupun dari Sekolah Menengah Atas (SMA).

Menurut Ketua LP Ma’arif Lumajang Moh. Yamin, acara ini merupakan agenda penting dari lembaganya, yaitu mengumpulkan para kepala sekolah Ma’arif. Mengingat tantangan zaman bagi dunia pendidikan makin tinggi.

Advertisements
Lazisnu Lumajang
Baca Juga:  PCNU Lumajang Himbau Warga NU Menyambut Tahun Baru Islam

“Salah satu yang ditekankan dalam pertemuan ini dalam peningkatan mutu bagi sekolah. Caranya, dengan melakukan perbaikan-perbaikan sumber daya manusianya,” tuturnya.

Harapannya, Sekolah-sekolah dibawah Ma’arif ini akan menjadi rujukan sekolah masyarakat Lumajang. Bukan lagi dari lembaga lainnya.

“Kami inginkan, sekolah Ma’arif akan menjadi barometer kualitas pendidikan di Lumajang. Karena ada beberapa lembaga Ma’arif telah diperhitungkan dalam kancah kabupaten,” jelasnya.

Selain itu, tak kalah pentingnya penanaman idiologi bagi para guru dan siswa didik di sekolah-sekolah. Mengingat ancaman idilogi diluar Aswaja terus menggerogoti. LP Maarif meminta betul pada sekolah-sekolah tetap berkomitmen dalam naungan Aswaja NU.

Baca Juga:  LFNU Rencanakan Safari Falak ke MWC, Pesantren dan Madrasah

“Selain acara di tempat ini, LP Ma’arif akan membentuk tim turun ke sekolah-sekolah guna melihat idiologisiasi di sekolah,” terangnya.

Tim akan mengevaluasi madrasah yang sudah meninggalkan tradisi NU atau tidak. Misal sebelum sekolah melakukan istighosah, pembacaan tahlil pada hari jumat, dan melakukan pelatihan pembacaan qunut saat sholat subuh.

“LP Ma’rif meminta pada sekolah-sekolah Ma’arif agar tetap melestarikan tradisi-tardisi tersebut. Sehingga salah satu indentitas ke NU-annya tetap terjaga di masyarakat,” pungkasnya. (Ahmad)