Politik Kekerasan Pengusung Khilafah Ciderai Nilai Kemanusiaan

oleh -dibaca 136 orang
Politik Kekerasan Pengusung Khilafah Ciderai Nilai Kemanusiaan

Oleh: Fawaid Jazuli *)

Sejatinya penggiringan opini dengan membenturkan agama, budaya dan bentuk negara yang sudah final merupakan tindakan kekerasan politik non fisik yang menggerogoti manusia berpemahaman sempit tentang sejarah dan berdirinya sebuah bangsa.

Jika khilafah adalah sebuah upaya yang nantinya akan menerapkan hukum Islam (syariah) yang mengatur segala interaksi sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Sepertinya itu suatu hal kecil untuk meredifinisi bangsa ini yang dibangun dengan sejarah penyebaran islam hingga menjadi bangsa dengan pemeluk Islam terbesar didunia tanpa diawali dengan pertumpahan darah.

Jika konsep khilafah itu sejalan dengan ideologi bangsa, tapi faktanya, pemerintah lewat Perppu, pemerintah tak hanya membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagai organisasi yang mengusung ideologi khilafah, dan juga berusaha menyingkirkan ideologi atau gagasan yang diusung organisasi tersebut, tapi bukan berarti keberadaannya sudah habis tak tersisa.

Baca Juga:  SANTRI, MODERASI DAN DEMONSTRASI

HT akan membentuk embrio-embrio mengisi ruang kosong dan menjadi saluran perlawanan masyarakat dan kelompok-kelompok etnis tertentu yang miskin dan tertindas dengan memanfaatkan perkembangan media sosial untuk menarik simpati dan merekrut anggota baru.

Usaha pengusung khilafah untuk menjauhkan bangsa ini dari peradaban dan budaya bangsa yang dibingkai dalam Bhinneka Tunggal Ika merupakan tindakan menggoyahkan esensi dasar bangsa dengan memberikan makna baru merupakan penghianatan terhadap nurani kemanusiaan.

Realitas sejarah tidak dapat didustai dengan trik-trik politik untuk mengelabui nurani orang banyak. Upaya kelompok radikal yang mengisi ruang untuk memicu konflik dengan selalu mendiskreditkan pemerintah yang mengusung isu keadilan, kesejahteraan bahkan kesukuan dengan target menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap hukum dan pemerintah.

Baca Juga:  Warisan Laskar Diponegoro, Inilah Sejarah Singkat Masjid Agung KH. Anas Mahfudz Lumajang

Tapi bangsa ini sudah dewasa untuk menumpas habis kelompok yang akan merubah ideologi bangsa sebagaimana pemberontakan PKI yang tak tersisa.

Ciri-ciri paling dominan pada kelompok radikal adalah memposisikan dirinya bagai Tuhan, dengan memegang predikat maha benar atas segala fatwanya. Tidak akan pernah ada kata maaf dari mulutnya meski yang lain tersakiti atas ulahnya. Jelas itu adalah kesombongan yang lekat pada dirinya.

Dari sini patut kita pahami betapa bahayanya cara mereka, meski untuk mencapai kuasa harus mengadu domba anak bangsa dengan cara menghapus toleransi dan budaya dengan dalih agama.

Penulis adalah Aktivis Penggiat Desa, juga Koordinator Bidang Media Digital LTN NU Lumajang