Memaknai Ekspansi Digitalisasi Budaya

oleh -Dibaca oleh 108 Warga NU
ikbal zamzami LBH NU Lumajang
Ikbal Zamzami
Berobat ke Klinik NU Lumajang

Oleh : Ikbal Zamzami

Dulu kita mengenal telpon rumah. Entitas ini kita anggap “benar” kala itu. Setelah itu merebak wartel di mana-mana. Juga kita anggap “benar”. Semua ini kemudian terdekonstruksi sedemikian rupa hingga kini kita kenal alat komunikasi yang “paling benar” yakni handphone.

Itupun “kudu” Android. Perangkat yang lalu sudah “lari” lintang pukang. Kebenaran, akhirnya kita yakini adalah sebuah perjalanan. Ia membawa redaksinya sendiri sebagai amunisi. Kutip teman saya…

Advertisements
Lazisnu Lumajang

Rumusannya adalah; tak ada hidup dijaman kekinian tanpa android. Ekspansionis digital begitu berhasil sesanding dengan perjalanan waktu. Ajaran tak lagi bersifat mushaf, semua bersifat digitalisasi. Bahkan konstruksi gagasan manusia didesign macam “otak robot” yang membutuhkan remote kontrol.

Baca Juga:  Kyai Sulthon Didoakan Dibersamakan dengan Mbah Maimun Zubair

Sedangkan kita hari ini masih disibukkan dengan hal yang berbau dogmatik, mitos dan mistis.

Peranan dogma, doktrin tak lagi masuk pada narasi ideologis. Itu yang dikembangkan bagi negara semacam “Jepang” yang menganggap industri adalah tawaran pengganti agama yang realistis.

Tentu spirit dialektika bagi Jepang tak bersumber pada ajaran yang absurd. Semua nampak jelas betapa pentingnya nilai produksi pengetahuan manusia sebagai penanding Tuhan.

Baca Juga:  Menanamkan Cinta Tanah Air dengan Syair Subbanul Wathon

Lalu kita disini anggap pentingnya kebutuhan android (HP) hanya sebagai alat menstranformasikan ide, alat pengganti interaksi sosial (silaturrahim).

Ini yang terjadi di kehidupan kita. Tanpa disadari jelmaan “industri/ tekhnologi” mulai mengikis budaya kunjung kesesamanya.

Disadari atau tidak, secara tidak langsung kita harus mengakui bahwa; budaya kita (manusia) juga sudah terdigitalisasi.

Lalu kelak kita (Manusia) berposisi sebagai apa di planet bumi ini???

________________________________
Penulis adalah Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LBH NU) Kabupaten Lumajang