LDNU dan LTMNU Peringati Tahun Baru Islam di Masjid Babussalam Randuagung

oleh -dibaca 138 orang
LDNU dan LTMNU Peringati Tahun Baru Islam di Masjid Babussalam Randuagung

Randuagung – Kalau lembaga yang lain merayakan tahun baru Islam dengan pawai obor, tidak dengan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dan Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Lumajang. Justru mereka mengisi acara menyambut tahun baru hijriah ke-1441 ini dengan kegiatan memakmurkan masjid Babus Salam Randuagung kabupaten Lumajang.

Menurut ketua LDNU Lumajang, Kyai Wahib, lembaganya bersama LTMNU memang mengambil cara lain dalam menyambut tahun baru Islam tahun 1447 Hijriyah.

” Untuk tahun ini, kami bersinergi dengan LTMNU memakmurkan masjid-masjid NU. Harapannya, masjid-masjid itu makin optimal manfaatnya,” ungkap kyai yang berkacamata ini.

Baca Juga:  LTN NU Lumajang Tingkatkan Kualitas Para Jurnalis Milenial NU

Berbagai macam kegiatan di dalam terbesar di kecamatan Randuagung ini. Mulai sholat subuh berjamaah, ceramah agama hingga bakti sosial.

Untuk ceramah agama, Kyai Norkhotib menjadi penceramahnya. Ketua LTMNU ini mengajak warga NU berlomba-lomba memakmurkan masjid. Baik sholat berjamaah maupun kegiatan lainnya.

“Kegiatan yang berwawasan Aswaja. Karena cara ini akan menjadi benteng dalam melawan pahaman lain,” tiru da’i yang telah malang melintang di Lumajang ini.

Karena jamaah masjid tampak khusuk, ceramah pun dilanjutkan ketua LDNU. Dia mengulas tentang makna hijrah. Ada tiga makna dalam memperingati satu Muharram ini.

Baca Juga:  PC LDNU Lumajang Gelar Ngaji Al-Qur'an

LDNU dan LTMNU Peringati Tahun Baru Islam di Masjid Babussalam Randuagung

Pertama hijrah Jinsinyah. Yaitu hijrah yang memaknai semua manusia memiliki kedudukan dan harkat martabat yang sama di buka bumi.

“Kedua hijrah syaqiwiyah. Ini memaknai setiap manusia memiliki kebebasan dalam bertindak dan berkarya. Meski dalam koridor paham ahlussunah wal jamaah,” terangnya di depan parah jamaah masjid.

Terakhir, hijrah islami. Dimana semua Islam harus mendekatkan diri kepada Allah. Caranya dengan banyak ibadah dan amalan baik lainnya.

” Inilah kakikat manusia. Manusia diciptakan hanya untuk menyembah sang penciptanya,” pungkasnya. (ahmad)