Kampaye Lingkungan, Ketua Lesbumi dan Lakpesdam NU Sampaikan Ini

oleh -Dibaca oleh 43 Warga NU
Kampaye Lingkungan, Ketua Lesbumi dan Lakpesdam NU Sampaikan Ini
Sumber Foto: https://www.facebook.com/yuli.haris.5
Berobat ke Klinik NU Lumajang

Lumajang – Kiprah Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) dan Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Masyarakat ( Lakpesdam) NU Lumajang terus menebar kebaikan. Kali ini, Dua lembaga di Pengurus Cabang (PC) NU Lumajang ini didapuk menjadi pemateri dalam diskusi Festival Ekologi Kali asem, di bantaran sungai stempat, sabtu (07/09/19). Tujuannya, Kedua lembaga ini memberikan sudut pandang lain dalam memahami persoalan lingkung di Kali Asem.

Menurut Ketua Lakpesdam, Muhammad Farid, kondisi sungai kali asem memang sangat memperihatinkan. Selain airnya mulai mengecil, juga banyak sampah dan limbah air membahayakan dibuang ke sungai yang membelah kota Lumajang tersebut.

“Maka cara penanganannya, tak hanya dengan cara-cara parsial. Tapi harus secara menyeluruh. Semua elemen masyarakat harus terlibat,” ungkapnya usai memberikan materi dalam diskusi tersebut.

Advertisements
Lazisnu Lumajang
Baca Juga:  Peduli Lingkungan, PCNU Lumajang Manfaatkan Daun Jati Sebagai Bungkus Daging Kurban

Salah satu pendekatan dalam menangani sungai Kali Asem ini harus dengan pendekatan agama. Masyarakat tidak lagi memandang agama hanya dari aspek ibadah dan sosial saja. Tapi yang terpenting juga masalah ekologi atau lingkungan. Karena Alquran maupun Hadist telah menegaskan, manusia diperintah menjaga lingkungan.

“Disinilah, dimensi epistemologi trasedentalnya, manusia harus peduli pada lingkungan sekitar. Apalagi dalam musim kemarau ini, berapa wilayah Lumajang dilanda kekeringan. Sedangkan dikota krisis pencemaran lingkungan,” terangnya.

Berbeda  dengan Farid,  Ketua Lesbumi Dermawan Setibudi, S.Pd, memberikan kacamata lain dalam menangani lingkungan ini. Dia berpandangan, tak hanya agama yang menjadi penentunya, tapi juga faktor budaya masyarakat.

“Perlu dingat, peradapan besar juga tak luput dari adanya sungai. Mulai dari kerajaan Majapihit, Sriwijaya, termasuk kerajaan Lumajang kuno dengan sungai Bondoyudonya,” tegasnya.

Baca Juga:  LDNU Lumajang Hadiri Acara Majlis Dzikir dan Sholawat

Budaya memiliki peran penting dalam menangai krisis lingkungan di sungai Kali Asem tersebut. Apalagi mainset masyarakat kebanyakan telah berubah. Jika dulu sungai menjadi halaman rumah, tapi sekarang rumah lebih memilih menghadap ke jalan raya.

“Akibatnya, sungai berada dibelakang rumah. Kondisi seperti ini, menunjukkan sungai hanya dijadikan tempat belakang. Atau sering hanya menjadi tempat pembuangan sampah,” argumennya.

Sementara itu itu, ketua panitia M Mahrus, kegiatan ini bentuk keprihatinan anak muda atas kondisi kali asem. Dari obrolan anak-anak muda ini muncullah ide menggelar festival Ekologi Kali Asem tersebut.

” Ya, tujuan untuk kampaye kepedulian kali Asem. Karena kondisi airnya sangat memperihatinkan. Guna meramaikan kampaye ini, banyak elemen dilibat dalam kegiatan tersebut. Termasuk dari PCNU dan Lembaga-lembaganya,” Pungkasnya.